Advokasi Desa Ramah Pelayanan Publik: Kolaborasi untuk Transformasi Pelayanan Publik yang Inklusif
Advocacy for Public Service-Friendly Villages: Collaboration for Inclusive Public Service Transformation
Keywords:
Public Service, Advocacy, CollaborationAbstract
Pelayanan publik yang inklusif di tingkat desa merupakan prasyarat penting untuk mewujudkan keadilan sosial. Program Desa Ramah Pelayanan Publik hadir sebagai bentuk advokasi kolaboratif antara Politeknik STIA LAN Bandung, Ombudsman RI Perwakilan Jawa Barat, dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Provinsi Jawa Barat, dengan fokus pada peningkatan kapasitas aparatur desa dalam menghadirkan layanan yang bebas dari diskriminasi dan maladministrasi. Menggunakan pendekatan advokasi kebijakan model Sharma, program ini dilaksanakan di Kabupaten Karawang sebagai wilayah percontohan melalui enam tahapan strategis, mulai dari identifikasi masalah, pembentukan jejaring inti, pemilihan isu strategis, perumusan strategi, pelaksanaan kegiatan inti, hingga evaluasi awal. Intervensi yang dilakukan mencakup deklarasi komitmen desa ramah pelayanan publik, sosialisasi prinsip-prinsip layanan, penyelenggaraan layanan bersama, dan rembug warga, dengan melibatkan pemerintah daerah, aparatur desa, masyarakat, serta media massa. Hasil awal menunjukkan adanya peningkatan kesadaran dan komitmen aparatur desa terhadap prinsip pelayanan publik yang inklusif, yang teridentifikasi dari partisipasi aktif dalam sesi sosialisasi dan kesediaan kepala desa menandatangani deklarasi bersama sebagai bentuk komitmen awal. Temuan lapangan juga menunjukkan bahwa kolaborasi lintas lembaga menjadi faktor pendukung utama pelaksanaan program, sedangkan koordinasi antaraktor dan belum tersedianya instrumen evaluasi yang terstandar masih menjadi tantangan. Oleh karena itu, tindak lanjut diarahkan pada penguatan kapasitas desa, penyusunan instrumen penilaian Desa Ramah Pelayanan Publik, dan advokasi kebijakan agar inisiatif ini memperoleh payung hukum di tingkat provinsi.
Downloads
References
Acharya, K. K., & Zafarullah, H. (2020). Institutionalising federalism in Nepal: operationalising obstacles, procrastinated progress. Public Administration and Policy, 23(2), 125–139. https://doi.org/10.1108/PAP-03-2020-0013
Alam, T., Rashid, M., Saalheen, S., Bano, H., & Kumar, A. (2025). Efficiency and Challenges of Women Leadership in Panchayati Raj Institutions: A Study of Kashmir Valley. Sexuality, Gender & Policy, 8(2). https://doi.org/10.1002/sgp2.70007
Glimmerveen, L., Ybema, S., & Nies, H. (2022). Who Participates in Public Participation? The Exclusionary Effects of Inclusionary Efforts. Administration & Society, 54(4), 543–574. https://doi.org/10.1177/00953997211034137
J. Chapman, & A. Wameyo. (2001). Monitoring and. Evaluating Advocacy: A Scoping Study. . ActionAid.
Liu, Z., de Jong, M., Li, F., Brand, N., Hertogh, M., & Dong, L. (2020). Towards Developing a New Model for Inclusive Cities in China—The Case of Xiong’an New Area. Sustainability, 12(15), 6195. https://doi.org/10.3390/su12156195
Melchiorre, M. G., D’Amen, B., Quattrini, S., Lamura, G., & Socci, M. (2022). Caring for Frail Older People Living Alone in Italy: Future Housing Solutions and Responsibilities of Family and Public Services, a Qualitative Study. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(12), 7413. https://doi.org/10.3390/ijerph19127413
Mutiarin, D., & Lawelai, H. (2023). Optimizing the Role of ICT and Citizen Participation: Analysis of Smart City Governance Implementation in Jakarta, Indonesia and Kuala Lumpur, Malaysia. E3S Web of Conferences, 440, 03027. https://doi.org/10.1051/e3sconf/202344003027
Sharma, Ritu. (2004). Pengantar Advokasi: Panduan Latihan. Yayasan Obor Indonesia.
Published
How to Cite
Issue
Section
Copyright (c) 2026 Rike Anggun Artisa, Rofi’ Ramadhona Iyoega, Cintantya Andhita Dara Kirana, Deni Fauzi Ramdani

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.






