e-ISSN: 2830-2567 | Beranda Jurnal
1 Sarjana Administrasi Rumah Sakit, Universitas Indonesia Maju, Jakarta, Indonesia
2 Diploma III Administrasi Rumah Sakit, Universitas Indonesia Maju, Jakarta, Indonesia
3 Profesi Pendidikan Profesi Bidan, Universitas Indonesia Maju, Jakarta, Indonesia
Masalah utama yang dihadapi Posyandu adalah penggunaan sistem pencatatan manual yang berisiko menyebabkan kehilangan data serta rendahnya literasi digital kader dalam pengelolaan layanan kesehatan ibu dan anak. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas kader Posyandu melalui digitalisasi manajemen layanan dan edukasi kesehatan berbasis aplikasi POSELIA. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif dengan tahapan identifikasi masalah, perencanaan program, implementasi, evaluasi, dan penyusunan rencana keberlanjutan. Kegiatan dilaksanakan pada kader Posyandu di Kelurahan Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa kader mampu mengoperasikan aplikasi POSELIA secara mandiri untuk pencatatan, pelaporan, dan penyebaran edukasi kesehatan ibu dan anak. Evaluasi pelatihan menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan, ditandai dengan kenaikan rerata skor dari 13,375 pada pre-test menjadi 26,063 pada post-test (p < 0,01). Selain itu, terjadi peningkatan tingkat keberdayaan mitra yang mencakup aspek manajemen layanan dan sosial kemasyarakatan dari level dasar menjadi level mandiri. Program ini direkomendasikan sebagai model penguatan Posyandu berbasis digital yang efektif dan berpotensi direplikasi di wilayah lain guna mendukung transformasi layanan kesehatan berbasis masyarakat.
The main problems faced by Posyandu are the use of manual recording systems, which increase the risk of data loss, and the low level of digital literacy among cadres in managing maternal and child health services. This community service program aimed to strengthen the capacity of Posyandu cadres through the digitalization of service management and health education using the POSELIA application. A participatory approach was employed, consisting of problem identification, program planning, implementation, evaluation, and the development of a sustainability plan. The activities were conducted with Posyandu cadres in Srengseng Sawah Village, South Jakarta. The results indicated that cadres were able to independently operate the POSELIA application for recording, reporting, and disseminating maternal and child health education. Training evaluation demonstrated a significant increase in knowledge, with the mean score rising from 13.375 in the pre-test to 26.063 in the post-test (p < 0.01). Furthermore, the level of partner empowerment improved in both service management and social–community aspects, shifting from a basic to an independent level. This program is recommended as an effective digital-based model for strengthening Posyandu services and has strong potential for replication in other regions to support the transformation of community-based health services.
• Pemberdayaan remaja melalui pembentukan Posyandu Remaja dengan pendekatan pendidik sebaya (peer educator) dapat meningkatkan pengetahuan serta perilaku sehat terkait GERMAS, pencegahan penyakit tidak menular (PTM), imunisasi, dan kesehatan reproduksi
• Pelibatan aktif remaja sebagai agen perubahan melalui model Integrasi Layanan Primer (ILP) menjadi salah satu strategi kunci untuk memperkuat akses layanan kesehatan dan mewujudkan promosi kesehatan remaja yang berkelanjutan di masyarakat
Posyandu adalah layanan kesehatan berbasis masyarakat yang berperan penting dalam memantau tumbuh kembang anak, memberikan imunisasi, dan memberi edukasi kesehatan untuk ibu hamil dan menyusui. Posyandu juga membantu mempermudah akses layanan bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, terutama di daerah pedesaan atau wilayah yang jauh dari fasilitas kesehatan. Meski sangat bermanfaat, kegiatan Posyandu masih menghadapi beberapa kendala, seperti pencatatan dan pelaporan yang belum efektif serta cara penyampaian edukasi yang belum mengikuti perkembangan teknologi (Santoso & Hidayat, 2025).
Hasil observasi di Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, yang memiliki 22 Posyandu aktif, menunjukkan bahwa sistem pencatatan dan pelaporan kegiatan masih dilakukan secara manual menggunakan buku register. Kondisi ini menyebabkan berbagai permasalahan, seperti risiko kehilangan data, duplikasi pencatatan, keterlambatan pelaporan ke Puskesmas, serta keterbatasan dalam pemantauan status kesehatan ibu dan anak secara real time. Selain itu, meskipun sebagian besar kader telah memiliki perangkat smartphone, tingkat literasi digital mereka masih relatif rendah sehingga pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan layanan kesehatan belum optimal.
Dalam hal edukasi kesehatan, penyuluhan kepada masyarakat masih banyak menggunakan metode ceramah tanpa bantuan media visual atau digital. Padahal, hasil penelitian menunjukkan bahwa metode penyuluhan menggunakan media audio-visual jauh lebih efektif dibandingkan ceramah biasa (Wahyuni Osrin, 2017). Penyampaian edukasi kesehatan yang masih menggunakan pola komunikasi satu arah membuat masyarakat tidak memperoleh kesempatan untuk bertanya atau mengklarifikasi informasi yang diterima. Akibatnya, daya serap pesan kesehatan menjadi terbatas dan informasi yang disampaikan tidak tersampaikan secara merata kepada seluruh sasaran, terutama bagi ibu yang tidak dapat hadir secara langsung pada kegiatan Posyandu. Ketidakterlibatan aktif masyarakat dalam proses komunikasi ini menimbulkan kesenjangan akses informasi kesehatan, yang pada akhirnya dapat memengaruhi pemahaman mereka terkait gizi seimbang, jadwal dan manfaat imunisasi, serta praktik perawatan anak. Apabila kondisi ini dibiarkan, maka kualitas edukasi kesehatan yang diberikan di tingkat komunitas akan kurang optimal dan tidak mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara menyeluruh (Rifad Zubedi, 2025).
Perkembangan teknologi informasi mendorong digitalisasi layanan kesehatan di tingkat komunitas sebagai kebutuhan yang tidak dapat dihindari. Penggunaan aplikasi web dan media digital terbukti mampu meningkatkan efisiensi pencatatan, pelaporan, serta memperluas jangkauan edukasi kesehatan. Teknologi seperti telemedicine dan aplikasi kesehatan seluler juga membantu mengatasi hambatan jarak dan akses layanan. Namun, keberhasilan penerapan digitalisasi sangat bergantung pada kesiapan sumber daya manusia, terutama kader Posyandu, serta ketersediaan infrastruktur digital yang memadai. Oleh karena itu, inovasi digital di layanan kesehatan perlu disertai peningkatan literasi dan kemampuan teknis agar transformasi dapat berjalan optimal (Maulana et al., 2024; Adinda et al., 2024).
Berbagai inovasi sistem informasi Posyandu sebenarnya telah dikembangkan sebelumnya, seperti iPosyandu dan aplikasi pencatatan digital lainnya yang berfokus pada digitalisasi data layanan kesehatan. Namun, sebagian besar sistem tersebut masih menempatkan kader sebagai pengguna pasif yang hanya berfungsi sebagai penginput data, tanpa disertai proses pendampingan intensif dan penguatan kapasitas secara berkelanjutan. Berbeda dengan pendekatan tersebut, aplikasi POSELIA dikembangkan tidak hanya sebagai alat pencatatan dan pelaporan, tetapi sebagai platform pemberdayaan kader yang mengintegrasikan fungsi manajemen layanan, media edukasi kesehatan digital, serta pelatihan literasi digital secara terstruktur. Dengan demikian, kebaruan (novelty) dari program ini terletak pada integrasi antara inovasi teknologi dan strategi pemberdayaan kader Posyandu secara simultan.
Digitalisasi dalam konteks program ini tidak dipahami semata-mata sebagai penyediaan aplikasi berbasis web, melainkan sebagai proses transformasi budaya kerja kader Posyandu dari sistem manual menuju praktik kerja digital yang lebih sistematis, kolaboratif, dan berbasis data. Transformasi ini menuntut perubahan cara berpikir, pola kerja, serta kesiapan sosial kader dalam mengadopsi teknologi sebagai bagian dari rutinitas pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, pendekatan Participatory Action Research (PAR) dipilih karena memungkinkan terjadinya proses belajar bersama melalui kolaborasi, refleksi, dan pendampingan bertahap antara tim pengabdian dan kader Posyandu, sehingga adopsi aplikasi POSELIA tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga melekat sebagai praktik kerja baru yang berkelanjutan.
Berdasarkan permasalahan tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dirancang melalui program Digitalisasi Manajemen Posyandu dan Edukasi Kesehatan Ibu dan Anak Berbasis Aplikasi POSELIA. Tujuan kegiatan ini adalah: (1) meningkatkan efisiensi sistem pencatatan dan pelaporan kegiatan Posyandu melalui pemanfaatan aplikasi berbasis web; (2) meningkatkan literasi dan keterampilan digital kader Posyandu; (3) mengembangkan media edukasi kesehatan digital yang mudah diakses masyarakat; serta (4) mewujudkan model Posyandu Mandiri Berbasis Digital yang berkelanjutan dan berpotensi direplikasi di wilayah lain.
Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR), yaitu metode yang menekankan kolaborasi aktif antara tim pengabdian, mitra masyarakat, dan pemangku kepentingan dalam seluruh tahapan kegiatan (Uswatun Khasanah. et al., 2024) . Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan karakteristik program yang berorientasi pada pemberdayaan kader Posyandu melalui partisipasi langsung, refleksi bersama, serta penerapan inovasi teknologi secara bertahap. Model PAR memungkinkan terjadinya proses belajar bersama dan peningkatan kapasitas mitra yang berkelanjutan.
Pelaksanaan kegiatan dibagi menjadi dijalankan dalam lima tahapan pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat. Setiap tahap dirancang secara sistematis agar seluruh proses berjalan terarah dan menghasilkan output sesuai dengan tujuan kegiatan.
Gambar 1 Bagan Alur Pelaksanaan Kegiatan Pengabdian
Pelaksanaan program pengabdian ini diawali dengan tahap identifikasi dan analisis kebutuhan mitra melalui survei lapangan, observasi langsung, dan wawancara mendalam dengan kader Posyandu serta tenaga kesehatan Puskesmas. Proses ini bertujuan memperoleh gambaran komprehensif mengenai kondisi operasional Posyandu, khususnya terkait praktik pencatatan manual, keterlambatan pelaporan, rendahnya literasi digital kader, serta metode edukasi kesehatan yang masih bersifat konvensional dan belum menjangkau seluruh sasaran. Temuan pada tahap awal mengindikasikan adanya ketergantungan yang tinggi pada sistem register berbasis kertas, belum optimalnya kemampuan kader dalam mengoperasikan perangkat digital, serta ketiadaan media edukasi kesehatan yang dapat diakses secara luas oleh masyarakat.
Berdasarkan hasil analisis kebutuhan tersebut, permasalahan kemudian dirumuskan menjadi fokus intervensi program yang mencakup tiga aspek utama: manajemen pencatatan dan pelaporan, literasi digital kader, dan efektivitas edukasi kesehatan. Sistem pencatatan manual dinilai tidak efisien, rentan menimbulkan duplikasi dan kehilangan data, serta menyebabkan keterlambatan dalam pelaporan kepada Puskesmas. Di sisi lain, meskipun sebagian kader memiliki perangkat gawai, kemampuan mereka dalam memanfaatkan teknologi pendukung layanan kesehatan masih terbatas. Selain itu, metode edukasi kesehatan yang digunakan selama ini bersifat satu arah, kurang interaktif, dan belum mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas. Berdasarkan perumusan masalah tersebut, program kemudian mengembangkan solusi yang komprehensif, yakni implementasi aplikasi E-Posyandu sebagai sistem digital pencatatan dan pelaporan, pelatihan literasi digital untuk meningkatkan kompetensi kader, serta pengembangan media edukasi digital berbasis infografis dan video interaktif.
Tahap selanjutnya adalah perencanaan program, yang mencakup penyusunan rangkaian kegiatan, pengembangan materi pelatihan, serta perancangan aplikasi Posyandu digital berbasis web. Pada fase ini, pengembangan teknologi dan strategi pelatihan diselaraskan dengan kapasitas kader serta temuan analisis kebutuhan sebelumnya, sehingga intervensi yang diberikan relevan dengan konteks operasional di lapangan. Perencanaan juga melibatkan dosen dan mahasiswa untuk memastikan adanya transfer pengetahuan dan keberlanjutan kegiatan.
Implementasi program menjadi inti dari keseluruhan rangkaian kegiatan pengabdian. Pada tahap ini, kader mendapatkan pelatihan intensif terkait penggunaan aplikasi E-Posyandu dan pembuatan konten edukasi kesehatan digital. Aplikasi mulai dioperasionalkan sebagai sistem pencatatan, pelaporan, dan pemantauan tumbuh kembang anak secara real time, sehingga memungkinkan pengelolaan data kesehatan yang lebih efisien, akurat, dan terintegrasi. Pelaksanaan intervensi ini sekaligus bertujuan membangun kemandirian kader dalam mengoperasikan teknologi kesehatan berbasis digital.
Pelatihan literasi digital dan penggunaan aplikasi POSELIA ini dilaksanakan melalui delapan sesi pertemuan, dengan total pendampingan intensif selama 18 jam (2-3 jam per sesi). Rangkaian kegiatan dimulai dengan penguatan dasar dunia digital dan etika berinternet pada tiga sesi pertama. Selanjutnya, tiga sesi berikutnya difokuskan pada praktik langsung penggunaan fitur POSELIA, mulai dari input data hingga manajemen laporan kesehatan. Program ini ditutup dengan dua sesi terakhir yang melatih kader memproduksi konten edukasi digital sekaligus mengevaluasi kemandirian mereka. Untuk memastikan pemahaman yang mendalam, setiap sesi kami akhiri dengan diskusi interaktif dan refleksi bersama. Kader dianggap telah mandiri apabila mampu mengoperasikan seluruh fungsi aplikasi secara tepat tanpa bantuan tim pengabdian masyarakat.
Tahap akhir mencakup evaluasi, refleksi, dan penyusunan rencana keberlanjutan program. Evaluasi dilakukan bersama kader Posyandu, pemerintah kelurahan, dan Puskesmas untuk menilai efektivitas implementasi aplikasi serta dampaknya terhadap peningkatan keterampilan kader dan jangkauan edukasi kesehatan. Refleksi dilakukan sebagai umpan balik untuk perbaikan layanan digital dan peningkatan kapasitas kader. Lebih jauh, program dirancang agar dapat direplikasi di wilayah lain sebagai model Posyandu Mandiri Berbasis Digital yang berkelanjutan.
Melalui keseluruhan tahapan tersebut, program pengabdian bukan hanya menghasilkan inovasi teknologi, tetapi juga mendorong transformasi sosial melalui penguatan kapasitas kader dan modernisasi sistem layanan kesehatan masyarakat berbasis digital. Evaluasi efektivitas intervensi dilaksanakan dengan membandingkan skor pengetahuan kader sebelum dan sesudah kegiatan. Analisis dilakukan menggunakan paired t-test, di mana sebelumnya dilakukan uji normalitas untuk memastikan metode statistik yang digunakan sudah tepat.
Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini menghasilkan berbagai capaian yang langsung menjawab kebutuhan mitra sebagaimana diidentifikasi pada tahap awal. Hasil tersebut mencakup perbaikan dalam pengelolaan data Posyandu, meningkatnya kemampuan kader dalam menggunakan teknologi digital, tersedianya media edukasi kesehatan berbasis digital, serta bertambahnya pengetahuan kader melalui pelatihan yang diberikan. Secara keseluruhan, capaian tersebut menunjukkan bahwa pendekatan intervensi yang menggabungkan teknologi, pendampingan, dan pemberdayaan kader dapat berjalan secara efektif dan memberi dampak nyata bagi peningkatan kualitas layanan Posyandu (Susanti et al., 2023).
Pada aspek manajemen data, digitalisasi melalui implementasi aplikasi E-Posyandu POSELIA berperan penting dalam mengatasi berbagai kendala yang sebelumnya muncul akibat penggunaan sistem pencatatan manual. Sistem berbasis kertas selama ini menimbulkan hambatan berupa keterlambatan pelaporan, potensi kehilangan data, serta kesulitan dalam melakukan rekapitulasi informasi. Melalui uji coba lapangan, kader Posyandu menunjukkan kemampuan untuk melakukan input data secara sistematis menggunakan perangkat gawai yang telah dimiliki. Aplikasi POSELIA memungkinkan pencatatan kehadiran balita, status gizi, imunisasi, dan data ibu hamil dilakukan dengan lebih cepat dan akurat, serta mendukung pelaporan real time kepada Puskesmas.
Gambar 2. Kader posyandu input data menggunakan aplikasi POSELIA
Gambar 3. Tampilan aplikasi POSELIA
Gambar 3 memperlihatkan bahwa aplikasi tidak hanya berfungsi sebagai media penyimpanan data, tetapi juga sebagai alat bantu manajemen layanan Posyandu yang terstruktur dan mudah dioperasikan oleh kader. Keberadaan fitur input data dan dasbor laporan memperkuat capaian tujuan pengembangan aplikasi berbasis web dalam mendukung pencatatan dan pelaporan yang lebih efisien dan terintegrasi.
Pada aspek literasi digital, pelatihan yang diberikan menjadi faktor kunci dalam meningkatkan kompetensi kader dalam mengoperasikan aplikasi digital. Melalui rangkaian materi yang mencakup pemahaman dasar dunia digital, etika berinternet, hingga praktik langsung penggunaan aplikasi, para kader memperoleh penguatan kompetensi yang sebelumnya masih terbatas (Setia et al., 2024). Kader mendapatkan pemahaman mengenai navigasi menu, penggunaan fitur-fitur aplikasi POSELIA, serta prinsip keamanan dan etika pengelolaan data kesehatan. Pendampingan yang intensif memungkinkan kader mempraktikkan keterampilan tersebut secara langsung, sehingga pada akhir program mereka mampu mengoperasikan aplikasi secara mandiri. Peningkatan literasi digital ini merupakan prasyarat penting bagi keberlanjutan implementasi sistem digital di lingkungan Posyandu (M. Sayuti et al., 2024).
Selain aspek manajemen, program juga memperkuat fungsi edukasi kesehatan melalui pengembangan dan penyebaran media edukasi digital. Selama ini kegiatan penyuluhan dilakukan secara lisan tanpa dukungan media visual sehingga jangkauan informasi terbatas (Larasati Puspita Saridewi, 2023; Rizki et al., 2024). Melalui program ini dikembangkan berbagai media edukasi dalam bentuk infografis dan video singkat yang kemudian disebarkan melalui aplikasi POSELIA dan platform media sosial komunitas. Kader juga dilatih untuk memproduksi konten edukatif secara mandiri, sehingga kegiatan sosialisasi kesehatan dapat berlangsung secara berkesinambungan.
Evaluasi pelatihan dilakukan untuk menilai efektivitas program dalam meningkatkan pengetahuan kader terhadap materi yang disampaikan (Zalela & Prasiwi, 2023). Pengukuran dilakukan menggunakan pre-test dan post-test, yang menunjukkan adanya peningkatan skor secara konsisten di seluruh peserta. Temuan ini mengindikasikan bahwa pelatihan yang diberikan tidak hanya meningkatkan pemahaman kader terhadap materi digital dan kesehatan, tetapi juga memperkuat kapasitas mereka dalam menjalankan tugas sebagai pengelola layanan kesehatan berbasis masyarakat.
Table 1. Hasil Evaluasi Pelatihan Nilai Pre Test dan Post Test
Responden | Nilai Pre Test | Nilai Post Test |
1 | 16 | 26 |
2 | 7 | 21 |
3 | 8 | 22 |
4 | 14 | 24 |
5 | 16 | 26 |
6 | 15 | 25 |
7 | 15 | 26 |
8 | 16 | 26 |
9 | 15 | 25 |
10 | 17 | 27 |
11 | 18 | 28 |
12 | 17 | 27 |
13 | 15 | 27 |
14 | 9 | 29 |
15 | 8 | 29 |
16 | 8 | 29 |
Total | 214 | 417 |
Rerata | 13,375 | 26,0625 |
Std Deviasi | 3,87943295 | 2,32289331 |
Min | 7 | 21 |
Max | 18 | 29 |
Uji Normalitas | 0,107 | 0,2939 |
Uji Beda | 0,00 |
Peningkatan pengetahuan dan keterampilan tersebut selanjutnya berdampak pada meningkatnya tingkat keberdayaan kader Posyandu. Dalam penelitian ini, kategori “level mandiri” ditetapkan berdasarkan dua parameter utama, yaitu aspek manajemen dan aspek sosial kemasyarakatan. Pada aspek manajemen, kader dinyatakan mencapai level mandiri apabila mampu melakukan pencatatan dan pelaporan data Posyandu melalui aplikasi POSELIA tanpa pendampingan tim pengabdi, serta mampu mengelola data layanan secara konsisten dan tepat waktu. Pada aspek sosial kemasyarakatan, kemandirian ditunjukkan melalui kemampuan kader dalam memproduksi dan menyebarkan konten edukasi kesehatan secara mandiri serta berperan aktif sebagai fasilitator informasi kesehatan di lingkungan masyarakat. Dengan demikian, peningkatan level keberdayaan dari “level dasar” menjadi “level mandiri” mencerminkan perubahan nyata baik pada kapasitas teknis kader maupun pada peran sosial mereka dalam mendukung layanan kesehatan berbasis komunitas.
Hasil pelaksanaan menunjukkan bahwa kader mampu mencapai tingkat kemandirian yang lebih tinggi, baik dalam fungsi teknis maupun edukatif. Mereka dapat melakukan input dan pengelolaan data secara digital, mengoperasikan aplikasi POSELIA tanpa pendampingan, serta menghasilkan dan mempublikasikan konten edukasi kesehatan berbasis digital secara mandiri. Kemampuan ini menandai keberhasilan program tidak hanya dalam menyelesaikan kendala operasional, tetapi juga dalam membangun kapasitas sumber daya manusia Posyandu secara berkelanjutan.
Program pengabdian kepada masyarakat melalui digitalisasi manajemen Posyandu dan penguatan edukasi kesehatan berbasis aplikasi POSELIA terbukti efektif meningkatkan kapasitas kader secara signifikan. Secara kuantitatif, terdapat peningkatan rerata skor pengetahuan kader dari 13,375 menjadi 26,063 (p < 0,01). Temuan menarik lainnya adalah penurunan nilai standar deviasi dari 3,88 menjadi 2,32, yang mengindikasikan bahwa program ini tidak hanya meningkatkan pengetahuan secara rata-rata, tetapi juga berhasil meratakan kompetensi digital di antara kader sehingga kesenjangan kemampuan antar individu menjadi lebih kecil.
Transformasi dari sistem manual ke digital melalui aplikasi POSELIA memberikan dampak efisiensi yang nyata dengan meminimalkan risiko kehilangan data, menghapus duplikasi pencatatan, serta mempercepat proses pelaporan ke Puskesmas yang sebelumnya menjadi kendala utama. Selain itu, peningkatan level keberdayaan dari tingkat dasar ke mandiri menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif yang diterapkan mampu membangun kemandirian kader dalam mengelola layanan dan memproduksi konten edukasi kesehatan secara berkelanjutan. Sebagai rekomendasi, model Posyandu Mandiri Berbasis Digital ini sangat potensial untuk direplikasi di wilayah lain dengan tetap mengedepankan pendampingan intensif dan integrasi sistem yang lebih luas..
/
Pengabdian kepada masyarakat ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2025, Skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM).
Apresiasi dan terima kasih kami sampaikan kepada Universitas Indonesia Maju atas dukungan institusional yang diberikan dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. Penghargaan juga kami sampaikan kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Indonesia Maju atas fasilitasi dan pendampingan yang diberikan sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kegiatan. Ucapan terima kasih turut kami sampaikan kepada para kader Posyandu di Kelurahan Srengseng Sawah sebagai mitra utama atas partisipasi aktif, komitmen, dan kontribusi nyata dalam mendukung keberhasilan implementasi program di lapangan..
Para penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan.
Adinda, P., Hutagalung, R., Parapat, R. S., Rahmanda, L., Andila, F. H., & Purba, S. H. (2024). Peran teknologi digital dalam mendorong akses kesehatan yang merata pada masyarakat: Tinjauan literatur. Jurnal Kesehatan Tambusai, 5, 13809–13816.
Khasanah, U., Trisnawati, S. N. I. (Ed.), Isma, A., Alanur, S. N., Maida, A. N., Nainiti, N. P. P. E., Amin, L. H., Aryawati, N. P. A., Murwati, & Maulida, H. C. (2024). Metodologi pengabdian kepada masyarakat: Teori dan implementasi. Tahta Media Group.
Madabun, J., & Tuanaya, W. (2025). Menuju kemandirian negeri: Edukasi SPMDesa di Negeri Tamilouw tahun 2025. Ampoen, 3(2). https://doi.org/10.32672/ampoen.v3i2.3880
Kuwabara, A., Su, S., & Krauss, J. (2019). Utilizing digital health technologies for patient education in lifestyle medicine. American Journal of Lifestyle Medicine, 14(2), 137–142. https://doi.org/10.1177/1559827619892547
Saridewi, L. P., & Wibowo, R. B. (2023). Persepsi penyuluh terhadap strategi komunikasi dalam pemanfaatan media informasi di era digital di Kabupaten Kebumen. Journal of Agribusiness Science, 3(1), 8–19.
Sayuti, M., Wibawa, M. B., Payana, M. D., & Helinda, A. (2024). Implementasi aplikasi Android sederhana untuk penguatan layanan masyarakat. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Bidang Inotek, 6(2), 1–8. https://jurnaal.uui.ac.id/index.php/jpkmi/article/view/4700/2213
Maulana, F., & Sony, I. (2024). Digitalisasi Posyandu menggunakan sistem informasi berbasis web untuk layanan kesehatan masyarakat di Kelurahan Tunggakjati dan Mekarjati. Jurnal Teknologi Informasi dan Komputer, 2(12), 3962–3971.
Zubedi, R., & Gassing, S. S. (2025). Pola komunikasi kader Posyandu lansia. Jurnal Ikraith-Humaniora, 9(2). https://doi.org/10.37817/ikraith-humaniora.v9i2
Rizki, N., Fahrimal, Y., & Husna, A. (2024). Strategi komunikasi kesehatan untuk mendukung program imunisasi bayi dan balita di Kabupaten Aceh Barat. Content: Journal of Communication Studies, 2(1), 1–11. https://doi.org/10.32734/cjcs.v2i1.16310
Santoso, D., & Hidayat, A. T. (2025). Optimization of online queuing systems in Posyandu health services using the prototype method with FIFO integration. Indonesian Journal of Machine Learning and Computer Science, 5(1), 150–158.
Setia, L. D., Yulianto, S. V., & Kudhori, A. (2024). Peningkatan kompetensi literasi digital kader PKK sebagai smart digital citizenship. Adimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 1(1), 35–40. https://doi.org/10.24269/adi.v8i1.7975
Susanti, A. I., Nuraini, A., Ferdian, D., Nurparidah, R., & Jayanti, E. D. (2023). Penguatan kader melalui literasi digital dalam pencatatan dan pelaporan berbasis aplikasi iPosyandu. Media Karya Kesehatan, 6(2), 284–299.
Wahyuni, O. (2017). Analisis perbandingan penyuluhan kesehatan metode ceramah dengan audio visual terhadap tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi (pubertas) pada siswa. Terapeutik Jurnal, 2(1), 47–52.
Zalela, W. M. P., & Prasiwi, D. P. (2023). Efektivitas pelatihan kader dalam rangka peningkatan kompetensi dan keterampilan kader di Puskesmas Pasar Minggu. In Proceedings of the Seminar Nasional Fakultas Ilmu Kesehatan (pp. 145–157). Universitas Muhammadiyah Surakarta. https://proceedings.ums.ac.id/semnasfik/article/view/4322/3970