Jurnal Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat Indonesia

e-ISSN: 2830-2567 | Beranda Jurnal

Vol: 5 Issue: 1 Halaman: 159-172 Tahun: 2026
DOI: https://doi.org/10.56303/jppmi.v5i1.1067
OPEN ACCESS
CC BY-NC-SA
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License
QR Code
SCAN TO READ

Strategi Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani dalam Pemanfaatan Pekarangan untuk Ketahanan Pangan dan Penurunan Prevalensi Stunting

Empowerment Strategy for Women Farmers' Groups in Utilizing Yards for Food Security and Reducing Stunting Prevalence

Musdalipa1*, Sulfiana1, Zaenal2, Andi Aso Sessu3, Rini Ariyani1, Reski2

1 Fakultas Petanian, Universitas Islam Makassar, Makassar, Indonesia

2 Fakultas Kesehatan, Universitas Islam Makassar, Makassar, Indonesia

3 Fakultas Teknik, Universitas Islam Makassar, Makassar, Indonesia

Diterima: 12 November 2025  |  Disetujui: 25 January 2026

Abstrak

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan sebagai strategi ganda dalam peningkatan ekonomi keluarga dan pencegahan stunting di Desa Pallantikang, Kabupaten Jeneponto. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif melalui tahapan sosialisasi, pelatihan, pendampingan, serta monitoring dan evaluasi. Pelatihan difokuskan pada budidaya tanaman menggunakan metode tanaman dengan metode hybrid yaitu kombinasi metode tanam sederhana dan sistem hidroponik serta edukasi gizi keluarga terintegrasi dengan kegiatan posyandu. Penerapan teknologi tepat guna berupa sistem irigasi otomatis 360° mendukung efisiensi penggunaan air dan keberlanjutan budidaya. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang gizi seimbang dari 50% menjadi 90%, frekuensi konsumsi sayur meningkat dari 1–2 kali menjadi 5–6 kali per minggu, serta peningkatan keterampilan budidaya sebesar 25%. Selain itu, proporsi anak dengan status gizi baik meningkat dari 10% menjadi 60% pada sepuluh balita yang dipantau selama program berlangsung. Program ini berkontribusi dalam peningkatan ketahanan pangan rumah tangga, kemandirian ekonomi keluarga, serta mendukung pencapaian SDGs 1 (Tanpa Kemiskinan) dan SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera).

Kata Kunci: Lahan pekarangan, Ekonomi keluarga, Stunting, Ketahanan pangan, Kelompok wanita tani

Abstract

This community service activity aims to optimize the use of home yards as a dual strategy for improving family income intergrating approach preventing stunting in Pallantikang Village, Jeneponto Regency. The implementation method employs a participatory approach through stages of socialization, training, mentoring, as well as monitoring and evaluation. The training focuses on plant cultivation using a hybrid method namely a combination of simple planting methods and hydroponic systems, as well as family nutrition education integrated with posyandu (community health post) activities. The application of appropriate technology in the form of a 360° automatic irrigation system supports water use efficiency and the sustainability of cultivation. The results of the activity showed an increase in community knowledge about balanced nutrition from 50% to 90%, the frequency of vegetable consumption rose from 1–2 times to 5–6 times per week, and cultivation skills improved by 25%. In addition, the proportion of children with good nutritional status increased from 10% to 60% in the 10 toodlers monitored during the program. This program contributes to enhancing household food security, family economic independence, and supports the achievement of SDGs 1 (No Poverty) and SDGs 3 (Good Health and Well-being).

Keywords: Home garden, Family economy, Stunting, Food security, Women's farmer group
💡 Pesan Kunci

• Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani melalui optimalisasi lahan pekarangan dengan metode budidaya hybrid dan edukasi gizi terbukti efektif sebagai strategi ganda untuk meningkatkan kemandirian ekonomi keluarga sekaligus memperbaiki status gizi balita dalam upaya menurunkan prevalensi stunting

🖼️ Graphical Abstract
Image
📄 1. Pendahuluan

Stunting masih menjadi salah satu tantangan utama pembangunan manusia di Indonesia. Prevalensi stunting nasional mencapai 21,6%, yang menunjukkan bahwa masalah gizi kronis masih menjadi tantangan serius, khususnya di wilayah pedesaan (Kementerian Kesehatan RI, 2023). Kondisi ini menjadi lebih mengkhawatirkan pada tingkat daerah termasuk kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan yang pernah mencatat prevalensi stunting mencapai 41,29%, jauh diatas rata-rata nasional (Munir et al., 2025). Tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa wilayah ini membutuhkan intervensi yang terarah dan berkelanjutan terutama pada tingkat rumah tangga dan komunitas desa.

Stunting tidak hanya mencerminkan masalah kekurangan gizi kronis, tetapi juga berimplikasi luas terhadap kualitas sumber daya manusia, produktivitas ekonomi, dan kemajuan sosial di masa depan (Amran et al., 2025). Anak yang mengalami stunting berisiko memiliki kemampuan kognitif rendah, daya saing lemah, serta rentan terhadap penyakit degeneratif ketika dewasa. Oleh karena itu, upaya pencegahan stunting perlu dilakukan secara komprehensif dengan memperhatikan faktor sosial, ekonomi dan ketersediaan pangan di tingkat keluarga..

Desa Pallantikang, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto, merupakan salah satu wilayah dengan prevalensi gizi kurang yang cukup tinggi dan tingkat produktivitas ekonomi ibu rumah tangga yang masih rendah (Sri Devi et al., 2025). Rendahnya produktivitas ekonomi ini berkaitan erat dengan banyaknya lahan pekarangan yang belum dimanfaatkan secara optimal. Kondisi tersebut berdampak pada keterbatasan akses rumah tangga terhadap pangan bergizi, khususnya sayuran segar yang selama ini sebagian besar harus dibeli dari pasar.

Hasil observasi awal menunjukkan bahwa rendahnyafrekuensi komsumsi sayuran pada keluarga sasaran yang hanya berkisar 1-2 kali per minggu, tidak semata-mata disebabkan oleh kurangnya pengetahuan gizi, tetapi juga keterbatasan ekonomi untuk membeli bahan pangan bergizi secara rutin. Situasi ini menciptakan hubungan sebab-akibat yang saling memperkuat antara rendahnya pendapatan rumah tangga, terbatasnya akses pangan bergizi dan tingginya risiko masalah gizi pada anak. Oleh karena itu, pemanfaatan lahan prkarangan menjadi solusi yang logis dan strategis untuk memutus rantai permaslaahan ekonomi dan kesehatan secara bersamaan.

Pemanfaatan lahan pekarangan melalui budidaya tanaman hortikultura, pengolahantanaman serta penerapan teknologi pertanian sederhana relah terbukti mampu meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga dan pendapatan keluarga (D. D. Lestari et al., 2024; Sitinjak et al., 2024). Selain menyediakan sumber pangan bergizi yang mudah diakses, kegiatan ini juga mendorong kemandirian ekonomi keluarga dan meningkatkan peran ibu rumah tangga dalam pengelolaan pangan dan gizi keluarga.

Berdasarkan kondisi tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dirancang untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan sebagai strategi ganda dalam meningkatkan ekonomi keluarga dan pencegahan stunting di Desa Pallantikang. Program ini dilaksanakan melalui pendekatan partisipatif dengan melibatkan kelompok wanita tani, pemerintah desa, serta kader posyandu dengan fokus pada pelatihan budidaya sayuran menggunakan metode hybrid, edukasi gizi keluarga dan penerapan teknologi tepat guna yang mudah di adopsi secara berkelanjutan.

🔬 2. Metode

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan di Desa Pallantikang, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto, Provinsi Sulawesi Selatan (Gambar 1).

Image

Gambar 1 Lokasi pengabdian (Sumber: Google Earth 2025)

Pemilihan lokasi didasarkan pada hasil identifikasi awal yang menunjukkan masih tingginya kasus gizi kurang dan stunting pada balita, serta rendahnya tingkat pemanfaatan lahan pekarangan oleh masyarakat setempat. Kegiatan ini dilaksanakan selama periode Juni hingga Desember 2025, melibatkan tim dosen, mahasiswa, pemerintah desa, serta kelompok wanita tani (KWT) sebagai mitra utama.

Sasaran utama program adalah 25 ibu rumah tangga anggota kelompok wanita tani yang memiliki lahan pekarangan tidak produktif dan berperan langsung dalam pengelolaan pangan keluarga. Dari total peserta tersebut, 10 anak balita dipilih sebagai subjek pemantauan status gizi berdasarkan kriteria memiliki resiko kurang gizi atau riwaya pertumbuhan tidak optimal berdasarkan data posyandu setempat.

Kegiatan ini dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif (Participatory Rural Appraisal/PRA), yang menekankan keterlibatan aktif masyarakat sejak tahap perencanaan hingga evaluasi (Hamdy, et, al 2024). Pendekatan ini dipilih agar kegiatan bersifat kolaboratif dan berkelanjutan. Metode pelaksanaan terdiri atas beberapa tahapan berikut (Tabel 1).

Tabel 1 Tahap pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat

Tahapan

Uraian

Persiapan dan Sosialisasi

Koordinasi dan perizinan dengan pemerintah setempat terkait program.

Sosialisasi program kepada masyarakat wanita tani (KWT Zahra)

Identifikasi masalah dan kebutuhan melalui diskusi sederhana dengan anggota KWT atau masyarakat.

Pemetaan potensi lahan pekarangan.

Pelatihan penanaman bibit sayur dan buah menggunakan teknik hybrid.

Pelatihan dan implementasi program

Pelatihan budidaya sayuran menggunakan hidroponik.

Edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya gizi keluarga.

Peninjauan gizi anak dengan pelaksanaan posyandu bekerja sama dengan lembaga internal masyarakat.

Monitoring dan Evaluasi

Pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan gizi masyarakat secara deskriptif.

Observasi terhadap perkembangan tanaman dan penggunaan pupuk

Survey komsumsi pangan keluarga dari hasil panen.

Metode budidaya yang diterapkan dalam kegiatan ini adalah metode hybrid, yaitu kombinasi antara metode tanam sederhana berbasis tanah dan sistem hidroponik (Megawati et al., 2025). Penggabungan kedua metode ini bertujuan untuk memberikan fleksibilitas pemanfaatan lahan pekarangan dengan kondisi yang beragam baik dari segi luas lahan, ketersediaan air, maupun kemampuan pengelolaan oleh ibu rumah tangga. Metode tanam sederhana diterapkan pada lahan terbuka menggunakan media tanah dan pupuk organik sedangkan sistem hidroponik diterapkan pada lahan sempit dengan prinsip sirkulasi air dan nutrisi tertutup yang lebih efisien dalam penggunaan air (Hanani et al., 2025). Pendekatan hybrid ini dipilih agar masyarakat dapat menyesuaikan teknik budidaya dengan kondisi pekarangan maisng-masing serta meningkatkan keberlanjutan produksi pangan rumah tangga.

Teknologi yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi sistem irigasi otomatis 3600 dan rumah tanaman sederhana mengguakan paranet. Sistem irigasi otomatis yang dilakukan secara terjadwal sehingga penggunaan air lebih efisien walaupun beberapa tahapnya masih manual. Selain itu rumah tanaman sederhana dibangun menggunakan paranet sebagai lahan utama untuk mengatur intensitas cahaya matahari dan melindungi tanaman dari hujan berlebih, sebagaimana direkomendasikan dalam praktik budidaya holtikultura skala rumah rangga (Suhendar et al., 2022).

Adapun edukasi gizi keluarga dilaksanakan secara terintegrasi dengan kegiatan posyandu dengan frekuensi satu kali setiap bulan mengikuti hadwal posyandu rutin. Integrasi edukasi gizi dengan layanan kesehatan masyarakat terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman gizi ibu dan perubahan perilaku komsumsi pangan keluarga (Deswani et al., 2025; M. Lestari et al., 2026; Palupi et al., 2024, 2025). Peningkatan pengetahuan masyarakat diukur menggunakan pre-test dan post-test yang terdiri dari 10 jenis pertanyaan mencakup pengertian stunting, prinsip gizi seimbang, jenis sayuran bergizi dan pemanfaatan hasil pekarangan untuk pemenuhan gizi keluarga. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan persentase nilai rata-rata sebelum dan sesudah intervensi. Terakhir adalah monitoring dan evaluasi, monitoring dilakukan secara berkala melalui 8 kali kunjungan untuk melihta perkembangan budidaya, penerapan teknologi, perubahan perilaku konsumsi pangan dan status gizi anak.

📊 3. Hasil dan Pembahasan

Tahapan persiapan dan sosialisasi

Tahapan awal kegiatan pengabdian dilakukan melalui koordinasi antara tim pelaksana, pemerintah Desa Pallantikang dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Zahra sebagai mitra utama. Hasil koordinasi menghasilkan kesepakatan bersama mengenai waktu pelaksanaan, peserta sasaran serta bentuk kegiatan yang akan dilaksanakan (Gambar 2).

Image

Gambar 2 Tahapan sosialisasi KWT Zahra, Desa Pallantikang Jeneponto

Sosialisasi kegiatan dihadiri oleh lebih 25 ibu rumah tangga. Masyarakat diperkenalkan degan tujuan program yaitu optimalisasi lahan pekarangan melalui budidaya hidroponik sederhana sebagai upaya peningkatan ekonomi keluarga dan pencegahan stunting. Selain itu, dilakukan identifikasi masalah dan pemetaan potensi pekarangan. Hasil observasi menunjukkan lahan tidak produktif oleh salah satu peserta KWT Zahra memiliki lahan seluas 15 – 30 m2 dan belum di manfaatkan serta keterbatasan dalam pengetahuan budidaya dan pengelolaan tanaman. Ditemukan pula rencahnya kesadaran masyarakat akan penitngnya komsumsi sayuran bergizi bagi keluarga yang didukung oleh jumlah penyintas stunting yang masih menjadi perhatian untuk dilakukan pendampingan. Hasil dari tahapan sosialisasi ini menumbuhkan komitmen peserta untuk berpartisipasi aktif yang menjadi modal sosial penting dalam keberlanjutan program.

Implementasi program

Tahap ini merupakan inti dari kegiatan pengabdian. Peserta didampingi dan dilatih secara langsung mengenai budidaya sayuran dengan metode hybrid yakni menggunakan metode tanam sederhana dan metode sistem hidroponik yang mudah diterapkan di pekarangan rumah dan di lahan yang terbatas. Metode pelatihan dilakukan secara demonstratif dan partisipatif sehingga masyarakat terutama KWT dapat belajar sambil praktik langsung.

Pelatihan/ pendampingan budidaya

Pelatihan dan pendampingan menggunakan metode tanam sederhana

Pada tahap ini masyarakat didampingi untuk melakukan budidaya tanaman menggunakan media sederhana. Metode ini dipilih karena mudah diterapkan dan dapat menyesuaikan kondisi lahan yang terbatas. Kegiatan ini dimulai dengan pengenalan jenis tanaman hortikultura yang sesuai dengan kondisi lingkungan Desa Pallantikang antara lain kangkung, bayam, cabai dan tomat. Pemilihan jenis tanaman didasarkan pada masa panen yang relatif singkat, kebutuhan komsumsi rumah tangga serta potensi nilai ekonomi di tingkat lokal. Proses pendampingan ini digambarkan melalui siklus berikut:

Image

Gambar 3. Siklus pendampingan dengan metode tanam sederhana

Persiapan lahan

Pada tahap ini, dilakukan pembersihan gulma, penggemburan ranah sderta pembentukan bedengan sederhana untuk mendukung pertumbuhan tanaman (Gambar 4(a)). Kegiatan ini juga bertujuan untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dan gotong royong antaranggota kelompok. Selain itu, pada gambar 4 (b), dilakukan pemasangan paranet sebagai bagian dari pembangunan rumah tanaman sederhana. Paranet berfungsi untuk mengatur intensitas cahaya matahari dan melindungi tanaman dari hujan deras. Penggunaan paranet merupakan solusi teknologi tepat guna yang mudah di terapkan dilingkungan rumah tangga pedesaan. Selain itu, kelompok juga melakukan pemasangan paranet sebagai bagian dari struktur rumah tanaman sederhana. Paranet ini berfungsi menyesuaikan intensitas cahaya dan melindungi tanaman dari hujan deras. Penggunaan paranet merupakan teknologi tepat guna yang relatif mudah diterapkan di lingkungan rumah tangga pedesaan.

Image

Gambar 4. (a) Proses persiapan lahan, (b) pemasangan paranet (rumah tanaman sederhana)

Penyiapan benih atau bibit tanaman

Masyarakat dilatih memilih benih unggul dan melakukan penyemaian awal sebelum dipindahkan ke media tanam (Gambar 5).

Image

Gambar 5. Hasil pembibitan tanaman sayur

Pemilihan benih yang tepat menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan budidaya karena memengaruhi daya tumbuh, ketahanan terhadap hama dan hasil panen. Pemilihan benih yang tepat sangat penting karena memengaruhi dayatumbuhnya, kemampuan tahan terhadap hama, dan hasil panen.

Penanaman

Tahap ini dilakukan setelah bibit siap di pindahkan ke lahan pekarangan. Masyarakat diarahkan untuk menanam dengan jarak tanam ideal agar mendapatkan cukup ruang untuk tumbuh (Gambar 6). Tahap penanaman dilaksanakan ketika bibit sudah siap dipindahkan ke pekarangan dengan jarak tanam yang ideal agar tiap tanaman memiliki ruang cukup untuk tumbuh optimal (Gambar 6).

Image

Gambar 6. Proses pemindahan bibit ke media tanam

Pengairan

Pada tahap ini, dilakukan sistem pengairan otomatis berbasis alat pengairan 360o. Sistem pengairan ini diterapkan agar efisien dan hemat air. Pada langkah ini digunakan sistem irigasi otomatis dengan alat yang menyiram dalam radius 360° Penggunaan sistem ini dimaksudkan untuk mencapai efisiensi penggunaan air dan penghematan dalam pengairan tanaman (Gambar 7).

Image

Pemupukan atau perawatan tanaman

Masyarakat memanfaatkan pupuk dasar yang mudah diperoleh di sekitar lingkungan juga menggunakan pupuk yang mendukung nutrisi tanaman. Selain itu, masyarakat didampingi melakukan pengendalian hama secara alami menggunakan bahan sederhana seperti campuran air sabun atau daun pepaya untuk mencegah serangan serangga tanpa pestisida kimia. Masyarakat menggunakan pupuk dasar yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar serta pupuk tambahan yang memperkuat nutrisi tanaman. Selain itu, dilakukan pendampingan untuk pengendalian hama secara alami dengan bahan sederhana seperti larutan air sabun atau ekstrak daun pepaya sebagai alternatif pestisida kimia.

Panen hasi tanaman.

Tahap terakhir adalah pemanenan hasil tanaman. Panen ini dilakukan sesuai masa tanam seperti untuk sayuran daun (kangkung, bayam) dipanen setelah kurang lebih 25 hari dan untuk tanaman buah (Cabai, mentimun) butuh kurang lebih 45-60 hari). Hasil panen ini sebagaian besar digunakan untuk komsumsi keluarga. Tahap akhir dalam budidaya adalah memanen tanaman. Sayuran daun seperti kangkung dan bayam biasanya dipanen setelah sekitar 25 hari, sedangkan tanaman buah seperti cabai dan mentimun memerlukan waktu 45–60 hari. Sebagian besar hasil panen dimanfaatkan untuk konsumsi rumah tangga.

Siklus metode tanam sederhana ini memberikan pemahaman menyelurh kepada masyarakat terutama wanita tani tentang proses budidaya mudah, murah dan aplikatif di lingkungan rumah tangga. Melalui penerapan ini, masyarakat dapat lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari serta memperoleh pemahaman langsung dalam menanganan tanaman. Metode tanam sederhana ini membantu masyarakat, khususnya perempuan petani, memahami cara budidaya yang mudah, hemat biaya, dan dapat diterapkan di lingkungan rumah tangga. Dengan praktik ini, masyarakat menjadi lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan harian dan memperoleh pengalaman langsung dalam merawat tanaman.

Pelatihan/ pendampingan budidaya menggunakan sistem hidroponik

Masyarakat diperkenalkan pada sistem hidroponik dengan teknik aliran sederhana (Gambar 8). Metode ini merupakan salah satu metode tanam yang efisien dan ramah lingkungan.

Image

Gambar 8. Proses instalasi hidroponik di lahan pekarangan

Kegiatan ini dimulai dengan demonstrasi instalasi hidroponik. Sistem hidroponik ini dirancang dengan prinsip sirkulasi air dan nutrisi tertutup dimana larutan nutrisi dialirkan secara terus menerus melalui pipa yang menampung tanaman. Keunggulan sistem ini adalah penggunaan air yang jauh lebih efisien menampung di bandingkan metode tanam konvensional dan tidak mebutuhkan lahan luas. Selama pelatihan, masyarakat mendapatkan pendampingan mengenai pemilihan jenis tanaman yang sesuai, pemberian larutan nutrisi, teknik perawatan dan pemeliharaan (pengecekan pH air, sirkulasi nutrisi dan pengendalian hama secara alami). Pendampingan dilakukan selamam beberapa minggu hingga tanaman tumbuh dengan baik dan siap panen mulai dari penyemaian bibit tanaman, pemindahan tanaman ke media tanam dan sebagainya (Gambar 9).

Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat antusias sehingga masyarakat berinisiatif memperbanyak instalasi hidroponik dengan biaya swadaya. Hal ini menandakan berhasilnya transfer pengetahuan dan penerapan teknologi yang berkelanjutan. Kegiatan ini juga menjadi sarana peningkatan literasi teknologi tepat guna bagi masyarakat desa terutama bagi ibu rumah tangga KWT Zahra. Dengan adanya pelatihan ini masyarakat dapat memperoleh keterampilan bercocok tanam modern tetapi juga memahami nilai ekonomi dan gizi dari hasil hidroponik yang dihasilkan.

Image

Gambar 9. Benih sayuran yang telah disemai setelah beberapa hari

Image

Gambar 10. Proses pemindahan benih ke media tanam

Edukasi program gizi anak dan edukasi gizi keluarga

Tahap ini merupakan bagian penting dari kegiatan pengabdian yang berfokus pada peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya gizi seimbang dan pencegahan stunting. Salah satu program yang dilaksanakan yaitu edukasi anak berbasis posyandu yang dilakukan secara terintegrasi dengan kegiatan kelompok wanita tani (KWT) Zahra. Edukasi ini bertujuan memberikan pemahaman kepada ibu rumah tangga mengenai konsep gizi seimbang, pemilihan bahan pangan lokal bergizi serta cara pengolahan yang tepat agar tidak kehilangan nutrisi (Gambar 11).

Image

Gambar 11. Kegiatan edukasi gizi keluarga di Desa Pallantikang

Selain itu, kegiatan edukasi gizi anak juga dilakukan melalui kolaborasi dengan kader posyandu setempat. Tim pelaksana bersama bahasiswa melakukan pengukuran berat badan, tinggi badan dan lingkar lengan balita. Hasil pemantauan digunakan sebagai dasar untuk menilai status gizi anak sebelum dan sesudah pelaksanaan kegiatan. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah edukasi anak berbasis posyandu, yang terintegrasi dengan kegiatan Kelompok Wanita Tani (KWT) Zahra. Edukasi ini bertujuan memberikan pemahaman kepada ibu rumah tangga mengenai prinsip gizi seimbang, pemilihan bahan pangan lokal yang bergizi, serta cara pengolahan yang menjaga kandungan nutrisi (Gambar 11). Selain itu, edukasi gizi anak juga dilakukan melalui kerja sama dengan kader posyandu setempat. Tim pelaksana bersama mahasiswa melakukan pengukuran berat badan, tinggi badan, dan lingkar lengan anak balita. Hasil pemantauan ini digunakan sebagai dasar untuk menilai status gizi anak sebelum dan setelah pelaksanaan program.

Tahap monitoring dan Evaluasi

Kegiatan monitoring dan evaluasi dilakukan secala berkala yakni 8 kali kunjungan lapangan selama program berlangsung (Gambar 12).

Image

Gambar 12. Monitoring kemajuan budidaya di Desa Pallantikang

Hal ini untuk menilai perkembangan budidaya tanaman, perilaku gizi keluarga serta efektivitas edukasi stunting.

Monitoring budidaya tanaman

Monitoring ini dilakukan untuk memastikan masyarakat mampu menerapkan teknik tanam sederhana secara hybrid dengan mandiri. Adapun aspek yan gdievaluasi meliputi pertumbuhan tanaman, penggunaan pupuk organik, sistem pengairan serta hasil panen. Hasil peninjauan dapat dilihat melalui tabel berikut berdasarkan beberapa indikator (Tabel 2).

Tabel 2 Hasil monitoring dan evaluasi tiap kunjungan yang menunjukkan ketrampilan dan kemandirian masyarakat dalam budidaya pekarangan

Kunjungan ke-

Fokus Pengamatan

Hasil evaluasi (%)

Catatan Lapangan

1

Persiapan lahan dan penyemaian benih

70

Masih ada kendala dalam penyemaian benih cabai

2

Pemindahan bibit ke media tanam

80

Peserta mulai memahami jarak tanam ideal

3

Pemasangan sistem pengairan sederhana

85

Sistem pengairan otomatis 360° berfungsi baik

4

Pemupukan dan pengendalian hama alami

88

Hama kutu daun mulai berkurang dengan larutan daun pepaya

5

Pertumbuhan tanaman daun

90

Kangkung dan bayam tumbuh optimal

6

Perawatan dan pembersihan gulma

92

Peserta aktif melakukan perawatan rutin

7

Panen pertama tanaman daun

95

Hasil panen rata-rata 2,5 kg per pekarangan

8

Panen tanaman buah (cabai)

90

Sebagian hasil dijual di pasar lokal dan sisanya dikonsumsi keluarga

Berdasarkan hasil monitoring budiday (Tabel 2), kemampuan masyarakat dalam mengelola lahan pekarangan meningkat secara bertahap hingga mencapai nilai evaluasi 90-95% pada tahap panen. Secara keseluruhan, keterampilan budidaya masyarakat meningkat sebesar 25% yang menunjukkan keberhasilan transfer pengetahuan dan keterampilan melalui pelatihan berbasis praktik langsung (Gambar 7 dan Gambar 8). Rata-rata hasil panen sayuran daun mencapai 2,5 kg per pekarangan pada setiap panen (Gambar 9). Jika dikonversikan ke nilai ekonomi dengan asumsi harga sayuran daun (kangkung/bayam) di pasar lokal Jeneponto sebesar Rp.5000-Rp.6000 per kg, maka nilai hasil panen per pekarangan berkisar Rp.12.500-Rp.15.000 per panen. Dengan frekuensi panen sekitar 3-4 kali perbulan, keluarga dapat menghemat pengeluaran dapur atau memperoleh nilai ekonomi sekitar Rp.37.500-Rp.60.000 per bulan. Nilai ini belum termasuk hasil tanaman buah seperti cabai yang sebagian dijual di pasar lokal (Gambar 10). Meskipun nilai ekonomi yang dihasilkan relatif sederhana, kontribusi ini signifikan bagi rumah tangga pedesaan karena mampu mengurangi pengeluaran rutin untuk kebutuhan pangan sekaligus membuka peluang pendapatan tambahan. Dengan demikian, pemanfaatkan pekarangan terbukti berperan sebagai strategi peningkatan ekonomi keluarga secara bertahap dan berkelanjutan.

Penerapan sistem irigasi 3600 dan sistem hidroponik terbukti sesuai dengan kondisi spesifik Desa Pallantikang yang memiliki keterbatasan ketersediaan air, terutama pada musim kemarau, serta lahan pekarangan yang relatif sempit. Sementara itu, sistem hidroponik memungkinkan pemanfaatan ruang sempit secara optimal dengan penggunaan air yang lebih hemat karena sistem sirkulasi nutrisi tertutup (Gambar 9 dan Gambar 10). Kombinasi teknologi ini membantu masyarakat mengatasi kendala lingkungan setempat dengan solusi yang sederhana, terjangkau, dan mudah dirawat. Oleh karena itu, teknologi yang diterapkan dapat dikategorikan sebagai teknologi tepat guna yang mendukung efisiensi sumber daya dan keberlanjutan budidaya di tingkat rumah tangga.

Monitoring dan evaluasi gizi anak

Monitoring gizi dilakukan bekerja sama dengan posyandu desa dengan menimbang berat dan tinggi badan anak balita peserta setiap bulan. Hasil pengukuran dibandingkan dengan standar nasional untuk mengetahui perubahan status gizi (Tabel 3).

Tabel 3 Rekapitulasi perkembangan status gizi anak peserta program yang menggambarkan tren perbaikan gizi anak

Bulan

Jumlah Anak dengan Gizi Baik

Cukup

Kurang

Buruk

Juli

1

4

4

2

Agustus

2

4

3

1

September

4

4

2

0

Oktober

6

3

1

0

Berdasarkan hasil observasi terhadap 10 anak selama program juli hingga oktober menunjukkan adanya perbaikan signifikan pada status gizi anak balita di desa Pallantikang. Data menunjukkan bahwa: anak dengan status gizi baik meningkat dari 1 hingga 6 anak (±50%) mencerminkan adanya perubahan positif dalam asupan dan pola komsumsi pangan keluarga. Secara umum, peningkatan status gizi anak ini dipengaruhi oleh ketersediaan sayuran segar hasil budidaya sendiri, edukasi gizi keluarga yang rutin, dan peningkatan kesadaran ibu rumah tangga terhadap pentingnya variasi dan keseimbangan gizi anak. Selain itu, evaluasi terhadap edukasi yang dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk menilai peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai stunting dan gizi seimbang dapat dilihat melalui tabel 4.

Tabel 4 Hasil evaluasi pengetahuan gizi dan stunting

Aspek Penilaian

Nilai Rata-rata Pre-test (%)

Nilai Rata-rata Post-test (%)

Peningkatan (%)

Pengetahuan tentang stunting

40

85

+45

Pemahaman gizi seimbang

50

90

+40

Kebiasaan konsumsi sayur

30

75

+45

Frekuensi konsumsi sayur/minggu

1–2 kali

5–6 kali

Hasil evaluasi pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan pengetahuan gizi masyarakat sebesar 40-45%, khususnya pada pemahaman tentang stunting gizi seimbang dan pentingnya konsumsi sayuran (Tabel 4). Peningkatan in iterjadi karena metode edukasi yang diterapkan tidak bersifat cerama satu arah, melainkan terintegrasi dengan kegiatan posyandu dan pendampingan Kelompok Wanita Tani (KWT) sehingga materi gizi disampaikan secara kontekstual dan aplikatif. Edukasi gizi yang terigrasi dengan posyandu memungkinkan ibu rumah tangga memperoleh informasi gizi bersamaan dengan pemantauan langsung kondisi anak, sehingga pesan yang disampaikan menjadi lebih relevan dan mudah dipahami (Gambar 11). Selain itu, ketersediaan sayuran hasil budidaya pekarangan memberikan contoh nyata penerapan gizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari. Peningkatan pengetahuan tersebut tercermin pada perubahan perilaku konsumsi, di mana frekuensi konsumsi sayuran meingkat dari 1-2 kali menjadi 5-6 kali perminggu (Tabel 4). Hal ini menunjukkan bahwa intervensi yang mengombinasikan edukasi gizi dan produksi pangan mandiri lebih efektif dalam mendorong perubahan perilaku makan keluarga. Selain itu, status gizi terhadap 10 anak balita selama periode Juli-Oktober menunjukkan perbaikan yang signifikan (Tabel.3). Jumlah anak dengan status gizi baik meningkat dari 1 anak menjadi 6 anak, sementara anak dengan gizii kurang dan buruk mengalami penurunan. Tren ini menunjukkan bahwa program tidak hanya meningkatkan pengetahuan ibu, tetapi juga berdampak langsung pada asupan gizi dan kesehatan anak. Perbaikan status gizi anak dipengaruhi oleh meningkatnya ketersediaan pangan bergizi dari hasil pekarangan, peningkatan kesadaran ibu mengenai variasi dan keseimbangan pemantauan gizi, serta pemantauan rutin melalui posyandu (Gambar 11). Integrasi antara produksi pangan, edukasi gizi dan layanan kesehatan ini memperkuat rantai pemenuhan gizi dari tingkat rumah tangga hingga komunitas, sehingga intervensi yang dilakukan menjadi lebih efektif dan berkelanjutan.

🎯 4. Kesimpulan

Program pengabdian kepada masyarakat di Desa Pallantikang berhasil mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan melalui penerapan metode budidaya hybrid yang dikombinasikan dengan sistem irigasi otomatis 360° sebagai teknologi tepat guna. Penerapan strategi ini meningkatkan keterampilan budidaya masyarakat sebesar 25%, serta mendukung efisiensi penggunaan air dan keberlanjutan produksi pangan di lahan pekarangan yang terbatas, khususnya bagi ibu rumah tangga yang memiliki keterbatasan waktu. Intervensi yang dilakukan secara terintegrasi antara budidaya pekarangan dan edukasi gizi menunjukkan dampak yang signifikan terhadap aspek kesehatan keluarga. Pengetahuan gizi ibu rumah tangga meningkat hingga 90%, yang diikuti oleh peningkatan frekuensi konsumsi sayuran dari 1–2 kali menjadi 5–6 kali per minggu. Dampak tersebut tercermin pada perbaikan status gizi anak balita, di mana proporsi balita dengan status gizi baik meningkat dari 10% menjadi 60% selama periode pendampingan.

Selain berdampak pada kesehatan, program ini juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi rumah tangga sasaran. Pemanfaatan hasil pekarangan mampu mengurangi pengeluaran belanja dapur melalui konsumsi mandiri, sekaligus membuka peluang pendapatan tambahan melalui penjualan sebagian hasil panen ke pasar lokal. Temuan ini menegaskan bahwa pemanfaatan lahan pekarangan berfungsi sebagai strategi ganda yang secara simultan mendukung peningkatan ekonomi keluarga dan pencegahan stunting. Sebagai tindak lanjut, keberhasilan program ini ditunjukkan oleh inisiatif masyarakat dalam memperbanyak instalasi budidaya secara swadaya. Oleh karena itu, disarankan agar pemerintah desa dan instansi terkait mereplikasi model KWT Zahra di dusun atau desa lain sebagai strategi permanen dan berkelanjutan dalam penanganan stunting dan penguatan ketahanan pangan keluarga. Program ini sejalan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 1 dan 3, yaitu pengentasan kemiskinan dan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.

🤖 Deklarasi Penggunaan AI

/

💰 Pendanaan

Pengabdian kepada masyarakat ini didanai oleh DPPM KEMDIKTISAINTEK, dengan nomor kontrak: 126/C3/DT.05.00/PM/2025 tahun anggaran 2025.

🤝 Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada DPPM KEMDIKTISAINTEK atas dukungan pembiayaan pengabdian masyarakat ini, juga LPPM Universitas Islam Makassar atas dukungan administratiif serta kontribusi tim pengabdian yang telah berkomitmen atas pelaksanaan kegiatan pengabdian dan penyusunan pertanggungjawaban.

⚖️ Konflik Kepentingan

Para penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan.

📚 Daftar Pustaka

Amran, R., Nurwiyeni, Pratama, R. R., & Wahyuni, S. (2025). Stunting sebagai Ancaman Kualitas Sumber Daya Manusia: Perspektif Gizi, Lingkungan, dan Sosial. Scientific Journal, 4(4), 233–240. https://doi.org/10.56260/sciena.v4i4.234

Deswani, D., Badriah, S., Jannah, R., Nirmalasari, D., Aminto, T., Yardes, N., Untung, A. S. B., Junengsih, J., & Fitriana, S. (2025). Model Inovasi Pemberdayaan Lansia Peduli ASI–MPASI sebagai Tim Pendamping Keluarga Terintegrasi INEY 2 untuk Pencegahan Stunting: Innovative Model of Elderly Empowerment in Breastfeeding–Complementary Feeding Support as Integrated Family Assistance Team for Stunting Prevention in INEY 2 Program. Jurnal Pengabdian Dan Pengembangan Masyarakat Indonesia, 4(2), 288–298. https://doi.org/10.56303/jppmi.v4i2.874

Hanani, N., Nugroho, T. W., & Rahman, M. S. (2025). Penerapan Sistem Hidroponik Deep Flow Technique (DFT) untuk Diversifikasi dan Ketahanan Pangan di Kabupaten Probolinggo. AGROINOTEK Jurnal Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat, 6(1), 18–35. https://doi.org/10.21776/ub.agroinotek.2025.006.01.02

Kementerian Kesehatan RI. (2023, January 25). Prevalensi Stunting di Indonesia Turun ke 21,6% dari 24,4%. Kementerian Kesehatan RI. https://kemkes.go.id/id/prevalensi-stunting-di-indonesia-turun-ke-216-dari-244

Lestari, D. D., Panggayuh, D. A. F., Ramadhan, C. S., Prasetyo, B. E., Mayoratri, M. H. P., & Kartika, D. S. Y. (2024). Upaya Pengembangan Tanaman Hortikultura Melalui Pemanfaatan Lahan Pekarangan Sebagai Wujud Ketahanan Pangan Di Desa Galengdowo. KARYA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(2), 37–44.

Lestari, M., Sihombing, H., Wahananingtyas, N. L., Khailillah, A., & Ameria, S. (2026). Peran Edukasi dan Gizi Seimbang dalam Peningkatan Kesehatan Warga Masyarakat di Desa Sajira, Kabupaten Lebak. Abdimas Toddopuli: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat, 7(2). https://doi.org/10.30605/atjpm.v7i2.8085

Megawati, M., Astaman, P., & Maharani, I. M. (2025). Implementasi Sistem Hidroponik Sederhana untuk Meningkatkan Kapasitas Gapoktan di Sinjai Borong. Sinergi Aksi Nyata Cendekia, 1(1), 35–45. https://doi.org/10.6131/sancaka.v1i1.175

Munir, D. A., Sumardiyono, S., & Hikmayani, N. H. (2025). Cakupan Perlindungan Sosial Dan Ketahanan Pangan Kunci Penanganan Stunting: Analisis Deskriptif Di Jeneponto Dan Barru, Sulawesi Selatan. Media Kesehatan Politeknik Kesehatan Makassar, 20(1), 131–138. https://doi.org/10.32382/medkes.v20i1.1399

Palupi, K., Amir, M., Prasetyowati, N., Mulyadewi, Z., & Andini, P. S. (2024). Sekolah Gizi dan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) Cegah Obesitas pada Kader Posyandu di Wilayah Puskesmas Perwira, Bekasi Utara, Jawa Barat. Jurnal Pengabdian Dan Pengembangan Masyarakat Indonesia, 3(2), 97–105. https://doi.org/10.56303/jppmi.v3i2.274

Palupi, K., Marsidi, S. R., Siahaan, M. F., Mulyadewi, Z., Aurelia, A. M., Setyasih, M. A., Resmana, R. P., Soliah, A., Faradillah, G., & Kamila, L. V. (2025). Pendampingan Gizi dan Kesehatan Mental dengan Pangan Lokal Bergizi pada Ibu Hamil Anemia di Wilayah Puskesmas Bojong Rawalumbu, Kota Bekasi: Nutrition and Mental Health Support Using Nutritious Local Foods Among Pregnant Women with Anemia in the Bojong Rawalumbu Public Health Center Area, Bekasi City. Jurnal Pengabdian Dan Pengembangan Masyarakat Indonesia, 4(2), 415–425. https://doi.org/10.56303/jppmi.v4i2.785

Sitinjak, W., Sinaga, R., Reni, L., Simanjuntak, R., Marbun, J., Siadari, M., Tuah, H., Rizky, J., Sitinjak, I. Y., & Sitinjak, H. (2024). Pemanfaatan Pekarangan Dalam Mendukung Ketahanan Pangan Dan Gizi Sehat Keluarga Dengan Budidaya Tanaman Sayuran Secara Vertikultur Di Masyarakat Sekitar GMI Banuh Raya. Jurnal Pengabdian Masyarakat Sapangambei Manoktok Hitei, 4(2), 370–380. https://doi.org/10.36985/d30jwt66

Sri Devi, Basri Bado, Citra Ayni Kamaruddin, Irwandi, & Sri Astuty. (2025). Strategi Penanganan Stunting Di Kabupaten Jeneponto. JAE (Jurnal Akuntansi Dan Ekonomi), 10(1), 87–98. https://doi.org/10.29407/jae.v10i1.25064

Suhendar, A. P., Juliana, A., Widaswara, E. K., Amara, G. A. V., Sulestra, I. N., & Raksun, A. (2022). Pemanfaatan Lahan Kosong untuk Budidaya Tanaman Sayuran sebagai Nilai Tambah Ekonomi dengan Konsep Rumah Pangan Lestari di Desa Seriwe Kabupaten Lombok Timur. Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA, 5(1), 231–234. https://doi.org/10.29303/jpmpi.v5i1.1436