Jurnal Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat Indonesia

e-ISSN: 2830-2567 | Beranda Jurnal

Vol: 5 Issue: 1 Halaman: 503-516 Tahun: 2026
DOI: https://doi.org/10.56303/jppmi.v5i1.1356
OPEN ACCESS
CC BY-NC-SA
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License
QR Code
SCAN TO READ

Kerangka Kerja Untuk Menguatkan Literasi Keagamaan Siswa Muslim Minoritas SMA Berbasis Harmoni Budaya Daerah Toraja Utara

Framework for Strengthening Religious Literacy of Minority Muslim High School Students Based on Regional Cultural Harmony North Toraja

Edhy Rustan1*, Hisban Thaha1, Ahmad Nouruzzaman1

1 Universitas Islam Negeri Palopo, Palopo, Indonesia

Diterima: 23 March 2026  |  Disetujui: 29 April 2026

Abstrak

Literasi agama merupakan bagian dari literasi budaya. Kuatnya adat istiadat dan budaya daerah di Toraja Utara berdampak pada literasi agama siswa Muslim. Oleh karena itu diperlukan upaya penguatan literasi agama melalui pendampingan dengan metode service learning. Dosen, mahasiswa tutor, dan pihak sekolah bersama-sama terlibat dalam kegiatan intrakurikuler dan kokurikuler. Subjek dampingan yaitu seluruh siswa muslim SMA Toraja Utara. Adapun pihak yang terlibat dalam pengabdian yaitu dosen pendamping, mahasiswa tutor, dinas pendidikan, kepala sekolah, dan guru PAI. Pelaksanaan pendampingan melalui 3 tahapan yakni persiapan, pelaksanaan, dan monitoring evaluasi. Berdasarkan hasil social mapping diperoleh bahwa rendahnya literasi agama siswa dipengaruhi oleh tingginya pergaulan bebas, banyaknya pernikahan beda agama dan kuatnya budaya lokal. Pendampingan literasi agama yang diberikan kepada siswa dilakukan melalui kegiatan intrakulikuler dan kokurikuler. Hasil pendampingan menunjukkan peningkatan rerata literasi keagamaan pada siswa dari 67,56 menjadi 87,44. Kegiatan pendampingan literasi keagamaan perlu diterapkan secara berkesinambungan dari seluruh pihak terkait untuk meningkatkan literasi agama siswa.

Kata Kunci: Literasi agama, budaya daerah, siswa SMA

Abstract

Religious literacy is part of cultural literacy. The strong local customs and culture in North Toraja impact the religious literacy of Muslim students. Therefore, efforts are needed to strengthen religious literacy through mentoring using the service learning method. Lecturers, student tutors, and school officials are jointly involved in intracurricular and co-curricular activities. The subjects of mentoring are all Muslim students of North Toraja High School. The parties involved in the service are the supervising lecturers, student tutors, the education office, the principal, and Islamic Religious Education teachers. The mentoring program is implemented through three stages: preparation, implementation, and monitoring and evaluation. Based on the results of social mapping, it was found that high levels of promiscuity, the high number of interfaith marriages, and the strong local culture influence low student religious literacy. Religious literacy mentoring provided to students is carried out through intracurricular and co-curricular activities. The mentoring results show an increase in students' average religious literacy from 67.56 to 87.44. Religious literacy mentoring activities need to be implemented continuously by all relevant parties to improve students' religious literacy.

Keywords: Religiuos literacy, regional culture, high school student
💡 Pesan Kunci

• Rendahnya literasi agama kaum minoritas di Toraja disebabkan dominasi budaya daerah yang kuat sehingga tidak mampu membedakan batasan berbagai praktik adat istiadat yang dapat dilakukan siswa muslim dan Non Muslim

• Untuk menguatkan literasi keagamaan siswa muslim minoritas, dapat diterapkan strategi penguatan literasi keagamaan di sekolah meliputi pendampingan kegiatan intrakulikuler dan kokurikuler

🖼️ Graphical Abstract
Image
📄 1. Pendahuluan

Sebagai respon terhadap keberagaman agama dan budaya di Toraja, penyelenggara pendidikan tinggi harus melakukan penguatan literasi beragama pada siswa Muslim agar mereka tetap mampu menjalankan ajaran agama Islam sesuai dengan akidah yang berlaku. Literasi agama tidak dapat terpisahkan dari kebudayaan. Literasi beragama menurut Shaw (2020) adalah pemahaman, pengetahuan, dan kemampuan seseorang dalam memahami dan menginterpretasikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, program literasi keagamaan seharusnya berorientasi pada penguatan multikulturalisme (Moore, 2010; Prothero, 2007). Seorang guru dituntut untuk mampu menyelaraskan kebudayaan dan agama yang dimiliki siswa agar tercipta lingkungan yang mendukung keberagaman.

Di Toraja, masyarakat muslim merupakan masyarakat minoritas. Masyarakat Toraja sangat kaya akan kebudayaan dari warisan leluhur. Meski demikian, dalam studi observasi awal ditemukan budaya local menjadi tantangan dalam penerapan agama. Hasil menunjukkan terdapat 17 siswa yang berasal dari keluarga pernikahan adat dengan beda agama. Faktor penyebab terjadi pernikahan beda agama yaitu 1) Kebebasan perempuan memilih calon suami, 2) Karena perasaan cinta, dan 3) kurangnya pengetahuan agama. Aturan adat tersebut membenarkan, sehingga warga memperoleh buku nikah yang dikeluarkan Kantor Catatan Sipil setelah sebelumnya mendapatkan putusan dari Pengadilan Negeri. Akar masalah ini adalah alasan cinta yang dilakoni oleh anak SMA yang dilegalkan karena hamil sebelum nikah.

Selain kuatnya adat, budaya mayoritas non-muslim juga turut memengaruhi perilaku siswa SMA muslim di Toraja Utara. Data lapangan diperoleh bahwa, dari 1300 siswa terdapat 1172 siswa non-muslim dan hanya terdapat 128 siswa muslim. Data tersebut menunjukkan hanya terdapat 10% siswa muslim, sehingga sangat memungkinkan kebiasaan siswa muslim yang 90 mendominasi pergaulan sehari-hari siswa. Seperti halnya dengan fakta lapangan yang menunjukkan dari 128 siswa muslim di SMA 1 Toraja Utara, sebagian besar atau 83 siswa tidak memakai jilbab. Penyebab utama hal itu selain karena ikut pada siswa non-muslim yang tidak menggunakan jilbab, juga diakibatkan kurangnya literasi agama terkait menutup aurat yang dimiliki siswa muslim.

Berdasarkan hasil diskusi bersama dengan beberapa pihak yaitu dari kementerian agama kabupaten Toraja Utara, guru PAI dan siswa muslim, dirumuskan bahwa inti masalah yang perlu diselesaikan dalam pengabdian ini yaitu rendahnya literasi agama siswa SMA di kabupaten Toraja Utara. Masalah tersebut muncul, disebabkan dominasi adat dan budaya setempat. Adat sering digunakan setara dengan agama, bahkan oleh masyarakat Toraja digunakan untuk menggantikan fungsi agama. Tidak hanya itu budaya siswa penganut agama mayoritas sering diikuti tanpa disadari. Selain itu, tidak terdapat sekolah madrasah pada level Tsanawiyah untuk membentengi pengetahuan agama Islam siswa yang rendah.

Pemberian literasi keagamaan dalam pelaksanaan pembelajaran PAI juga kurang. Penyebab hal itu karena kurikulum yang dilakukan guru tidak disesuaikan dengan konteks. Hal lain yaitu kurangnya bahan ajar dan media yang sesuai sebagai sumber penunjang pelaksanaan literasi agama. Literasi menjadi masalah yang sangat penting bagi siswa SMA untuk menghadapi pesatnya informasi dalam penerimaan ilmu pengetahuan (Asari et al., 2019; Veronika et al., 2022) .Literasi keagamaan merujuk pada pemahaman, pengetahuan, dan kemampuan seseorang dalam memahami dan menginterpretasikan ajaran agama (Shaw, 2020). Literasi keagamaan melibatkan pemahaman terhadap teks-teks suci, keyakinan, praktik keagamaan, tradisi, dan nilai-nilai moral yang terkait dengan agama tertentu. Pentingnya literasi keagamaan terletak pada kemampuan individu untuk memahami dan menjalankan ajaran agama dengan benar, memperoleh pengetahuan yang mendalam tentang agama dan budaya yang terkait, serta mengembangkan pemahaman yang lebih luas dan toleran terhadap perbedaan agama dan kepercayaan.

Problem terkait literasi yang ada saat ini merupakan problem yang sifatnya mengakar sehingga diperlukan langkah serius untuk menghadapinya (Mansyur & Rahmat, 2020). Untuk mengembangkan literasi agama, pemimpin harus memfasilitasi budaya organisasi yang menyambut baik agama di tempat kerja (Lindheim, 2020). Dalam hal ini, pihak sekolah memiliki tanggung jawab besar untuk mempelajari latar belakang budaya dan agama siswa mereka untuk menyediakan lingkungan yang aman bagi masing-masing pemeluk agama dan memelihara keragaman budaya (Ashraf, 2018; Seiple & Hoover, 2021). Itu sebabnya, sejumlah program terus dilaksanakan untuk menumbuhkan literasi beragama di lembaga pendidikan bahkan selama masa pandemic (Narulita et al., 2022). Diantaranya, metode pelatihan dengan materi moderasi beragama yang berorientasi pada teks ideologi Muhammadiyah (Hasanuddin & Ginting, 2021), program penguatan nasionalisme, sikap dan amalan kebangsaan (Faqih et al., 2023), dialog antar agama dan literasi antar budaya (Daddow et al., 2019) diskusi dan penggunaan media digital (Destriani et al., 2022), program pemahaman, menghafal dan menulis Al Quran bagi pelajar TPQ (Cahya et al., 2022) serta melalui literasi sastra cerpen (Wahyuni & Ikawati, 2023).

Berdasarkan kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang telah diurai, dirumuskan strategi penanganan terkait literasi keagamaan yang kurang dimiliki siswa dengan pemberian pemahaman yang mendalam ajaran agama dalam Al-Quran. Cara melakukannya dengan meningkatkan kemampuan membaca, memahami konteks, memahami bahasa, dan menafsirkan pesan-pesan agama yang terkandung dalam teks tersebut. Selain hal itu, juga dilakukan pendampingan untuk meningkatkan pemahaman tentang keyakinan dan praktik. Pendampingan diwujudkan dalam perumusan manajemen strategi literasi secara umum, pengintegrasian konsep literasi dalam pendampingan pembelajaran di kelas dan di luar kelas.

Kuatnya budaya yang ada di sekitar, sehingga perlu ditanamkan kepada siswa sikap menghargai keragaman agama. Hal ini membantu siswa untuk menghargai dan menghormati perbedaan agama, serta mendorong toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Selain itu siswa dibina dalam menyelaraskan agama dengan konteks sosial dan budaya. Hal tersebut dimaksudkan, agar siswa yang hidup ditengah hegemoni adat tidak hanya terbatas pada pemahaman teoritis agama, tetapi juga melibatkan penerapan dan pemahaman agama dalam konteks sosial dan budaya. Sehingga pengabdian ini melahirkan siswa yang memiliki identitas keagamaan yang kuat, memahami agama mereka dengan lebih baik, dan berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan keagamaan mereka, meski mereka minoritas dan berada ditengah kuatnya pengaruh adat setempat.

Mengacu pada hal tersebut, pengabdian ini dilakukan melalui service learning dengan tujuan menguatkan literasi SMA muslim minoritas di Toraja. Servis learning dipilih sebagai solusi karena siswa minoritas yang menjadi subjek dampingan perlu mendapatkan perhatian lebih untuk kemampuan literasi keagamaannya di sekolah. Dengan masalah yang kompleks serta dominasi budaya yang sangat kuat, siswa muslim minoritas membutuhkan pendampingan yang tidak hanya pada intera kurikuler namun pada kokurikuler. Metode tersebut mampu menjembatani realitas social siswa minoritas dengan kajian akademik lebih efektif dengan skema Mahasiswa PLP (magang). Service learning memungkinkan mahasiswa tidak hanya memahami konsep secara kognitif, tetapi juga menerapkannya langsung dalam konteks nyata. Oleh karena itu, fokus pengabdian yang dirumuskan adalah (1) bagaimana literasi keagamaan ditengah dominasi budaya pada siswa muslim di SMA Toraja Utara dan (2) bagaimana strategi pelaksanaan penguatan literasi keagamaan ditengah dominasi budaya pada siswa muslim di SMA Toraja Utara.

🔬 2. Metode

Metode pendampingan yang ditawarkan yaitu service learning terintegrasi dengan PLP Pendidikan Latihan Profesi mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Palopo. Model service learning berdasarkan teori Dewey (1990) dilakukan berdasarkan fokus pengabdian yang telah ditentukan yaitu gambaran literasi keagamaan siswa muslim, strategi pelaksanaan penguatan literasi keagamaan, hasil pencapai dan tindak lanjut penguatan literasi keagamaan ditengah dominasi budaya siswa muslim. Manfaat yang diharapkan dalam program penguatan literasi keagamaan yang diusulkan yaitu program dapat terlaksana dengan utuh sebagai proyek percontohan pada subjek yang relevan. Subjek dampingan yaitu seluruh siswa muslim SMA Toraja Utara yang tergabung dalam kelompok pelajar muslim minoritas di SMAN 1 Toraja Utara dengan jumlah 128 siswa. Adapun pihak yang terlibat dalam pengabdian yaitu dosen pendamping, mahasiswa tutor, dinas pendidikan, kepala sekolah, dan guru PAI SMA Toraja Utara.

Image

Gambar 1. Alur Pendampingan melalui metode Service Learning

Prosedur pengabdian melalui service learning dimodifikasi menjadi tiga tahap. Pada tahap persiapan selama 2 bulan yaitu Juni sampai September, diawali dengan identifikasi masalah, menciptakan jalinan kerjasama yang berkesinambungan bersama sekolah. Langkah selanjutnya yaitu dilakukan perekrutan Tutor melalui sistem seleksi. Dari hasil seleksi tersebut kemudian dilakukan pembekalan teknis mengenai mekanisme pelaksanaan pendampingan. Proses pelaksanaan pendampingan selama 2 bulan yaitu November dan Desember. Langka ini dilakukan untuk meningkatkan literasi keagamaan siswa muslim melalui program penguatan sistem manajemen, pendampingan penguatan literasi siswa di dalam kelas, dan luar kelas. Pada tahap monitoring, evaluasi dan tindaklanjut dilakukan selama perencanaan dan pelaksanaan serta ditambah evalusi dan tindak lanjut diakhir program. Dosen pengabdi secara berkala dan terencana melakukan evaluasi seluruh rangkaian pendampingan. Tujuan hal itu untuk menjadi bahan refleksi dan pembelajaran bagi pihak-pihak yang terlibat. Demikian halnya dengan hasil monitoring, evaluasi, dan tindaklanjut disajikan sebagai bahan informasi perbaikan pada mahasiswa tutor, dosen pendamping, dan pihak SMA Toraja Utara

Metode pengumpulan data untuk tujuan refleksi, evaluasi program dan evaluasi kemampuan litersi, tindak lanjut kegiatan pendampingan, serta tujuan pembuatan laporan dilakukan dengan instrumen angket, wawancara, dan observasi partisipatorik. Analisis hasil pengabdian diuraikan secara deskriptif mulai dari perencanaan, proses pelaksanaan, sampai pada monitoring, evaluasi, dan tindaklanjut. Demikian halnya dengan kegiatan FGD yang dilakukan dengan melibatkan stakeholders, sekaligus sebagai pengumpulan data yang valid. Guna mewujudkan program ini, telah diciptakan jalinan kerjasama dan advokasi awal yang menjamin terlaksananya penguatan literasi keagamaan bagi siswa muslim. Meski demikian secara berkesinambungan dengan pihak terkait, mekanisme pengiriman PLP/magang secara bertahap dan berkesinambungan dari LPTK melalui metode Service Learning perlu dirumuskan.

📊 3. Hasil dan Pembahasan

Tingkat literasi keagamaan siswa Muslim SMA Toraja Utara

Pendampingan diawali dengan terlebih dahulu mengetahui tingkat literasi keagamaan siswa untuk merumuskan kebutuhan pendampingan yang lebih sesuai. Tujuan tersebut untuk menggambarkan hasil identifikasi masalah atau kebutuhan nyata dalam komunitas. Hasil pengukuran skor rerata literasi keagamaan siswa ditunjukkan pada tabel berikut:

Tabel 1 Tingkat literasi keagamaan siswa SMA Muslim Toraja Utara

Indikator

Sub Indikator

Sebelum Tindakan

Setelah Tindakan

Memahami

Simbol-simbol

78

93

Doktrin

63

96

Praktik

82

98

Ucapan

91

93

Karakter

89

94

Narasi

45

89

Menganalisis

Simbol-simbol

67

84

Doktrin

53

80

Praktik

75

92

Ucapan

84

87

Karakter

57

76

Narasi

44

84

Mengekspresikan

Simbol-simbol

64

87

Doktrin

43

67

Praktik

86

94

Ucapan

74

93

Karakter

68

89

Narasi

54

78

Rerata

67.56

87.44

Berdasarkan Tabel 1, diketahui bahwa Tingkat literasi siswa SMA Muslim di Toraja Utara sebelum pendampingan masih rendah dan meningkat setelah pendampingan. Kemampuan literasi dari nilai rata-rata 67.56 sebelum pendampingan meningkat menjadi 87.44 setelah pendampingan. Kemampuan literasi yang paling kurang dimiliki siswa dan praktik budaya yang sering menggantikan ajaran agama di masyarakat disajikan sebagai berikut:

“Pergaulan bebas yang terjadi dikalangan siswa secara umum juga terjadi dikalangan siswa muslim” (karvin)

Maraknya pergaulan bebas di Toraja Utara dikarenakan saling melihat antara teman, pengaruh lingkungan yang bebas, tempat hiburan malam mulai berkembang lagi setelah covid. Daerah yang membebaskan minuman keras, bahkan menjadi kebiasaan dikonsumsi sehari-hari. Kondisi demikian dalam wawancara lebih lanjut, diperoleh bahwa terdapat siswa SMA hamil di luar nikah. Berdasarkan kondisi tersebut, sehingga dalam pendampingan perlu diberikan konten PAI tentang larangan berzina dan larangan minum-minuman keras. Selain itu dibutuhkan pemberian informasi bahaya atau dampak pergaulan bebas. Selain pergaulan bebas, jalinan perkawinan beda agama orang tua siswa juga turut berdampak terhadap literasi keagamaan siswa. Hasil wawancara lebih lanjut bahwa siswa SMA 1 Toraja Utara yang terlahir dari perkawinan beda agama rata-rata belum lancar mengaji. Hal tersebut dapat dilihat pada hasil wawancara bersama Guru PAI yang mengatakan bahwa:

“Orang tua beragama Islam hanya sebelah, rata-rata belum lancar mengaji” (karvin)

Kondisi tersebut perlu pemberian literasi baca tulis Al-qur’an. Pemberian baca tulis tentu tidak dapat dilakukan hanya dalam kegiatan kurikuler, karena kekurangan jam pelajaran dan tuntutan kurikulum yang ada. Mengacu hal itu, perlu dilakukan penguatan literasi kegamaan bagi siswa melalui kegiatan kokurikuler.

Observasi yang dilakukan di awal sebelum pendampingan, terlihat siswa yang tidak menutup aurat. Kondisi tersebut merupakan hal yang biasa, karena dalam lingkungan sekolah, siswa yang berjilbab hanya 3% dari total populasi. Alasan mengunakan jilbab karena ikut pada siswa non-muslim yang tidak menggunakan jilbab.

Image

Gambar 2. Populasi penggunaan jilbab pada siswa muslim sebelum pendampingan

Dari 67 siswa perempuan beragama Islam, hanya terdapat 27% atau 18 yang mengunakan jilbab. Artinya sebelum dilakukan pendampingan, terdapat 49 siswa perempuan yang belum memiliki kesadaran mengunakan jilbab. Melalui kegiatan pendampingan dalam kegiatan intrakurikuler, berdampak pada kesadaran sendiri siswa mengunakan jilbab setelah mendapatkan literasi keagamaan. Materi yang diberikan adalah manfaat berhijab. Meski relatif singkat, tindakan siswa perempuan dalam menutup aurat sudah mengarah pada pertumbuhan yang baik. Setelah pemberian konten tersebut, siswa terlihat malu-malu jika tidak mengunakan jilbab. Hal tersebut terlihat saat proses pembelajaran, siswa yang sebelumnya tidak berjilbab berusaha menutup aurat dengan menggunakan mukenah saat pembelajaran.

Image

Gambar 3. Pembelajaran PAI Mengenal, Meyakini, dan Membiasakan Menutup Aurat

Perubahan jumlah siswa yang tidak menggunakan jilbab dapat dilihat pada Gambar 4. Data pada Gambar 4 menunjukkan terdapat 15 orang siswa yang memilih berjilbab sebagai dampak dari pendampingan yang dilakukan. Adapun perbandingan hasil sebelum dan setelah pendampingan dipaparkan pada gambar 5.

Image

Gambar 4. Perubahan kesadaran menutup aurat

Image

Gambar 5. Perbandingan penggunaan jilbab sebelum dan setelah pendampingan

Kondisi lain yang memengaruhi rendahnya literasi keagamaan siswa adalah praktik keagamaan tradisional di Toraja yang kuat dan berakar dalam budaya yang dianut. Meskipun agama Kristen telah memengaruhi kehidupan masyarakat Toraja secara mayoritas dan sebagian kecil Islam, namun praktik-praktik keagamaan tradisional masih sangat kental dan terlihat dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari mereka. Praktik-praktik ini mencerminkan keterpaduan antara agama resmi dan warisan keagamaan tradisional yang kuat di kalangan masyarakat Toraja. Beberapa praktik keagamaan tradisional yang dianut antaranya seperti ritual kematian (Rambu Solo’), Pemujaan Terhadap Leluhur (To Ma'betu), Tedong Silaga, dan praktik adat istiadat lainnya serta tarian dan musik tradisional.

Siswa beragama muslim yang mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut tidak memahami adanya batasan Muslim dan Non Muslim. Mereka masih saja memakan daging sembelih dari kegiatan Rambu Solo’ yang tidak disembelih secara Islam sehingga menjadi makanan haram baginya. Hal ini menunjukkan bahwa dibutuhkan konten pembelajaran terkait makanan halal dan haram. Sedangkan pada kegiatan adat istiadat lainnya, mereka turut serta dalam pemujaan leluhur, roh, patung dan simbol lainnya. Eksistensi tarian dan musik tradisional banyak dipelajari dan dilakukan oleh siswa-siswi SMA. Tindakan siswa melakoni sebagai hiburan dan upaya penyelamatan budaya hal itu sangat baik, namun terdapat potensi yang juga dapat menciderai keimanan. Tarian dan musik tradisional ini bukan hanya bentuk hiburan, tetapi juga merupakan sarana komunikasi dengan dunia gaib, ekspresi rasa syukur, dan ungkapan spiritualitas dalam kehidupan masyarakat Toraja. Upacara-upacara sakral ini memegang peran penting dalam membentuk identitas dan spiritualitas masyarakat Toraja, dan melibatkan elemen-elemen yang dalam pandangan mereka memiliki kekuatan sakral dan rohaniah. Hal ini tentu bertentangan dengan keyakinan akan Keesaan Allah Swt. Oleh karena itu, siswa memerlukan konten pembelajaran rukun Iman dan rukun Islam khususnya pelaksanaan sholat agar siswa memahami bagaimana cara berdoa sesuai dengan ajaran agama Islam.

Dalam pendampingan, sistem pembelajaran dimulai dengan terlebih dahulu menjalankan salat berjamaah, dinilai sangat baik oleh siswa. Sistem tersebut berdampak pada pembiasaan yang sangat baik dalam pengamalan salat 5 waktu, pengunaan jilbab, dan pembentukan karakter yang mendorong pencapaian nilai Berkeadaban (ta’addub). Dengan pemberian konten pembelajaran yang sesuai membantu siswa memahami ajaran agama Islam dengan benar. Konten pembelajaran tersebut merupakan pelajaran pokok dalam membentuk kepribadian seorang muslim agar bisa memahami hukum dan kaidah yang benar dalam kehidupan sehari-hari (Adnas & Anjastri, 2022).

Strategi penguatan literasi keagamaan

Proses perencanaan dan pelaksanaan pendampingan ini hanya dilakukan dalam skala kecil. Tindakan penguatan literasi dilakukan dalam dua wujud yaitu penguatan intrakurikuler dan kokurikuler. Adapun hasil pencapaian tujuan kedua dari pengabdian ini meliputi:

Strategi Penguatan Literasi

Mengacu pada identifikasi masalah, berikut disajikan strategi secara terstruktur pada tabel 2.

Tabel 2. Manajemen Sistem Penguatan Literasi

Jenis Pendampingan

Kegiatan pokok

Rincian kegiatan

Pendampingan literasi siswa melalui intrakurikuler

Pengembangan aktivitas, materi penunjang, dan media

  1. Melakukan pengembangan aktivitas belajar
  2. Melakukan pengembangan materi sesuai dengan konteks
  3. Melakukan pengembangan media yang relevan

Pendampingan literasi siswa di melalui kokurikuler

Pembentukan dan pembinaan kegiatan ekstra PAI

  1. Mengorientasikan kelompok belajar berdasarkan agama yang dianut
  2. Menetapkan kegiatan pagi hari literasi (Jumat membaca Alquran)
  3. Pembentukan organisasi ekstra sekolah yang bertujuan menunjang PAI
  4. Bersama semua stakeholders melakukan pembinaan terhadap siswa muslim

Pengorientasian pendampingan yang dilakukan mengacu pada flowchart manajemen sistem penguatan literasi berikut:

Image

Gambar 6. Strategi pendampingan literasi keagamaan di tengah dominasi budaya

Pendampingan literasi intrakulikuler dilakukan guru melalui pembelajaran dengan materi dan media yang sesuai. Hal ini sesuai dengan pendapat Destriani et al. (2022) bahwa untuk menguatkan literasi agama siswa, guru dapat menerapkan diskusi kelas dan menggunakan media digital (youtube) dalam menjawab problem siswa. Sedangkan kegiatan ekstrakulikuler dilakukan untuk membiasakan siswa terlibat dalam kegiatan keagamaan. Begitupun dengan pemberian pemahaman mengenai ritual pemakaman dan pemujaan leluhur yang menjadi budaya di Toraja. Di kelas, guru melakukan diskusi dengan siswa mengenai ritual budaya dan ajaran agama Islam terkait. Guru menampilkan video bagaimana seharusnya pemakaman dan mendoakan orang yang sudah tiada dilakukan menurut ajaran agama Islam. Untuk kegiatan ekstrakulikuler, dilakukan praktik pemakaman dan sekaligus menghadirkan tokoh agama yang dapat memperkuat pemahaman para siswa.

Menurut Banks (1993), dalam mengintegrasikan konten pembelajaran pada kondisi multikultural, guru dapat menerapkan pendekatan kontribusi (Agirdag et al., 2016). Cara ini merupakan cara paling umum dan termudah untuk memasukkan konten pembelajaran ke dalam kurikulum. Dalam pendekatan kontribusi, guru berfokus pada pembiasaan siswa melakukan praktik keagamaan dan peringatan hari raya keagamaan. Hal ini dapat dilakukan dalam pembelajaran intrakulikuler dan kokurikuler. Mendorong siswa untuk berpartisipasi dalam melakukan praktik dan pembiasaan jauh lebih efektif dalam mengajarkan sesuatu dibanding hanya sekedar memberikan penjelasan (Jonas, 2018). Melalui proses pembiasaan siswa akan terlibat dalam suatu proses, memiliki pengalaman multi sensori dan emosional, serta interupsi yang berkontribusi terhadap variabilitas konsepsi mereka dari waktu ke waktu dan konteks terkait pembelajaran (Bergen et al., 2023). Dengan rutin melakukan kegiatan praktik keagamaan, siswa menjadi terbiasa serta memahami praktik keagamaan yang seharusnya dilakukan seorang Muslim.

Model Pembelajaran Agama Islam di Tengah Dominasi Budaya

Prinsip reaksi dari gagasan model pembelajaran yang dirumuskan ini memerlukan pemahaman mendalam tentang nilai-nilai agama, budaya, dan bagaimana keduanya dapat diintegrasikan secara harmonis. Berikut disajikan prinsip reaksi model pembelajaran agama di lingkungan yang didominasi oleh budaya Toraja:

Tabel 3 Model pembelajaran agama Islam di Tengah dominasi budaya

No

Komponen Strategi

Tindakan Utama

1.

Pemahaman Mendalam tentang Budaya Lokal

    • Guru agama perlu memiliki pemahaman yang mendalam tentang budaya lokal di mana model pembelajaran akan diimplementasikan.
    • Memahami nilai-nilai budaya, norma, dan praktik-praktik yang mempengaruhi pendekatan pembelajaran agama.

2.

Integrasi Nilai-Nilai Agama dengan Nilai Budaya

    • Identifikasi nilai-nilai agama yang sejalan dengan nilai budaya setempat.
    • Menunjukkan bagaimana pengajaran agama dapat memperkuat dan mendukung nilai-nilai budaya yang ada.

3.

Respek terhadap Keragaman

    • Memastikan bahwa pembelajaran agama memperhatikan dan menghormati keragaman keyakinan di antara siswa.
    • Menekankan nilai-nilai toleransi, penghargaan, dan pemahaman terhadap perbedaan keyakinan.

4.

Pendekatan Kontekstual

    • Mengaitkan konsep agama dengan kehidupan sehari-hari dan realitas budaya siswa.
    • Menciptakan kaitan antara ajaran agama dengan situasi dan tantangan yang dihadapi oleh komunitas setempat.

5.

Keterlibatan Komunitas

    • Melibatkan komunitas lokal dalam proses pembelajaran agama.
    • Membuka dialog antara sekolah dan komunitas untuk membangun pemahaman bersama dan mendukung proses pembelajaran.

6.

Mendorong Pemikiran Kritis

    • Membangun kemampuan siswa untuk berpikir kritis terhadap ajaran agama dan nilai-nilai budaya.
    • Memberikan ruang bagi siswa untuk bertanya dan berdiskusi tentang hubungan antara agama dan budaya.

7.

Menggunakan Sumber Daya Diversifikasi

    • Menggunakan berbagai sumber daya pembelajaran yang mencakup variasi budaya dan agama.
    • Mendorong penggunaan literatur, seni, dan cerita dari berbagai latar belakang.

8.

Menekankan Etika dan Moral

    • Fokus pada pengajaran nilai-nilai etika dan moral yang bersifat universal, yang juga dapat diaplikasikan dalam konteks budaya setempat.

9.

Pelibatan Orang Tua

    • Melibatkan orang tua dalam proses pembelajaran agama, memberikan pemahaman kepada mereka tentang pendekatan yang diambil dan bagaimana mendukung pembelajaran agama di rumah.

Model pembelajaran yang ditampilkan pada Tabel 3 menggabungkan beragam elemen agar model pembelajaran agama dapat menjadi lebih relevan, bermakna, dan dapat diterima dalam konteks budaya yang dominan. Hal ini didukung oleh Yasin & Khasbulloh (2022) yang mengemukakan bahwa untuk memperkuat literasi agama milenial berarti membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan untuk memahami dan mendiskusikan agama dan isu-isu di sekitarnya secara percaya diri, akurat, kritis melalui kemampuan refleksi, inkuiri, empati, analisis dan evaluasi, penalaran, sintesis, dan komunikasi. Guru perlu memberikan materi pemahaman, menghafal dan menulis Al Quran (Cahya et al., 2022) namun perlu pula memberikan pemahaman serta penerimaan kebudayaan local agar tercipta moderasi beragama (Fauzan, 2022). Hal ini dikarenakan pemahaman terhadap ayat al-Qur'an dan hadits tanpa disertai dengan penafsiran kontekstual hanya akan menghasilkan versi yang kaku. Oleh karena itu, penguatan literasi agama membantu seseorang memahami Al Qur’an dan hadits tidak hanya secara tekstual namun juga melihat relevansinya secara kontekstual.

Untuk memaksimalkan penguatan literasi beragama pada siswa, orang tua juga diikutsertakan. Orang tua dalam hal ini berperan untuk memberikan pemahaman agama di rumah serta mengontrol perilaku siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Green (2012) yang mengemukakan bahwa untuk mendapatkan perubahan positif dalam suatu masyarakat diperlukan kerjasama berbagai pihak yakni pemerintah, lembaga terkait dan kelompok termasuk orang tua siswa. Hal senada diungkapkan Misbah et al. (2023) bawah Dalam proses perencanaan dan pelaksanaan pendampingan, juga tidak terlepas dari keterlibatan pemangku kepentingan dan anggota komunitas. Dengan demikian, guru bekerja sama dengan orang tua merancang pembelajaran agama yang dapat menguatkan literasi agama siswa.

Penguatan Profil Pelajar Rahmatan Lil Alamin

Penguatan profil pelajar Pancasila bagi siswa muslim minoritas di Toraja Utara dilakukan dengan mengintegrasikan nilai-nilai lokal yang dijunjung tinggi dalam budaya Toraja itu sendiri. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diterapkan:

Tabel 4. Strategi Penguatan Literasi Keagamaan dalam Pendidikan Agama Islam

No

Komponen

Tindakan Utama

1.

Pendidikan Karakter Terpadu

  • Implementasikan pendidikan karakter yang terpadu, yang mencakup pembelajaran tentang nilai-nilai dalam profil pelajar rahmatan lil alamin dan nilai-nilai budaya Toraja.
  • Integrasikan nilai-nilai dalam profil pelajar rahmatan lil alamin seperti gotong royong, keadilan, persatuan, dan demokrasi ke dalam kegiatan intrakurikuler sehingga siswa dapat memahami dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
  • Pilih bahan ajar dan konten pembelajaran yang memungkinkan integrasi antara ajaran Islam dan nilai-nilai dalam profil pelajar rahmatan lil alamin. Identifikasi titik temu antara prinsip-prinsip agama Islam dengan nilai-nilai dalam profil pelajar rahmatan lil alamin dan budaya Toraja.

2.

Kegiatan Kokurikuler dan kelompok studi Siswa

  • Bentuk kegiatan kokurikuler atau klompok studi yang fokus pada pengembangan karakter. Misalnya, klub keagamaan, atau kelompok sosial budaya yang dapat menggali nilai-nilai dalam profil pelajar rahmatan lil alamin dalam konteks Toraja.
  • Libatkan siswa dalam organisasi keagamaan di sekolah yang mempromosikan moderasi beragama dan pemahaman antarbudaya.
  • Libatkan siswa dalam diskusi kasus dan studi kasus lokal yang melibatkan dilema etika atau moral. Mintalah mereka menganalisis dan menemukan solusi berdasarkan ajaran Islam, nilai-nilai dalam profil pelajar rahmatan lil alamin, dan budaya Toraja.
  • Selenggarakan kegiatan dialog antaragama yang membahas persamaan dan perbedaan antara ajaran Islam dan nilai-nilai agama lain dengan nilai-nilai dalam profil pelajar rahmatan lil alamin dan budaya Toraja.

3.

Lomba dan Proyek Sosial

  • Selenggarakan lomba atau proyek sosial yang melibatkan siswa. Ini dapat mencakup kegiatan gotong royong, bantuan kemanusiaan.
  • Kaitkan kegiatan kokurikuler dengan nilai-nilai dalam profil pelajar rahmatan lil alamin, seperti keadilan sosial dan persatuan, untuk memberikan pemahaman praktis kepada siswa.
  • Diskusikan peran dan tanggung jawab sosial siswa dalam konteks budaya Toraja. Jelaskan bagaimana ajaran Islam mendorong partisipasi aktif dalam kehidupan sosial dan bagaimana nilai-nilai dalam profil pelajar rahmatan lil alamin mendukung konsep tersebut.

4.

Pengenalan Nilai-Nilai Budaya Lokal

  • Selenggarakan kegiatan atau pelajaran khusus yang memperkenalkan dan mendiskusikan nilai-nilai budaya Toraja. Ini termasuk kepercayaan tradisional, adat istiadat, dan nilai-nilai kehidupan sehari-hari.
  • Temukan persamaan antara nilai-nilai dalam profil pelajar rahmatan lil alamin dan nilai-nilai budaya Toraja, dan tunjukkan bagaimana keduanya dapat saling melengkapi dan memperkaya.
  • Fokuskan pada prinsip-prinsip keadilan, persatuan, dan kesetaraan dalam ajaran Islam. Tunjukkan bagaimana nilai-nilai ini sejalan dengan nilai-nilai dalam profil pelajar rahmatan lil alamin dan dapat memperkaya budaya Toraja.

5.

Pendampingan dalam kegiatan Upacara dan Ritual

  • Pemberian penjelasan terkait upacara atau ritual yang mencerminkan nilai-nilai dalam profil pelajar rahmatan lil alamin dan nilai-nilai keagamaan tradisional Toraja.
  • Libatkan siswa dalam persiapan dan pelaksanaan upacara, sehingga mereka dapat merasakan dan memahami nilai-nilai tersebut secara langsung.
  • Libatkan tokoh agama Islam dan budayawan lokal dalam kegiatan pembelajaran. Mereka dapat memberikan wawasan dan perspektif yang khusus terkait dengan hubungan antara Islam dan budaya Toraja

6.

Metode inovatif dalam Pembelajaran

  • Gunakan metode pembelajaran yang menyenangkan, seperti drama, seni, atau multimedia, untuk menyampaikan nilai-nilai dalam profil pelajar rahmatan lil alamin dan budaya Toraja dengan cara yang menarik dan relevan bagi siswa.
  • Rencanakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung dalam pengalaman nyata, seperti kunjungan ke tempat ibadah, partisipasi dalam kegiatan keagamaan, atau kunjungan ke komunitas lokal.
  • Dorong siswa untuk melakukan evaluasi diri dan refleksi mengenai bagaimana mereka menerapkan nilai-nilai dalam profil pelajar rahmatan lil alamin dan budaya Toraja dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam pemahaman mereka terhadap agama Islam.

Dengan menggabungkan nilai-nilai dalam profil pelajar rahmatan lil alamin dan budaya Toraja melalui berbagai kegiatan dan strategi pembelajaran agama Islam, dapat menciptakan lingkungan yang memperkuat penanaman nilai serta memperdalam penghargaan terhadap budaya lokal. Siswa dapat mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang keberagaman nilai dan budaya yang ada di masyarakat mereka. Langkah-langkah ini dapat menciptakan siswa yang tidak hanya memahami ajaran agama Islam, tetapi juga mampu mengintegrasikan nilai-nilai dalam profil pelajar rahmatan lil alamin dan budaya Toraja dalam pemikiran dan tindakan mereka sehari-hari.

Desain Aktivitas Intrakurikuler PAI

Mengacu pada prinsip reaksi dan penguatan profil rahmatan lil alamin yang dirumuskan, kemudian dijabarkan kegiatan oprasional penguatan literasi keagamaan. Kegiatan intrakurikuler untuk mencapai CP yang terdapat dalam kurikulum merdeka. Kegiatan yang dimaksud dioperasionalkan dalam aktivitas pembelajaran intrakurikuler. Adapun Aktivitas belajar mengacu pada langkah-langkah:

Tabel 5. Aktivitas Intrakurikuler

No

Fase

Aktivitas

1.

Awal

Pembiasaan Salat Berjamaah Sebelum Pembelajaran Di mulai (Dhuha di pagi hari, Duhur pada jam siang, Ashar pada sore hari)

Membaca satu ayat Alquran sesuai CP yang akan dicapai dalam satu aktivitas belajar

Identifikasi titik temu dan ajaran Islam dan nilai-nilai dalam profil pelajar rahmatan lil alamin serta budaya Toraja.

2.

Inti

Integrasi antara materi PAI dengan budaya Toraja yang sesuai.

Pemberian materi kontekstual melalui multimedia realistik berbasis kearifan lokal Toraja

3.

Penutup

Refleksi dan penetapan karakter melalui evaluasi diri

Pemberian tugas berbasis projek

Pelibatan Orang Tua/Wali dalam kegiatan tindak lanjut

🎯 4. Kesimpulan

Berdasarkan hasil social mapping diketahui bahwa rendahnya literasi keagamaan siswa UPT SMA Negeri 1 Toraja Utara disebabkan oleh pergaulan bebas, pernikahan beda agama dan dominasi budaya daerah yang kuat. Siswa tidak mampu membedakan batasan berbagai praktik adat istiadat yang dapat dilakukan siswa muslim dan Non Muslim. Oleh karena itu dibutuhkan pendampingan penguatan literasi keagamaan melalui kerja sama dengan berbagai pihak terkait.

Pihak sekolah bekerja sama dengan pihak kampus untuk memberikan pendampingan kepada siswa minoritas dengan terlebih dahulu mengkaji kebutuhan siswa serta membekali mahasiswa dengan materi pengabdian yang akan mereka ajarkan. Pengabdian ini menunjukkan bahwa untuk menguatkan literasi keagamaan siswa muslim minoritas, dapat diterapkan strategi penguatan literasi keagamaan meliputi pendampingan kegiatan intrakulikuler dan kokurikuler. Kegiatan intrakulikuler dan kokurikuler dilakukan mahasiswa bersama dengan guru untuk membantu memberikan materi pendampingan. Pendampingan ini dilakukan pada kelompok keagamaan Islam minoritas, sehingga harus dilakukan secara perlahan. Kuatnya arus kepercayaan budaya lokal yang kompleks juga turut memengaruhi keberhasilan tindakan. Selain itu, alokasi waktu yang sangat terbatas hanya menghasilkan peningkatan kemampuan disemua indikator, tanpa melihat implementasi/tindakan/pengamalan siswa secara langsung. Hal yang dimaksud seperti kemampuan membaca Al-Quran, pembiasaan salat. Demikian halnya dengan penguatan nilai profil pelajar rahmatan lil Alamin yang belum dapat dilihat secara menyeluruh. Oleh karena itu, kegiatan monitoring dan evaluasi dilakukan secara rutin dan berkesinambungan.

Pengabdian ini dilakukan dalam sampel yang relative kecil dan waktu yang singkat. Penelitian lebih lanjut diharapkan dapat menerapkan pengabdian ini dalam jumlah subjek dampingan yang lebih besar dan kurun waktu yang lebih lama untuk menilai keefektivan pendampingan ini dan menyempurnakan kerangka kerja yang telah disusun. Selain itu, peluang perbaikan berkelanjutan dapat dilakukan melalui pengembangan materi, media kurikuler lebih teknis yang dapat diorientasikan. Memperbanyak kegiatan kokurikuler dengan berkolaborasi antar guru mata pelajaran untuk mencapai CP yang relevan. Selain itu pembentukan kegiatan ekstrakurikuler PAI dengan mengelaborasi penanaman skill yang bercorak budaya Toraja.

🤖 Deklarasi Penggunaan AI

/

💰 Pendanaan

Pengabdian kepada masyarakat ini didanai oleh Program Litapdimas Kementerian Agama, hibah nomor 233140000076830.

🤝 Ucapan Terima Kasih

/

⚖️ Konflik Kepentingan

Para penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan.

📚 Daftar Pustaka

Adnas, D. A., & Anjastri, M. (2022). Perancangan Media Pembelajaran Rukun Islam Dalam Betuk Komik Digital. Journal of Information System and Technology, 03(01), 114–133.

Agirdag, O., Merry, M. S., & Van Houtte, M. (2016). Teachers’ Understanding of Multicultural Education and the Correlates of Multicultural Content Integration in Flanders. Education and Urban Society, 48(6), 556–582. https://doi.org/10.1177/0013124514536610

Asari, A., Kurniawan, T., Ansor, S., Bagus, A., & Rahma, N. (2019). Kompetensi Literasi Digital bagi Guru dan Pelajar di Lingkungan Sekolah Kabupaten Malang. BIBLIOTIKA: Jurnal Kajian Perpustakaan Dan Informasi, 3(2), 98–104. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.17977/um008v3i22019p98-104

Ashraf, M. A. (2018). Islamized ideologies in the Pakistani education system: The need for religious literacy. Religious Education, 113(1), 3–13. https://doi.org/10.1080/00344087.2017.1384971

Banks, J. A. (1993). Multicultural education: Development, dimensions, and challenges. The Phi Delta Kappan, 75(1), 22-28.

Bergen, R., Lowry, E., Gregg, L., Kim, H., Lee, M., Wu, A., Gibson, B. E., & Shaw, J. (2023). Habituation for professional learning: a qualitative study of physiotherapy students’ experiences working with anatomy cadavers. Physiotherapy Theory and Practice, 1–14. https://doi.org/10.1080/09593985.2023.2232865

Cahya, A. N., Hartono, S., Reni, R., Hasanah, N., Ajie, M. F., Dian, M., Rahman, F., Wati, E., Hidayat, A., Hidayah, N., Viana, O., Liya, R., & Rahmat, S. (2022). Penguatan Literasi Anak Di Desa Kuala Sempang Kabupaten Bintan. JPPM Kepri: Jurnal Pengabdian Dan Pemberdayaan Masyarakat Kepulauan Riau, 2(1), 13–21. https://doi.org/10.35961/jppmkepri.v2i1.421

Daddow, A., Cronshaw, D., Daddow, N., & Sandy, R. (2019). Strengthening inter-cultural literacy and minority voices through narratives of healthy religious pluralism in higher education. International Journal of Inclusive Education, 25(10), 1174–1189. https://doi.org/10.1080/13603116.2019.1600056

Destriani, Rasmini, Amriyadi, & Jeniati, H. (2022). Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Menanamkan Pemahaman Literasi Keagamaan. Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra Bakti, 9(1), 1–12. https://doi.org/10.38048/jipcb.v9i1.645

Dewey, J. (1990). The School and Society and The Child and the Curriculum. University of Chicago Press. https://doi.org/10.7208/chicago/9780226112114.001.0001

Faqih, M., Abidin, Z., & Faizin, K. (2023). Strengthening Religious Moderation At The Nurul Islam Antirogo Jember Islamic Boarding School. International Journal of Education, Vocational and Social Science, 02(03), 214–228.

Fauzan. (2022). State Policy Towards Religious Moderation: A Review Of The Strategy For Strengthening Religious Moderation In Indonesia. Nusantara : Journal of Law Studies, 2(1), 70–78.

Green, D. (2012). From poverty to power: How active citizens and effective states can change the world. Oxfam.

Hasanuddin, H., & Ginting, N. (2021). Strengthening Religious Moderation Literacy For Muhammadiyah Citizens, In The Leaders Of The Muhammadiyah Branch, Medan City, North Sumatera Indonesia. International Journal Of Community Service, 1(3), 217–224. https://doi.org/10.51601/ijcs.v1i3.49

Jonas, M. E. (2018). The role of practice and habituation in Socrates’ theory of ethical development. British Journal for the History of Philosophy, 26(6), 987–1005. https://doi.org/10.1080/09608788.2018.1466109

Lindheim, T. (2020). Developing Religious Literacy through Conversational Spaces for Religion in the Workplace. Nordic Journal of Religion and Society, 33(1), 16–29. https://doi.org/10.18261/issn.1890-7008-2020-01-02

Mansyur, U., & Rahmat, R. (2020). Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di MTs Mizanul Ulum Sanrobone Kabupaten Takalar. Urnal Ilmiah Pengabdian Masyarakat, 3(2), 1–8. https://doi.org/10.35906/resona.v3i2.383

Misbah, T. L., Asyura, K., Wirianto, D., Masrizal, & Rustan, E. (2023). Application of the structural guidance model for mualaf banda aceh in strengthening education islamic values. Multidisciplinary Science Journal, 5(4). https://doi.org/10.31893/multiscience.2023047

Moore, D. L. (2010). American Academy of Religion Guidelines for Teaching about Religion in K−12 Public Schools in the United States. GA: American Academy of Religion.

Narulita, S., Aulia, R., Amaliyah, A., & Hadiyanto, A. (2022). Strengthening Religious Literacy During the Pandemic. Proceedings of the First International Conference on Democracy and Social Transformation, ICON-DEMOST 2021, September 15, 2021, Semarang, Indonesia, 1–5. https://doi.org/10.4108/eai.15-9-2021.2315572

Prothero, S. (2007). Religious Literacy: What Every American Needs to Know – And Doesn’t. Harper Collins.

Seiple, C., & Hoover, D. R. (2021). A Case for Cross-Cultural Religious Literacy. Review of Faith and International Affairs, 19(1), 1–13. https://doi.org/10.1080/15570274.2021.1874165

Shaw, M. (2020). Towards a religiously literate curriculum–religion and worldview literacy as an educational model. Journal of Beliefs and Values, 41(2), 150–161. https://doi.org/10.1080/13617672.2019.1664876

Veronika, R., Ginting, B., Arindani, D., Mega, C., Lubis, W., & Shella, A. P. (2022). Literasi Digital Sebagai Wujud Pemberdayaan Masyarakat. Jurnal Pasopati, 3(2), 118–122. https://doi.org/https://doi.org/10.14710/pasopati.2021.10869

Wahyuni, L. S., & Ikawati, L. (2023). Strengthening Religious Moderation for Students Through Literature Literacy Program. Journal of Language, 5(1), 304–308.

Yasin, M., & Khasbulloh, M. N. (2022). Moderation, Pandemics and The Era of Disruption: Strengthening Literacy Religious in Urban Millennials After The Outbreak Of Covid-19. Didaktika Religia, 10(1), 109–128.