e-ISSN: 2830-2567 | Beranda Jurnal
1 Program Studi Kebidanan Program Sarjana dan Pendidikan Profesi Bidan, Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan, Indonesia
2 Program Studi Sarjana Keperawatan dan Pendidikan Profesi Ners, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan, Indonesia
WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan bayi sebagai standar emas dalam pemberian makanan bayi dan anak. ASI menyediakan nutrisi yang dibutuhkan bayi baru lahir. Pemberian ASI saja telah mampu memenuhi seluruh kebutuhan nutrisi bayi sejak lahir hingga enam bulan. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman perempuan mengenai pentingnya pemberian ASI eksklusif, serta meningkatkan efikasi diri menyusui dan kesiapan dalam menghadapi proses menyusui. Program ini dilaksanakan melalui edukasi, demonstrasi, pendampingan menyusui, dan monitoring. Program ini diikuti oleh 11 ibu hamil trimester III, sebagian diantaranya berpendidikan SMA dan seluruhnya merupakan ibu rumah tangga. Pemberian edukasi tentang pentingnya ASI untuk mencapai ASI eksklusif terbukti meningkatkan pengetahuan ibu, yang ditunjukkan oleh peningkatan rerata skor pengetahuan sebesar 2,28 poin, dari 13,36 sebelum edukasi menjadi 15,64 setelah edukasi. Diukur juga efikasi diri menyusui dan diperoleh skor rata-rata 42 dari total skor 56. Efikasi diri menyusui menunjukkan variasi skor sebesar 3,033, dengan skor terendah 38 dan skor tertinggi 48. Hasil pendampingan dan evaluasi menyusui menunjukkan bahwa ibu dapat menyusui dengan baik dan hanya memberikan ASI pada bayinya. Program ini diharapkan dapat berkontribusi dalam peningkatan cakupan ASI eksklusif.
WHO promotes exclusive breastfeeding during the first 6 months of a baby's life as the gold standard in infant and child feeding. Breast milk provides all of the nourishment that newborns require. Breastfeeding alone meets all of an infant's nutritional needs from birth to six months. This programme aims to improve women's comprehension of the necessity of exclusive breastfeeding, as well as their breastfeeding self-efficacy and willingness to confront the breastfeeding process. The programme is implemented through education, demonstrations, breastfeeding assistance, and assessment monitoring. The programme was attended by 11 third trimester pregnant women, some of whom had high school education and all of whom were housewives. Providing education about the importance of breastfeeding to achieve exclusive breastfeeding has been proven to increase maternal knowledge, as indicated by an increase in the average knowledge score of 2.28 points, from 13.36 before education to 15.64 after education. Breastfeeding self-efficacy was also measured and obtained an average score of 42 out of a total score of 56. Breastfeeding self-efficacy showed a score variation of 3.033, with the lowest score being 38 and the highest score being 48. The results of breastfeeding assistance and evaluation showed that mothers can breastfeed well and only give breast milk to the baby. This program is expected to contribute to increasing breastfeeding coverage.
• Edukasi laktasi yang diberikan pada masa kehamilan secara efektif meningkatkan pengetahuan ibu mengenai pentingnya pemberian ASI eksklusif
• Pendampingan menyusui secara intensif pascasalin berperan dalam membangun efikasi diri (kepercayaan diri) serta keterampilan ibu dalam mempraktikkan teknik menyusui yang benar
World Health Organization (WHO) dan UNICEF merekomendasikan agar bayi mulai menyusu dalam satu jam pertama kelahiran, kemudian disusui secara eksklusif selama 6 bulan yaitu bayi tidak diberikan makanan atau cairan lain. Bayi harus disusui sesuai permintaan bayi atau sesering yang diinginkan bayi. Setelah usia 6 bulan, bayi mulai diberikan makanan pendamping ASI yang aman dan mencukupi kebutuhan nutrisi bayi sambil dilanjutkan menyusui hingga 2 tahun (World Health Organization, 2022). Hal ini mengindikasikan bahwa ASI merupakan kebutuhan esensial bagi bayi.
Air susu ibu (ASI) merupakan makanan terbaik untuk memenuhi nutrisi bayi baru lahir. ASI terdiri dari 87% air, 1% protein, 4% lemak, dan 7% karbohidrat (termasuk 1 hingga 2,4% oligosakarida). Selain itu, ASI juga mengandung banyak vitamin dan mineral seperti kalsium, fosfor, magnesium, kalium, natrium (Boquien, 2018). ASI mengandung seluruh komponen nutrisi yang dibutuhkan bayi untuk masa awal kehidupannya. Pada tahun pertama, ASI juga mampu memenuhi sebagian atau lebih kebutuhan gizi bayi. Berikutnya ASI dapat memenuhi sepertiga kebutuhan bayi selama tahun kedua kehidupan (World Health Organization, 2022).
Kebijakan tentang pemberian ASI Eksklusif tertuang dalam Undang-Undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 128 ayat 1 yang menyatakan bahwa setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, kecuali atas indikasi medis. Kebijakan tersebut secara lebih rinci diatur dalam Peraturan Pemerintah nomor 33 tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif. Sebagaimana tujuan dalam peraturan tersebut yaitu untuk menjamin pemenuhan hak bayi atas ASI eksklusif sejak usia 0 sampai dengan berusia 6 bulan dengan memperhatikan tumbuh kembangnya, memberikan perlindungan kepada ibu dalam memberikan ASI eksklusif kepada bayinya dan meningkatkan peran dan dukungan keluarga, masyarakat, Pemerintah Daerah, dan Pemerintah terhadap pemberian ASI Eksklusif (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2021).
Pemerintah telah mengatur secara optimal dukungan pemberian ASI eksklusif melalui kebijakan-kebijakan yang ada untuk meningkatkan cakupan ASI eksklusif. Namun, data cakupan ASI secara nasional pada 2022 yaitu 67,96%, mengalami penurunan dari cakupan pada tahun 2021 yaitu 69,7% (World Health Organization, 2023). Kondisi ini dapat diakibatkan oleh hambatan yang terjadi dalam pemberian ASI. Berdasarkan beberapa studi sebelumnya menunjukkan hambatan – hambatan dalam pemberian ASI antara lain rendahnya kesadaran dan budaya praktik pemberian makanan prelakteal, faktor sosiodemografi, kesehatan dan fasilitas kesehatan, pengetahuan tentang menyusui, produksi ASI yang tidak mencukupi, gizi ibu yang kurang, pekerjaan ibu sebagai pekerja lapangan, jarak kelahiran yang kurang, rendahnya kesadaran tentang teknik menyusui yang benar, penyakit ibu dan anak, payudara yang tidak normal, persepsi, dukungan, sosial budaya dan lingkungan termasuk pengaruh mertua untuk memulai pemberian makanan pendamping ASI secara dini (Asnidawati & Ramdhan, 2021; Riaz et al., 2022; Yusrina & Devy, 2017). Hambatan lain yang terjadi yaitu masih terdapat budaya dan mitos yang tidak mendukung pemberian ASI eksklusif seperti mitos terkait kolostrum, masih terdapat pula praktik pemberian makan prelakteal ketika ASI belum lancar. Selain itu, masih maraknya promosi yang dilakukan khususnya melalui media online promosi produk pengganti ASI secara terselubung dalam bentuk potongan harga, free sample ataupun konseling gratis dengan pakar kesehatan (Kementerian Kesehatan RI, 2021). Begitu pula kondisi yang terjadi di desa Kalilembu. Bidan desa Kalilembu menyatakan bahwa masih terdapat praktik pemberian makanan pendamping ASI sebelum bayi berusia 6 bulan dan praktik berpantang makanan yang justru mengandung zat gizi yang dibutuhkan ibu menyusui.
Menyusui menjadi norma pemberian makan bayi yang terus berkembang, yang mempunyai implikasi seumur hidup terhadap kesehatan bayi dan ibu. Mayoritas perempuan sebetulnya mampu dan berkeinginan untuk menyusui, tetapi hambatan – hambatan yang muncul dapat menjadi penghalan dalam proses pemberian ASI (Tomori, 2022). Upaya untuk mengatasi hambatan tersebut dapat dilakukan dengan dengan meningkatkan pengetahuan ibu melalui edukasi dan konseling, pemberian dukungan, dan penetapan kebijakan yang mendorong keberhasilan pemberian ASI eksklusif (Al-Nuaimi, Katende, & Arulappan, 2017; Idris, Tafeng, & Elgorashi, 2013; Maiza, Safrizal, Murdani, & Putri, 2024; Tomori, 2022).
Petugas kesehatan dapat memberikan dukungan melalui pelaksanaan inisiasi menyusu dini, edukasi posisi dan pelekatan yang tepat, teknik menyusui, serta diajarkan bagaimana mengelola ASI yang tidak cukup dengan pemberian vitamin dan tablet lainnya (Dasheka & Rala, 2020). Penelitian menunjukkan bahwa konseling menyusui yang mulai diberikan selama kehamilan meningkatkan peluang pemberian ASI Eksklusif sebanyak 2,76 kali (Tewabe et al., 2017). Konseling menyusui merupakan intervensi kesehatan yang efektif untuk meningkatkan angka pemberian ASI eksklusif. Konseling menyusui harus diberikan secara tatap muka, dan sebagai tambahan, dapat diberikan melalui telepon, baik pada saat antenatal maupun postnatal, kepada semua wanita hamil dan ibu yang memiliki anak kecil (McFadden et al., 2019). Edukasi pada ibu terkait teknik menyusui yang benar dapat mengatasi ketidaknyaman yang dialami ibu selama proses menyusui sehingga ibu merasa lebih mampu menyusui, merasa nyaman dan percaya diri (Idris et al., 2013).
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan melalui edukasi pada kelas Ibu Hamil selama 2 kali dilanjutkan dengan pendampingan menyusui setelah ibu bersalin dengan kunjungan rumah. Kegiatan dilaksanakan mulai dari Mei – Agustus 2023.
Kegiatan edukasi pentingnya pemberian ASI dan teknik menyusui yang benar dilakukan secara klasikal pada kelas ibu hamil di Balai Desa Kalilembu. Kegiatan dilakukan melalui pemberian edukasi pada ibu dan diberikan pretest pada saat sebelum edukasi dan posttest setelah edukasi diberikan. Ibu juga diberikan kuesioner penilaian self-efficacy menyusui untuk mengetahui tingkat kepercayaan diri ibu untuk menghadapi proses menyusui. Efikasi diri diukur menggunakan instrumen Breastfeeding Self-Efficacy Scale (BSES) yang telah divalidasi. Kegiatan diikuti oleh 11 ibu hamil trimester III.
Ibu memiliki persiapan yang baik sejak akhir kehamilan untuk menghadapi proses menyusui sehingga pada saat proses menyusui dapat dilalui dengan lancar. Ibu juga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi pada bayi yaitu memberikan ASI secara penuh pada bayi selama 6 bulan/ ASI eksklusif dan dilanjutkan hingga 2 tahun dengan makanan pendamping ASI. Diharapkan melalui program ini, ibu juga semakin percaya diri dan merasa mampu / memiliki self-efficacy yang baik pada dirinya sendiri sehingga betul-betul mantap dan siap untuk menghadapi proses menyusui.
Rata-rata usia ibu hamil merupakan usia dewasa awal, dengan variasi usia sebesar 4 dan usia ibu paling muda adalah 23 tahun dan paling tua adalah 34 tahun. Ibu hamil yang mengikuti kelas ibu jumlah kehamilan tertinggi adalah kehamilan ke-3 dengan rata-rata kehamilan ke 2. Tabel 1 merupakan distribusi usia dan jumlah kehamilan ibu.
Tabel 1. Karakteristik usia dan jumlah kehamilan ibu (n=11)
Variabel | Mean | Median | St.Deviasi | Min | Max |
Usia | 28,7 | 28 | 4 | 23 | 34 |
Hamil ke | 2,2 | 2 | 0,8 | 1 | 3 |
Ibu sebagian besar (45,5%) berpendidikan SMA dengan seluruhnya adalah ibu rumah tangga/ tidak bekerja. Tabel 2 merupakan karakteristik pendidikan dan pekerjaan ibu.
Tabel 2. Karakteristik pendidikan dan pekerjaan ibu (n=11)
Variabel | n | % | |
Pendidikan | SD | 3 | 27,3 |
SMP | 2 | 18,2 | |
SMA | 5 | 45,5 | |
PT | 1 | 9,1 | |
Pekerjaan | IRT/ Tidak Bekerja | 11 | 100 |
Pemberian edukasi tentang pentingnya pemberian ASI untuk mencapai ASI Eksklusif dapat meningkatkan pengetahuan tentang pemberian ASI Eksklusif sebesar 2,28 meskipun secara statistik tidak ada perbedaan secara bermakna. Seperti terlihat di tabel 3 bahwa rerata pengetahuan sebelum dan sesudah pemberian edukasi masing-masing 13,36 dan 15,64. Variasi skor pengetahuan sesudah pemberian edukasi lebih besar dari sebelum pemberian edukasi yaitu 2,461. Perubahan skor minimum dan maksimum juga meningkat setelah diberikan edukasi yaitu 9 menjadi 10 pada skor minimum dan 16 menjadi 19 pada skor maksimum. Breastfeeding self-efficacy juga diukur dan diperoleh skor rerata mencapai 42 dari skor total 56. Variasi breastfeeding self-efficacy sebesar 3,033 dengan skor minimal 38 dan maksimal 48.
Tabel 3. Rerata skor self-effiacy dan pengetahuan ibu tentang pentingnya pemberian ASI Eksklusif
Variabel | Mean | Median | St.Deviasi | Min | Max | p-value | |
Pengetahuan | Pre | 13,36 | 14 | 2,157 | 9 | 16 | 0,091 |
Post | 15,64 | 16 | 2,461 | 10 | 19 | ||
Breastfeeding self-efficacy | 42 | 42 | 3,033 | 38 | 48 | ||
Pada kegiatan pendampingan menyusui dan monitoring evaluasi terhadap ibu menyusui, diperoleh hasil bahwa sebagian besar ibu dapat memberikan ASI dengan baik. Ibu menyatakan tidak mengalami kendala berarti selama proses menyusui, baik dari aspek produksi ASI, perlekatan bayi, maupun dukungan keluarga. Bayi yang dilahirkan juga diberikan ASI saja tanpa tambahan makanan atau minuman lain, sesuai dengan prinsip pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan dengan pemberian ASI sampai anak berusia 2 tahun. Kegiatan pendampingan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk menunjukkan potensi keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Selama proses monitoring, tim pengabdian melakukan observasi langsung terhadap teknik menyusui, evaluasi terhadap kenyamanan ibu dan bayi, serta memberikan umpan balik terkait posisi dan perlekatan yang benar. Selain itu, dilakukan juga sesi diskusi interaktif untuk menggali pengalaman ibu selama menyusui, tantangan yang dihadapi, serta strategi yang digunakan untuk mempertahankan keberhasilan menyusui.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan memberikan edukasi pada ibu hamil terkait pemberian ASI eksklusif dan peningkatan self-efficacy menyusui. Edukasi yang diberikan mencakup pentingnya pemberian ASI, persiapan ibu dalam menyusui, serta peningkatan kepercayaan diri ibu terhadap kemampuan menyusui. Pemberian edukasi ini terbukti mampu meningkatkan pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif. Hal ini sejalan dengan hasil kegiatan yang dilakukan oleh The, Hasan, dan Saputra (2023) di Puskesmas Gambesi yang menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan pentingnya pemberian ASI eksklusif setelah diberikan edukasi. Hasil pretest menunjukkan bahwa 68% peserta memiliki pengetahuan kurang, 29% memiliki pengetahuan cukup, dan hanya 3% yang memiliki pengetahuan baik. Setelah diberikan edukasi dan dilakukan posttest, hasilnya meningkat menjadi 65% peserta memiliki pengetahuan baik dan 35% memiliki pengetahuan cukup. Temuan ini didukung oleh penelitian lain yang menunjukkan bahwa edukasi mengenai pentingnya pemberian ASI yang dilakukan sejak masa kehamilan mampu meningkatkan pengetahuan tentang ASI dan bahkan meningkatkan praktik menyusui (Kehinde, O’Donnell, & Grealish, 2023; Wong, Mou, & Chien, 2021).
Pengetahuan yang baik tentang pemberian ASI eksklusif menjadi faktor penting dalam mendukung praktik menyusui. Pengetahuan akan memengaruhi sikap dan perilaku ibu dalam pemberian ASI. Oleh karena itu, informasi mengenai manfaat, teknik, dan kesiapan menyusui perlu diberikan sejak masa kehamilan sehingga ibu memiliki kesiapan fisik dan psikologis untuk menghadapi proses menyusui (Mirawati, Masdiputri, Puteri, Hikmah, & Fatmawati, 2022; Yulianingsih et al., 2024). Selain itu, peningkatan pengetahuan juga berpengaruh terhadap self-efficacy ibu dalam menyusui. Ibu dengan keyakinan diri yang tinggi terhadap kemampuannya akan lebih mampu mengatasi berbagai tantangan selama menyusui dan berpeluang lebih besar berhasil memberikan ASI eksklusif (Asih & Nurlaila, 2022; Kehinde et al., 2023). Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa program edukasi menyusui mampu meningkatkan skor breastfeeding self-efficacy dan praktik menyusui (Tseng et al., 2020), sementara studi yang dilakukan oleh Araban et al. (2018) menunjukkan bahwa efikasi diri menyusui berperan penting dalam meningkatkan angka keberhasilan pemberian ASI eksklusif.
Kegiatan pengabdian yang dilakukan ini juga bertujuan untuk meningkatkan breastfeeding self-efficacy pada ibu hamil sehingga mereka memiliki kepercayaan diri yang tinggi terhadap kemampuannya menyusui. Berdasarkan hasil pendampingan, diperoleh bahwa ibu dengan tingkat self-efficacy tinggi mampu menyusui bayinya dengan baik, menjaga produksi ASI tetap optimal, dan mempertahankan pemberian ASI eksklusif meskipun menghadapi berbagai kendala. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berkontribusi pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan menyusui, tetapi juga memperkuat keyakinan diri ibu sehingga mendukung keberhasilan praktik pemberian ASI eksklusif dan keberlanjutan menyusui hingga anak berusia dua tahun.
Program edukasi dan pendampingan menyusui di Desa Kalilembu berhasil terlaksana dengan baik. Terdapat peningkatan rerata pengetahuan ibu hamil mengenai ASI eksklusif dan terbentuknya efikasi diri yang optimal dalam persiapan menyusui. Pendampingan pascasalin menunjukkan bahwa peserta mampu mempraktikkan teknik menyusui yang benar. Disarankan agar program pendampingan ini dilanjutkan dengan melibatkan kader kesehatan desa untuk keberlanjutan pemantauan hingga bayi berusia dua tahun.
/
Pengabdian kepada masyarakat ini didanai oleh LPPM Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam terselenggaranya kegiatan pengabdian masyarakat ini. Ucapan penghargaan khusus disampaikan kepada Kepala Desa Balai Desa Kalilembu, Bidan Desa dan Kader Kesehatan Desa Kalilembu Kecamatan Karangdadap, atas dukungan dan kerja samanya, serta kepada seluruh peserta yang dengan sukarela meluangkan waktu dan pengalaman mereka. Kegiatan ini tidak akan terlaksana tanpa kontribusi berharga dari mereka.
Para penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan.
Al-Nuaimi, N., Katende, G., & Arulappan, J. (2017). Breastfeeding Trends and Determinants: Implications and recommendations for Gulf Cooperation Council countries. Sultan Qaboos University Medical Journal, e155-161. https://doi.org/10.18295/squmj.2016.17.02.004
Araban, M., Karimian, Z., Karimian Kakolaki, Z., McQueen, K. A., & Dennis, C.-L. (2018). Randomized Controlled Trial of a Prenatal Breastfeeding Self-Efficacy Intervention in Primiparous Women in Iran. Journal of Obstetric, Gynecologic & Neonatal Nursing, 47(2), 173–183. https://doi.org/10.1016/j.jogn.2018.01.005
Asih, Y., & Nurlaila, N. (2022). Breastfeeding Self-Efficcacy pada Ibu Hamil Trimester III Hingga Menyusui. Jurnal Kesehatan, 13(3), 562. https://doi.org/10.26630/jk.v13i3.3543
Asnidawati, A., & Ramdhan, S. (2021). Hambatan Pemberian ASI Eksklusif Pada Bayi Usia 0-6 Bulan. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada, 10(1), 156–162. https://doi.org/10.35816/jiskh.v10i1.548
Boquien, C.-Y. (2018). Human Milk: An Ideal Food for Nutrition of Preterm Newborn. Frontiers in Pediatrics, 6, 295. https://doi.org/10.3389/fped.2018.00295
Dasheka, Z. T., & Rala, N. M. (2020). “The kind of support that matters to exclusive breastfeeding” a qualitative study [Preprint]. In Review. https://doi.org/10.21203/rs.3.rs-36773/v2
Idris, S. M., Tafeng, A. G. O., & Elgorashi, A. (2013). Factors Influencing Exclusive Breastfeeding among Mother with Infant Age 0-6 Months. International Journal of Science and Research, 4(8), 6. https://doi.org/10.21275/SUB157153
Kehinde, J., O’Donnell, C., & Grealish, A. (2023). The effectiveness of prenatal breastfeeding education on breastfeeding uptake postpartum: A systematic review. Midwifery, 118, 103579. https://doi.org/10.1016/j.midw.2022.103579
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Laporan Kinerja Kementerian Republik Indonesia Tahun 2020. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Kementerian Kesehatan RI. (2021). Laporan Kinerja Kementerian Kesehatan. Retrieved from https://ppid.kemkes.go.id/uploads/img_62f0d4c9e9f34.pdf
Maiza, M. D., Safrizal, S., Murdani, I., & Putri, C. M. (2024). Pengaruh Prilaku Masyarakat Suak Puntong terhadap Kejadian Stunting Melalui Metode Brosur. COMSEP: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 5(2), 114–118. https://doi.org/10.54951/comsep.v5i2.596
McFadden, A., Siebelt, L., Marshall, J. L., Gavine, A., Girard, L.-C., Symon, A., & MacGillivray, S. (2019). Counselling interventions to enable women to initiate and continue breastfeeding: A systematic review and meta-analysis. International Breastfeeding Journal, 14(1), 42. https://doi.org/10.1186/s13006-019-0235-8
Mirawati, M., Masdiputri, Rr. S. N., Puteri, M. D., Hikmah, T., & Fatmawati, F. (2022). Edukasi ASI Eksklusif Untuk Persiapan Menyusui Menjelang Persalinan: Edukasi ASI Eksklusif Untuk Persiapan Menyusui Menjelang Persalinan. Ahmar Metakarya: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2(1), 7–12. https://doi.org/10.53770/amjpm.v2i1.109
Riaz, A., Bhamani, S., Ahmed, S., Umrani, F., Jakhro, S., Qureshi, A. K., & Ali, S. A. (2022). Barriers and facilitators to exclusive breastfeeding in rural Pakistan: A qualitative exploratory study. International Breastfeeding Journal, 17(1), 59. https://doi.org/10.1186/s13006-022-00495-4
Tewabe, T., Mandesh, A., Gualu, T., Alem, G., Mekuria, G., & Zeleke, H. (2017). Exclusive breastfeeding practice and associated factors among mothers in Motta town, East Gojjam zone, Amhara Regional State, Ethiopia, 2015: A cross-sectional study. International Breastfeeding Journal, 12(1), 12. https://doi.org/10.1186/s13006-017-0103-3
The, F., Hasan, M., & Saputra, S. D. (2023). Edukasi Pentingnya Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi di Puskesmas Gambesi. Jurnal Surya Masyarakat, 5(2), 208. https://doi.org/10.26714/jsm.5.2.2023.208-213
Tomori, C. (2022). Overcoming barriers to breastfeeding. Best Practice & Research Clinical Obstetrics & Gynaecology, 83, 60–71. https://doi.org/10.1016/j.bpobgyn.2022.01.010
Tseng, J.-F., Chen, S.-R., Au, H.-K., Chipojola, R., Lee, G. T., Lee, P.-H., … Kuo, S.-Y. (2020). Effectiveness of an integrated breastfeeding education program to improve self-efficacy and exclusive breastfeeding rate: A single-blind, randomised controlled study. International Journal of Nursing Studies, 111, 103770. https://doi.org/10.1016/j.ijnurstu.2020.103770
Wong, M. S., Mou, H., & Chien, W. T. (2021). Effectiveness of educational and supportive intervention for primiparous women on breastfeeding related outcomes and breastfeeding self-efficacy: A systematic review and meta-analysis. International Journal of Nursing Studies, 117, 103874. https://doi.org/10.1016/j.ijnurstu.2021.103874
World Health Organization. (2022). Breastfeeding. Retrieved November 20, 2022, from https://www.who.int/health-topics/breastfeeding
World Health Organization. (2023). World Breastfeeding Week. Retrieved December 20, 2023, from WHO Indonesia website: https://www.who.int/indonesia/news/events/world-breastfeeding-week/2023
Yulianingsih, E., Olii, N., Faidah, N., Makuta, D. T. R., Noho, R. L., Suleman, R., & Luawo, H. P. (2024). Pemberdayaan Kader Pendukung ASI Sebagai Upaya Peningkatan Pengetahuan dan Self Efficacy Ibu Terhadap Keberhasilan Menyusui. JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri), 8(1), 897. https://doi.org/10.31764/jmm.v8i1.20133
Yusrina, A., & Devy, S. R. (2017). Faktor Yang Mempengaruhi Niat Ibu Memberikan ASI Eksklusif Di Kelurahan Magersari, Sidoarjo. Jurnal PROMKES, 4(1), 11. https://doi.org/10.20473/jpk.V4.I1.2016.11-21