e-ISSN: 2830-2567 | Beranda Jurnal
1 Jurusan Kebidanan, Poltekkes Kemenkes Surabaya, Indonesia
Preeklampsia merupakan komplikasi kehamilan berbahaya dan menjadi penyebab utama kematian ibu di Indonesia sebesar 24,6%. Di Desa Sugihwaras, ditemukan prevalensi preeklampsia sebesar 27% dan ibu hamil dengan faktor risiko mencapai 45,9%, namun kader kesehatan setempat belum pernah mendapatkan pelatihan deteksi dini. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan komunikasi kader dalam deteksi dini preeklampsia. Metode yang digunakan melibatkan 30 kader dengan rangkaian kegiatan meliputi pre-test dan post-test, ceramah, demonstrasi, serta tutorial. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan sebesar 14,4%, di mana 96,6% responden kini memiliki pengetahuan kategori baik. Selain itu, keterampilan komunikasi kader dalam melakukan skrining preeklampsia mencapai kategori sangat baik sebesar 46,67%. Peningkatan ini membuktikan bahwa pelatihan melalui pemberdayaan masyarakat efektif dalam mendukung upaya deteksi dini preeklampsia di tingkat desa.
Preeclampsia is a potentially fatal pregnancy complication and the leading cause of maternal mortality in Indonesia, accounting for 24.6% of cases. In Sugihwaras Village, the prevalence of preeclampsia reached 27%, and 45.9% of pregnant women presented with risk factors, yet health cadres had never received prior training in early detection. This community service activity aimed to enhance the knowledge and communication skills of cadres regarding the early detection of preeclampsia. The method involved 30 cadres and utilized pre- and post-tests, lectures, demonstrations, and tutorials. The results indicated a 14.4% increase in knowledge, with 96.6% of respondents achieving a "good" knowledge level. Additionally, 46.67% of cadres demonstrated "very good" communication skills in preeclampsia screening. These improvements demonstrate that training through community empowerment is an effective strategy for supporting early detection of preeclampsia at the community level.
• Pemberdayaan melalui pelatihan terbukti efektif meningkatkan kapasitas pengetahuan dan keterampilan komunikasi kader dalam melakukan deteksi dini preeklampsia sebagai upaya penguatan skrining kesehatan ibu di tingkat desa.
Preeklampsia merupakan kelainan multisistemik berbahaya yang muncul setelah usia kehamilan 20 minggu dengan indikasi utama berupa hipertensi dan proteinuria (Vigil-De Gracia et al., 2023). Secara global, penyakit ini menyebabkan kematian sekitar 76.000 ibu dan 500.000 janin setiap tahunnya, dengan prevalensi di negara berkembang mencapai tujuh kali lipat lebih tinggi dibandingkan negara maju (POGI, 2016). Di Indonesia, preeklampsia menjadi masalah kesehatan serius karena berkontribusi terhadap 24,6% kematian ibu (Kementerian Kesehatan RI, 2021), sehingga upaya deteksi dini sangat diperlukan.
Upaya deteksi dini dapat dilakukan melalui pemeriksaan tekanan darah secara rutin, pemantauan tanda-tanda klinis, pemeriksaan laboratorium (protein urin, fungsi hati, fungsi ginjal), serta penggunaan biomarker tertentu. Selain itu, penilaian faktor risiko seperti usia ibu, paritas, riwayat preeklampsia sebelumnya, obesitas, penyakit kronis (hipertensi, diabetes melitus), dan kehamilan ganda juga berperan penting dalam skrining awal (Tomkiewicz & Darmochwał-Kolarz, 2024).
Desa Sugihwaras merupakan salah satu desa di Kecamatan Sugihwaras Kabupaten Bojonegoro denagn luas wilayah 409,225 Km2. terdiri dari 4 dusun, 6 RW dan 33 RT. Jumlah penduduk 5210 jiwa, terdiri dari 2451 laki – laki dan 2759 perempuan dengan jumlah KK 1659. Desa Sugihwaras berbatasan sebelah Timur desa Trate, sebelah Barat desa Glagahan, sebelah Utara desa Glagahwangi dan sebelah Selatan desa Siwalan. Data Kesehatan terutama Kesehatan Ibu dan Anak adalah jumlah ibu hamil pada tahun 2023 sejumlah 37 ibu, ibu hamil dengan factor risiko preeklampsia 17 ibu hamil (45,94%) dan ibu hamil dengan preeklampsia sejumlah 10 ibu hamil (27,02%). Potensi yang dimiliki desa Sugihwaras adalah memiliki 5 Posyandu balita, 1 posyandu lansia, 1 Posbindu. Kader Posyandu 25 orang, Kader Jumantik 1 orang, Kader BKB 8 orang dan Posyandu Lansia 5 orang. Kader Posyandu belum pernah mendapatkan penyuluhan atau pelatihan tentang preeklampsia pada ibu hamil (100%)
Kondisi di lapangan menunjukkan tantangan yang signifikan di Desa Sugihwaras, di mana angka kejadian preeklampsia mencapai 27,02% dan sebanyak 45,94% ibu hamil memiliki faktor risiko preeklampsia. Meskipun memiliki potensi sumber daya manusia berupa 25 kader Posyandu, fakta menunjukkan bahwa 100% kader tersebut belum pernah mendapatkan pelatihan khusus mengenai deteksi dini preeklampsia. Kesenjangan antara tingginya risiko kesehatan maternal dengan rendahnya kapasitas kader ini memerlukan intervensi segera agar deteksi dini dapat dilakukan lebih efektif di tingkat masyarakat.
Berdasarkan permasalahan tersebut, kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan komunikasi kader dalam melakukan deteksi dini preeklampsia pada ibu hamil di Desa Sugihwaras, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro. Kegiatan ini juga merupakan bentuk hilirisasi dari penelitian sebelumnya mengenai faktor risiko preeklampsia di Puskesmas Sugihwaras tahun 2022. Melalui penguatan kapasitas kader ini, diharapkan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam pemantauan kesehatan ibu hamil meningkat, sehingga dapat berkontribusi pada penurunan angka kematian ibu akibat preeklampsia di wilayah tersebut.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan sasaran 30 orang kader kesehatan di Desa Sugihwaras, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro. Alur pelaksanaan metode disusun secara sistematis untuk memastikan peningkatan kapasitas peserta, yang meliputi tahapan berikut:
1. Tahap Persiapan.
Tim menyusun instrumen pendukung kegiatan, termasuk soal pre-test dan post-test, media edukasi berupa brosur, serta daftar tilik (rubrik) untuk penilaian praktik komunikasi dalam skrining preeklampsia.
2. Tahap Pelaksanaan (Intervensi).
Metode pembelajaran dilakukan secara variatif untuk mencakup aspek kognitif dan psikomotorik peserta, yang terdiri dari:
• Pre-test: Dilakukan sebelum pemaparan materi untuk mengukur pengetahuan awal kader.
• Ceramah Interaktif dan Diskusi: Penyampaian materi yang meliputi konsep pemberdayaan masyarakat, teori preeklampsia, teknik skrining, peran kader, serta prinsip komunikasi efektif dalam edukasi kesehatan.
• Demonstrasi dan Tutorial: Tim memberikan contoh langsung mengenai prosedur skrining dan cara berkomunikasi kepada ibu hamil. Peserta kemudian diberikan kesempatan untuk melakukan simulasi atau praktik langsung.
3. Tahap Evaluasi.
Evaluasi dilakukan untuk mengukur keberhasilan kegiatan melalui dua instrumen utama:
• Evaluasi Pengetahuan: Menggunakan hasil perbandingan nilai pre-test dan post-test. Pengetahuan dikategorikan menjadi Sangat Baik (79–100), Baik (68–78), dan Cukup (50–67).
• Evaluasi Keterampilan: Dilakukan melalui uji praktik komunikasi menggunakan daftar tilik yang terdiri dari 10 pernyataan. Keterampilan peserta dikategorikan menjadi Sangat Baik (85–100), Baik (70–84), dan Cukup (<70).
4. Tindak Lanjut.
Sebagai bentuk implementasi nyata, setiap peserta yang telah dilatih diwajibkan untuk memberikan edukasi dan melakukan skrining preeklampsia kepada ibu hamil di wilayah kerja masing-masing.
Pengukuran tingkat pengetahuan dilakukan melalui pre-test dan post-test pada 30 kader. Hasil menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada semua indikator nilai. Nilai rata-rata peserta meningkat sebesar 14,4%, yakni dari 69,2 pada saat pre-test menjadi 83,6 pada post-test. Nilai terendah peserta mengalami kenaikan drastis dari 30 menjadi 75, sementara nilai tertinggi mencapai skor sempurna (100) dari sebelumnya 80. Berdasarkan kategori, sebanyak 96,6% responden kini memiliki pengetahuan dalam kategori baik.
Keterampilan Komunikasi dalam Skrining Preeklampsia
Evaluasi keterampilan motorik kader dilakukan melalui uji praktik menggunakan daftar tilik komunikasi efektif yang terdiri dari 10 pernyataan. Hasil penilaian menunjukkan nilai rata-rata keterampilan peserta adalah 85. Sebanyak 46,67% kader mencapai kategori "Sangat Baik", 36,67% kategori "Baik", dan sisanya 16,66% berada pada kategori "Cukup".
Peningkatan pengetahuan kader sebesar 14,4% menunjukkan bahwa intervensi pendidikan kesehatan yang terstruktur mampu mengubah pemahaman kader secara efektif. Hal ini sejalan dengan teori Notoatmodjo yang menyatakan bahwa proses belajar yang sistematis melalui penyuluhan dan pelatihan dapat meningkatkan pengetahuan individu secara signifikan (Notoatmodjo, 2007). Efektivitas ini juga didukung oleh penggunaan metode yang variatif, seperti ceramah interaktif dan diskusi, yang memungkinkan peserta menghubungkan materi dengan pengalaman lapangan mereka (Jumaroh & Nafi’ah, 2023; Syaiful et al., 2022). Beberapa kegiatan serupan juga menunjukkan bahwa pelatihan kader mengenai kesehatan ibu hamil secara bermakna meningkatkan kemampuan mereka dalam deteksi dini komplikasi kehamilan (Fitriyani et al., 2025; Jayanti et al., 2024). Secara nasional, upaya ini selaras dengan program Kementerian Kesehatan RI yang menekankan pemberdayaan masyarakat melalui kader sebagai garda terdepan untuk menurunkan angka kematian ibu.
Urgensi peningkatan pengetahuan kader ini menjadi sangat mendesak mengingat preeklampsia merupakan penyebab utama kematian ibu di Indonesia, yakni sebesar 24,6%. Di Desa Sugihwaras, terdapat kesenjangan kritis di mana risiko preeklampsia pada ibu hamil sangat tinggi (45,94%), namun fakta menunjukkan bahwa 100% kader posyandu belum pernah mendapatkan pelatihan atau penyuluhan terkait kondisi tersebut sebelumnya. Dengan memberdayakan kader sebagai garda terdepan melalui edukasi yang terstruktur, mereka akan memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi faktor risiko dan tanda klinis secara dini di tingkat komunitas,. Penguatan kapasitas ini bukan sekadar pemenuhan program, melainkan strategi vital untuk mencegah luaran buruk kehamilan dan menekan angka kematian ibu serta janin yang masih menjadi masalah kesehatan serius secara nasional maupun global.
Capaian kategori "Sangat Baik" pada 46,67% kader dalam keterampilan komunikasi membuktikan bahwa metode demonstrasi dan tutorial sangat efektif untuk pembelajaran psikomotorik. Sebagai penyuluh kesehatan, kader memerlukan pelatihan melalui strategi pembelajaran bermakna agar tujuan edukasi dapat tercapai secara sistematis (Kementerian Kesehatan RI, 2019). Dalam hal ini, penerapan metode yang melibatkan partisipasi aktif—seperti model discovery learning atau praktik langsung—sangat krusial untuk memberikan pengalaman nyata kepada kader (Sudarmi, 2022). Penerapan metode partisipasi aktif melalui simulasi kasus dan penggunaan instrumen praktis berupa daftar tilik yang terdiri dari 10 pernyataan memberikan pengalaman nyata yang krusial bagi kader dalam memahami prosedur teknis skrining secara mendalam,. Dengan penguasaan keterampilan komunikasi yang efektif ini, kader tidak hanya menguasai teori tetapi juga memiliki kesiapan untuk mengaplikasikannya secara nyata melalui kewajiban edukasi dan skrining mandiri di wilayah masing-masing guna mendukung penurunan risiko kematian ibu akibat preeklampsia.
Kegiatan pelatihan kader di Desa Sugihwaras terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam deteksi dini preeklampsia. Peningkatan rerata skor pengetahuan sebesar 14,4% dan pencapaian rerata keterampilan praktik pada kategori sangat baik ini menunjukkan bahwa pemberdayaan kader merupakan strategi yang tepat untuk mendukung upaya skrining di tingkat komunitas. Direkomendasikan agar skrining preeklampsia oleh kader dapat diintegrasikan secara rutin dalam kegiatan posyandu dengan pendampingan berkelanjutan dari tenaga kesehatan
/
Pendanaan berasala dari dana HIPA Poltekkes Kemenkes Surabaya
Penulis menyampaikan terima kasih kepada Direktur Poltekkes Kemenkes Surabaya, Bapak Luthfi Rusyadi, SKM., MH.Kes., MSc., atas dukungan dana HIPA yang diberikan untuk pelaksanaan kegiatan ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada PJ Kepala Desa Sugihwaras, Bapak Eko Budi, atas izin serta penyediaan fasilitas tempat dan audio yang mendukung kelancaran pengabdian masyarakat tersebut
Tidak ada konflik kepentingan dalam kegiatan pengabdian Masyarakat
Fitriyani, L., Ratna, R., & Yuliani, F. C. (2025). Pengaruh Pelatihan Kader Posyandu Terhadap Kemampuan Deteksi Dini Tanda Bahaya Kehamilan Di Desa Menganti Kedung Jepara. Jurnal Multidisiplin Ilmu Akademik, 2(5), 296–305. https://doi.org/10.61722/jmia.v2i5.6568
Jayanti, R. D., Farizi, S. A., Ferdinandus, E. D., Tricahyanti, A., Dewi, B. B. C., & Huwaida, H. A. (2024). Pelatihan Kader Kesehatan Dalam Upaya Deteksi Dini Komplikasi Kehamilan di Puskesmas Rejoso Nganjuk. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa, 2(10), 4707–4711. https://doi.org/10.59837/jpmba.v2i10.1860
Jumaroh, & Nafi’ah, H. (2023). Pelatihan Penyuluh Kesehatan Bagi Kader Kesehatan Desa Bugangan Kabupaten Pekalongan. Panrita Abdi - Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 7(1), 137–144. https://doi.org/10.20956/pa.v7i1.21737
Kementerian Kesehatan RI. (2019). Buku Panduan Orientasi Kader Posyandu. Kementerian Kesehatan RI. //ayosehat.kemkes.go.id/buku-panduan-orientasi-kader-posyandu
Kementerian Kesehatan RI. (2021). Profil Kesehatan Indonesia 2019. https://www.kemkes.go.id/id/profil-kesehatan-indonesia-2019
Notoatmodjo. (2007). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Rineka Cipta.
POGI. (2016). PNPK Diagnosis dan Tatalaksana Preeklampsia’. POGI. https://www.pogi.id/wp-content/uploads/download-manager-files/PNPK%20PreEklampsia%202016.pdf
Sudarmi, S. (2022). Efek Pelatihan dengan Metode Pembelajaran Discovery Learing Meningkatkan Kemampuan Kader tentang Pemberian Makanan Bayi dan Anak Balita. Jurnal Kesehatan Metro Sai Wawai, 15(2), 164–173. https://doi.org/10.26630/jkmsaw.v15i2.3650
Syaiful, S., Martiningsih, M., & Swandayani, R. E. (2022). Pelatihan Training Of Trainer Kader Penyuluh Kesehatan Dalam Upaya Peningkatan Pengetahuan Kader Kesehatan Di Kelurahan Kolo Kota Bima. Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), 5(3), 865–873. https://doi.org/10.33024/jkpm.v5i3.5651
Tomkiewicz, J., & Darmochwał-Kolarz, D. A. (2024). Biomarkers for Early Prediction and Management of Preeclampsia: A Comprehensive Review. Medical Science Monitor : International Medical Journal of Experimental and Clinical Research, 30, e944104-1-e944104-11. https://doi.org/10.12659/MSM.944104
Vigil-De Gracia, P., Vargas, C., Sánchez, J., & Collantes-Cubas, J. (2023). Preeclampsia: Narrative review for clinical use. Heliyon, 9(3), e14187. https://doi.org/10.1016/j.heliyon.2023.e14187