e-ISSN: 2830-2567 | Beranda Jurnal
1 Program Studi Kesehatan Masyarakat, Universitas Lambung Mangkurat, Indonesia
2 Program Studi Psikologi, Universitas Lambung Mangkurat, Indonesia
Anemia pada remaja putri merupakan masalah kesehatan yang serius karena dapat menurunkan fungsi kognitif, produktivitas, serta meningkatkan risiko komplikasi reproduksi. Remaja putri rentan terhadap anemia akibat kehilangan zat besi selama menstruasi dan rendahnya pengetahuan tentang pentingnya zat besi. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas program WAGAS ANEMIA, inovasi berbasis komunitas dan teknologi, dalam meningkatkan pengetahuan pencegahan anemia pada remaja putri di Desa Sungai Durait Hulu, Kecamatan Babirik, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Metode yang digunakan adalah program pengabdian masyarakat dengan pendekatan interaktif meliputi penyuluhan, video edukasi, diskusi kelompok, serta pendampingan sebaya (peer educator) untuk mendampingi konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD). Sebanyak 49 remaja putri mengikuti kegiatan ini. Evaluasi pengetahuan dilakukan menggunakan pre-test dan post-test dan dianalisis dengan uji Wilcoxon serta korelasi Spearman untuk variabel demografis usia dan pendidikan. Hasil menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta setelah penyuluhan, dari 65,3% menjadi 93,9% kategori baik, dengan nilai Z = -3,455 dan p = 0,001 (p < 0,05). Analisis korelasi menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara perubahan pengetahuan dengan usia (ρ = -0,043; p = 0,768) maupun pendidikan (ρ = -0,055; p = 0,701). Temuan ini menegaskan bahwa efektivitas penyuluhan lebih ditentukan oleh kualitas materi, metode penyampaian, dan keterlibatan peserta daripada faktor demografis. Program WAGAS ANEMIA efektif meningkatkan pengetahuan remaja putri mengenai anemia. Strategi edukatif berbasis komunitas dan teknologi, disertai peer educator dan monitoring, menjadi pendekatan yang dapat direplikasi untuk menurunkan prevalensi anemia pada remaja putri di wilayah pedesaan.
Anemia in adolescent girls is a serious health issue as it can reduce cognitive function and productivity, as well as increase the risk of reproductive complications. Adolescent girls are vulnerable to anemia due to iron loss during menstruation and a lack of knowledge regarding the importance of iron. This study aims to evaluate the effectiveness of the WAGAS ANEMIA program, a community- and technology-based innovation, in increasing anemia prevention knowledge among adolescent girls in Sungai Durait Hulu Village, Babirik District, Hulu Sungai Utara Regency. The method employed was a community service program using an interactive approach, including health education, educational videos, group discussions, and peer educator mentoring to support the consumption of Iron-Folic Acid (IFA) tablets. A total of 49 adolescent girls participated in the program. Knowledge evaluation was conducted using pre-test and post-test designs and analyzed using the Wilcoxon test and Spearman correlation for the demographic variables of age and education level. The results indicated an increase in participants' knowledge following the intervention, rising from 65.3% to 93.9% in the "good" category, with a Z-value of -3.455 and p = 0.001 (p < 0.05). Correlation analysis showed no significant relationship between changes in knowledge and age (ρ = -0.043; p = 0.768) or education level (ρ = -0.055; p = 0.701). These findings confirm that the effectiveness of health education is determined more by the quality of materials, delivery methods, and participant engagement rather than demographic factors. The WAGAS ANEMIA program is effective in increasing anemia knowledge among adolescent girls. Community- and technology-based educational strategies, accompanied by peer educators and monitoring, serve as a replicable approach to reducing anemia prevalence among adolescent girls in rural areas.
• Kegiatan penyuluhan melalui program WAGAS ANEMIA efektif meningkatkan pengetahuan dan kesadaran remaja putri di Desa Sungai Durait Hulu tentang anemia, termasuk kemampuan mengenali gejala, memahami pentingnya konsumsi zat besi, dan mengetahui sumber makanan bergizi.
• Program ini menjangkau kelompok yang sebelumnya memiliki pengetahuan rendah, memperkuat literasi kesehatan remaja putri, dan menjadi dasar bagi perubahan perilaku gizi yang lebih sehat.
Anemia adalah kondisi dimana jumlah hemoglobin kurang dari normal yang sering ditemukan khususnya pada remaja putri. Remaja putri dikatakan anemia jika kadar Hb <12 gr/dl (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2023). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan prevalensi anemia di Indonesia sebesar 16,2% (Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, 2023). Prevalensi anemia pada tahun 2023 di Provinsi Kalimantan Selatan sebesar 11,8% (Dinas Kesehatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan, 2023). Laporan Dinas Kesehatan Kabupaten Hulu Sungai Utara Tahun 2024 menunjukkan angka anemia yang masih cukup tinggi yaitu angka anemia pada calon pengantin sebesar 16% yang meningkat dibandingkan tahun 2023 sebesar 13,6% (Dinas Kesehatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan, 2024). Berdasarkan data skrining anemia pada remaja putri didapatkan dari 2.000 remaja ditemukan sebanyak 667 orang (33,35%) mengalami anemia.
Prevalensi anemia pada remaja putri di Kecamatan Babirik, Kabupaten Hulu Sungai Utara pada tahun 2024 masih tergolong tinggi, yakni sebesar 37,5%. Salah satu desa yang berada dalam wilayah kecamatan tersebut adalah Desa Sungai Durait Hulu, dengan luas wilayah 1.017 hektar (10,17 km²) dan jumlah penduduk sebanyak 1.168 jiwa. Berdasarkan analisis situasi, desa ini tercatat memiliki jumlah remaja terbanyak di Kecamatan Babirik, yaitu sebanyak 165 orang, terdiri dari 89 remaja laki-laki dan 76 remaja Perempuan (Puskesmas Babirik, 2024). Namun, tingkat partisipasi remaja putri dalam kegiatan Posyandu Remaja masih rendah, yakni hanya 37 orang (48,68%). Hasil skrining gizi menunjukkan sebanyak 54,05% remaja putri memiliki status gizi yang kurang ideal. Status gizi yang tidak optimal pada remaja berdampak langsung terhadap fungsi reproduksi, khususnya dalam hal keteraturan menstruasi dan kebutuhan nutrisi, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kadar hemoglobin (Hb) dan risiko terjadinya anemia. Pola makan yang tidak seimbang, aktivitas harian yang padat, serta kebiasaan diet ketat tanpa pengawasan menjadi faktor yang memperburuk asupan nutrisi, termasuk zat besi (Fitriani et al., 2024). Ketidakseimbangan tersebut menyebabkan menurunnya cadangan besi dalam tubuh, sehingga meningkatkan kerentanan terhadap anemia pada remaja putri. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena anemia pada remaja dapat menurunkan fungsi kognitif, menurunkan atensi, memori, dan motivasi akademik. Selain itu, anemia sering disertai kelelahan dan gangguan kebugaran, sehingga produktivitas harian menurun, penurunan imunitas, rentan infeksi, dan komplikasi reproduksi pada usia dewasa (Suprapti et al., 2025).
Anemia pada remaja putri dipicu oleh rendahnya konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) (Fanny et al., 2025). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) mencatat hanya 45,2% remaja putri di Indonesia, dan 45,8% di Kalimantan Selatan, yang pernah menerima TTD. Alasan umum tidak mengonsumsi TTD antara lain lupa (29,2%), bosan (4,1%), serta rasa dan bau yang tidak disukai. Anemia berdampak negatif terhadap kesehatan remaja, mulai dari menurunnya konsentrasi belajar, gangguan pertumbuhan, hingga risiko jangka panjang seperti kematian maternal, bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR), dan malnutrisi. Data Puskesmas Babirik tahun 2023 mencatat satu kematian ibu nifas dengan riwayat anemia, dan laporan tahun 2024 menunjukkan anemia sebagai komplikasi kebidanan tertinggi kedua di wilayah tersebut. Pencegahan sejak remaja menjadi langkah penting. Program ini menetapkan mitra sasaran kelompok masyarakat dengan spesifikasi pada kelompok remaja putri di Desa Sungai Durait Hulu, mengingat desa ini memiliki jumlah remaja terbanyak di Kecamatan Babirik, rendahnya partisipasi dalam Posyandu Remaja (48,68%), serta tingginya angka remaja putri dengan status gizi kurang (54,05%).
Sebagai upaya untuk menyelesaikan urgensi tersebut, tim Pengabdian dari Program Studi Kesehatan Masyarakat dan Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) melaksanakan program WAGAS ANEMIA di Desa Sungai Durait Hulu, Kecamatan Babirik, Kabupaten Hulu Sungai Utara
Program pengabdian WAGAS ANEMIA dilaksanakan pada bulan Oktober-November 2025. Sasaran program adalah para remaja: 1) Remaja putri yang sudah mengalami menstruasi; 2) bedomisili di Desa Sungai Durait Hulu. Jumlah peserta yang terlibat dalam kegiatan pengabdian ini sebanyak 49 orang. Adapun tahapan pelaksanaan kegiatan pengabdian dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1 Bagan Alur Pelaksanaan Kegiatan Pengabdian
Uraian pelaksanaan kegiatan Adalah sebagai berikut:
a) Sosialisasi Program. Dilakukan kepada Kepala Desa, tokoh masyarakat, remaja putri, dan petugas kesehatan untuk memperkenalkan program serta membangun dukungan dan partisipasi lintas sektor.
b) Skrining Anemia. Pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) pada remaja putri. Peserta dengan Hb <12 gr/dl ditetapkan sebagai sasaran utama program.
c) Edukasi. Penyuluhan mengenai anemia, penyebab, pencegahan, dan pentingnya konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) melalui metode interaktif dan media edukatif.
d) Pembentukan “Wasum Fe”. Kelompok pengawas sebaya yang bertugas memantau dan mengingatkan peserta dalam mengonsumsi TTD secara rutin.
e) Penerapan Teknologi. Sistem informasi WAGAS ANEMIA dengan empat fitur utama: skrining digital, presensi, notifikasi pengingat, dan fitur KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi).
f) Monitoring Berkala. Kegiatan Ask and Share, Enjoy and Share, dan Game and Share untuk menjaga motivasi, memperkuat pemahaman, dan mengevaluasi kepatuhan konsumsi TTD. Evaluasi Program. Penilaian terhadap peningkatan pengetahuan setelah pelaksanaan program.
g) Evaluasi Program. Penilaian terhadap peningkatan pengetahuan, kepatuhan konsumsi TTD, dan kadar hemoglobin setelah pelaksanaan program.
Remaja putri rentan terhadap anemia karena kehilangan zat besi selama menstruasi dan membutuhkan asupan zat besi yang lebih tinggi (Kumari et al., 2017). Selain itu, rendahnya pengetahuan mengenai pentingnya zat besi dalam tubuh turut menjadi faktor risiko anemia (Koerniawati et al., 2021). Dampak anemia mencakup kelelahan, pucat, gangguan konsentrasi, pertumbuhan terhambat, penurunan produktivitas, hingga komplikasi kehamilan seperti risiko perdarahan, bayi lahir dengan berat badan rendah, bahkan kematian janin (Fente et al., 2025). Pencegahan anemia telah diupayakan melalui fortifikasi pangan dan edukasi gizi, namun pendekatan berbasis pangan saja tidak mencukupi kebutuhan zat besi (Fayasari et al., 2023; Kaur et al., 2022; Tirtawati et al., 2023). Oleh karena itu, salah satu program penanggulangan anemia yang dilakukan pemerintah adalah dengan suplementasi zat besi, khususnya bagi remaja putri dan ibu hamil. Niat konsumsi tablet tambah darah merupakan salah satu bentuk awal dari terbentuknya perilaku kesehatan.
Sosialisasi program diawali dengan pertemuan bersama pihak Puskesmas, pemerintah desa, kader, serta remaja setempat untuk memperkenalkan tujuan dan manfaat kegiatan. Dalam tahap awal, dilakukan skrining kadar hemoglobin (Hb) dan pengukuran status gizi guna mengidentifikasi remaja dengan risiko anemia serta identifikasi karakteristik remaja putri.
Tabel 1. Identifikasi remaja dengan risiko anemia
No | Variabel | n | % |
|---|---|---|---|
1 | Pengetahuan Remaja Putri | ||
Kurang | 17 | 34,7 | |
Baik | 32 | 65,3 | |
2 | Kejadian Anemia pada Remaja Putri | ||
Anemia | 9 | 18,4 | |
Tidak Anemia | 40 | 81,6 | |
3 | Status Gizi Remaja Putri (IMT) | ||
Kurus | 21 | 42,8 | |
Normal | 28 | 57,2 | |
4 | Konsumsi Tablet Tambah Darah | ||
Ya | 45 | 91,8 | |
Tidak | 4 | 8,2 | |
5 | Jumlah Tablet Tambah Darah yang Dikonsumsi | ||
<4 tablet/bulan | 49 | 100 | |
≥4 tablet/bulan | 0 | 0 |
Berdasarkan data pada Tabel 1, hasil identifikasi menunjukkan bahwa meskipun mayoritas remaja putri memiliki tingkat pengetahuan yang baik (65,3%) dan patuh dalam mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) secara umum (91,8%), prevalensi anemia masih ditemukan sebesar 18,4%. Terdapat indikasi masalah pada kualitas konsumsi TTD, di mana seluruh responden (100%) mengonsumsi kurang dari 4 tablet per bulan, yang secara klinis belum memenuhi standar suplementasi mingguan untuk pencegahan anemia secara efektif. Selain itu, kondisi status gizi yang kurang (kurus) pada 42,8% responden menjadi faktor risiko tambahan yang signifikan, mengingat kecukupan asupan zat gizi makro dan mikro sangat krusial dalam proses hematopoiesis untuk menjaga kadar hemoglobin tetap normal.
Secara keseluruhan, hasil skrining ini menggambarkan bahwa hubungan antara pengetahuan, status gizi, dan perilaku konsumsi TTD terhadap kejadian anemia bersifat kompleks dan saling memengaruhi. Pengetahuan yang baik memang menjadi faktor awal yang penting, tetapi keberhasilan pencegahan anemia sangat ditentukan oleh kepatuhan konsumsi TTD dan status gizi yang optimal. Oleh karena itu, upaya peningkatan pengetahuan perlu diiringi dengan intervensi perilaku, edukasi gizi, serta pengawasan konsumsi TTD secara berkala. Peningkatan kepatuhan minum TTD melalui pengingat digital, pendampingan sebaya (peer educator), serta monitoring oleh tenaga kesehatan sekolah dapat menjadi strategi yang efektif untuk memperkuat keberhasilan program. Selain itu, perlu adanya pendekatan gizi komprehensif untuk memperbaiki status gizi remaja agar daya tahan tubuh dan cadangan zat besi meningkat, sehingga risiko anemia dapat ditekan.
Sebagai upaya untuk menindaklanjuti hasil temuan pada skrining awal, maka kegiatan selanjutnya adalah pelaksanan edukasi kesehatan mengenai anemia. Edukasi diberikan secara interaktif melalui pemutaran video edukasi, penyuluhan, dan diskusi kelompok kecil agar peserta lebih memahami pentingnya asupan zat besi dan kepatuhan mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD). Sebagai bentuk pemberdayaan, dibentuk kelompok Wasum Fe (Pengawas Minum Tablet Fe) yang terdiri dari remaja sebaya untuk mendampingi dan memotivasi teman sebayanya dalam menjaga kepatuhan konsumsi TTD. Dilakukan pretest untuk mengukur pengetahuan awal peserta dan di akhir kegiatan pengetahuan peserta kembali diukur untuk mengetahui perbedannya. Hasil pretest dan postest peserta dapat dilihat pada gambar 2.
Hasil evaluasi pengetahuan peserta menunjukkan adanya peningkatan setelah penyuluhan. Sebelum penyuluhan, mayoritas peserta memiliki kategori pengetahuan baik sebanyak 43 orang (87,8%), sedangkan peserta dengan kategori kurang sebanyak 6 orang (12,2%). Setelah penyuluhan, jumlah peserta dengan pengetahuan baik meningkat menjadi 46 orang (93,9%), sementara kategori kurang menurun menjadi 3 orang (6,1%). Hal ini menunjukkan bahwa penyuluhan memberikan efek positif terhadap peningkatan pengetahuan peserta, meskipun mayoritas peserta telah memiliki pengetahuan yang baik sejak awal.
Gambar 2. Hasil pretest dan postest Tingkat pengetahuan remaja
Tabel 2. Uji Wolcoxon Signed Rank Test
Hasil post – Hasil pre | |
Z | -3.455b |
Asymp. Sig. (2-tailed) | .001 |
a. Wilcoxon Signed Ranks Test | |
b. Based on negative ranks. | |
Berdasarkan hasil uji Wilcoxon Signed Ranks Test, diperoleh nilai Z = -3,455 dengan Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,001. Karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05 (p < 0,05), maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pre-test dan post-test pengetahuan responden sebelum dan sesudah penyuluhan. Hasil ini menunjukkan bahwa penyuluhan yang diberikan efektif dalam meningkatkan pengetahuan responden. Artinya, terdapat peningkatan skor pengetahuan setelah kegiatan penyuluhan dilakukan.
Hal ini menunjukkan bahwa penyuluhan yang diberikan efektif dalam meningkatkan pengetahuan responden. Selain penyuluhan secara langsung, penerapan teknologi melalui sistem informasi WAGAS ANEMIA dan peran kelompok "Wasum Fe" (peer educator) turut mendukung efektivitas penyampaian informasi. Penggunaan fitur edukasi digital dan pendampingan oleh teman sebaya memberikan kemudahan akses informasi bagi remaja putri serta menciptakan lingkungan sosial yang mendukung literasi kesehatan terkait anemia.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan tingkat pengetahuan peserta setelah diberikan penyuluhan mengenai anemia. Sebelum intervensi, sebagian besar peserta telah memiliki pengetahuan baik sebanyak 43 orang (87,8%), sedangkan kategori kurang sebanyak 6 orang (12,2%). Setelah dilakukan penyuluhan, jumlah peserta dengan pengetahuan baik meningkat menjadi 46 orang (93,9%) dan kategori kurang menurun menjadi 3 orang (6,1%). Peningkatan ini diperkuat oleh hasil uji Wilcoxon Signed Ranks Test dengan nilai Z = -3,455 dan p = 0,001 (p < 0,05), yang menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah penyuluhan. Artinya, penyuluhan yang diberikan efektif dalam meningkatkan pengetahuan responden tentang anemia.
Secara teoritis, hasil ini menegaskan efektivitas penyuluhan sebagai bentuk behavior change communication yang mampu mengubah tingkat pengetahuan dan memengaruhi perilaku kesehatan remaja. Pengetahuan merupakan determinan awal dari perubahan perilaku yang lebih kompleks, seperti kepatuhan konsumsi tablet tambah darah (TTD) dan pola makan bergizi seimbang. Dengan demikian, peningkatan pengetahuan pasca penyuluhan menjadi fondasi penting dalam upaya menurunkan prevalensi anemia di kalangan remaja putri (Dheasya & Nuradhiani, 2025; Nurbaya et al., 2023; Taufiqurrahman et al., 2025). Strategi edukatif yang menggabungkan pendekatan peer education, media digital, dan keterlibatan sekolah terbukti mampu memperkuat efek intervensi terhadap perubahan perilaku kesehatan. Kolaborasi lintas sektor yang melibatkan puskesmas, sekolah, pemerintah daerah, serta kade juga menjadi kunci untuk memperluas dampak program dan memastikan keberlanjutan hasil edukasi.
Berdasarkan analisis korelasi Spearman’s rho, diperoleh koefisien korelasi ρ = ‑0,043 dengan p‑value = 0,768 (N = 49). Nilai p > 0,05 menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan secara statistik antara perubahan skor pengetahuan (selisih post‑test dan pre‑test) dengan usia responden. Koefisien korelasi yang mendekati nol menunjukkan bahwa arah maupun kekuatan hubungan hampir tidak ada, sehingga usia peserta tidak berpengaruh terhadap besarnya peningkatan pengetahuan setelah penyuluhan.
Tabel 3. Uji Korelasi Selisih Pengetahuan dan Usia
Variabel 1 | Variabel 2 | Koefisien Korelasi | Sig. (2-tailed) | N | Keterangan |
|---|---|---|---|---|---|
Selisih pengetahuan (post-pre) | Usia | -0,043 | 0,768 | 49 | Tidak Terdapat hubungan signifikan (p > 0,05) |
Kondisi ini dapat dipahami karena sebagian besar responden berada dalam rentang usia 10–24 tahun, sehingga variasi usia relatif kecil dan tidak memunculkan perbedaan respons yang berarti. Temuan ini sejalan dengan penelitian Mayasari pada tahun 2022 ke remaja putri di SMA N 07 Padang yang menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan tentang anemia dan status anemia pada kelompok usia 10–18 tahun. Selain itu, meta‑analisis pendidikan gizi pada remaja putri usia 12–19 yang dilakukan oleh Febrianti tahun 2023 menunjukkan bahwa usia tidak berperan sebagai faktor yang sangat memengaruhi dalam peningkatan pengetahuan tentang anemia. Dengan demikian, dalam penelitian ini faktor usia bukan determinan utama dalam perubahan pengetahuan setelah penyuluhan. Efektivitas intervensi lebih dipengaruhi oleh kualitas penyuluhan dan kesesuaian materi dengan karakteristik peserta (Febrianti et al., 2023; Mayasari et al., 2022).
Tabel 4. Uji Korelasi Selisih Pengetahuan dan Pendidikan
Variabel 1 | Variabel 2 | Koefisien Korelasi | Sig. (2-tailed) | N | Keterangan |
Selisih pengetahuan (pre-post) | Kategori pendidikan | -0,055 | 0,701 | 49 | Tidak terdapat hubungan signifikan (p > 0,05) |
Berdasarkan hasil analisis korelasi Spearman’s rho, diperoleh koefisien korelasi ρ = ‑0,055 dengan p‑value = 0,701 (N = 49). Karena p > 0,05, maka tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara perubahan skor pengetahuan (selisih post‑test minus pre‑test) dengan kategori pendidikan responden. Nilai koefisien yang sangat mendekati nol menunjukkan bahwa kekuatan dan arah hubungan hampir tidak ada, artinya tingkat pendidikan terakhir peserta tidak menunjukkan pola yang jelas terkait besarnya peningkatan pengetahuan setelah intervensi. Kondisi ini dapat dipahami karena sebagian besar responden memiliki pendidikan dasar hingga menengah sehingga variasi pendidikan relatif terbatas dan tidak menghasilkan perbedaan respons yang bermakna terhadap penyuluhan. Dalam konteks penelitian ini, kategori pendidikan terakhir tidak menjadi faktor penentu utama dalam efektivitas penyuluhan pengetahuan tentang anemia di kalangan wanita Gen‑Z di Desa Sungai Durait Hulu.
Hal ini diperkuat oleh temuan dari studi terbaru. Adapun penelitian oleh Zakiah dkk tahun 2023 pada remaja putri di Kalimantan Timur menunjukkan bahwa meskipun edukasi gizi secara signifikan meningkatkan pengetahuan, analisis variabel demografis seperti tingkat pendidikan tidak menunjukkan peran yang signifikan terhadap perubahan pengetahuan (Zakiah et al., 2023). Selain itu, kajian sistematis oleh Yanisah & Widati tahun 2023 yang menelaah efektivitas penyuluhan anemia pada remaja menunjukkan bahwa faktor demografis seperti pendidikan belum terbukti secara konsisten memengaruhi perubahan pengetahuan (Yanisah & Widati, 2023). Sehingga, hasil penelitian ini mendukung kesimpulan bahwa ketika intervensi penyuluhan dirancang dengan baik yakni sesuai karakteristik peserta, menyampaikan materi yang relevan dan mudah dipahami maka perbedaan tingkat pendidikan antara peserta tidak secara otomatis menghasilkan perbedaan respons yang signifikan. Faktor utama keberhasilan lebih terletak pada kualitas penyuluhan dan keterlibatan peserta daripada latar belakang pendidikan sebelumnya.
Penyuluhan melalui program WAGAS ANEMIA terbukti efektif meningkatkan pengetahuan remaja putri di Desa Sungai Durait Hulu mengenai anemia. Meskipun evaluasi terhadap perubahan perilaku dan kadar hemoglobin belum diukur secara kuantitatif dalam tahap ini, peningkatan pengetahuan yang signifikan menjadi fondasi penting bagi perubahan perilaku di masa depan. Efektivitas penyuluhan ditentukan oleh kualitas materi, metode penyampaian yang interaktif, serta pemanfaatan teknologi dan peran peer educator yang memudahkan pemahaman peserta.
/
Pengabdian kepada Masyarakat ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi yang telah memberikan dukungan pendanaan terhadap kegiatan ini. Apresiasi juga diberikan kepada Kepala Desa Sungai Durait Hulu, Kecamatan Babirik, beserta jajaran perangkat desa atas dukungan dan fasilitasi yang diberikan selama proses pelaksanaan, Remaja putri di Desa Sungai Durait Hulu atas partisipasi aktif mereka, serta kepada seluruh pihak yang turut berkontribusi sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik.
Para penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. (2023). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/hasil-ski-2023/
Dheasya, W. P., & Nuradhiani, A. (2025). Penyuluhan “Ayo Cegah Anemia” (ACEMIA) untuk Remaja Putri di SMP Negeri 6 Kota Serang: Let’s Prevent Anemia’ (ACEMIA) Counseling for Adolescent Girls at SMP Negeri 6 Kota Serang. Jurnal Pengabdian Dan Pengembangan Masyarakat Indonesia, 4(1), 19–23. https://doi.org/10.56303/jppmi.v4i1.233
Dinas Kesehatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. (2023). Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKj IP) Dinas Kesehatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan Tahun 2022. Dinas Kesehatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Dinas Kesehatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. (2024). Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKj IP) Dinas Kesehatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan Tahun 2024. Dinas Kesehatan Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Fanny, L., Junadi, N. A., & Mas’ud, H. (2025). Iron Supplement Compliance, Nutrition, and Anemia in SMPN 33 Makassar. Media Gizi Pangan, 32(2), 35–43. https://doi.org/10.32382/mgp.v32i2.1614
Fayasari, A., Salsabila, A. R., Lutfiana, A., Nada, A. Q., Virginia, L. P., Yanti, M. P., Romadhona, N. A., Sulistia, P., Mariska, R., & Fauziah, R. (2023). Pencegahan Dini Anemia pada Remaja Putri Awal di SMP Al’Araf Indonesia melalui Edukasi dan Demo Masak CamilanTinggi Zat Besi. Jurnal Pengabdian Dan Pengembangan Masyarakat Indonesia, 2(2), 112–117. https://doi.org/10.56303/jppmi.v2i2.183
Febrianti, K. D., Ayu, W. C., Anidha, Y., & Mahmudiono, T. (2023). Effectiveness of Nutrition Education on Knowledge of Anemia and Hemoglobin Level in Female Adolescents Aged 12-19 Years: A Systematic Reviews and Meta-Analysis: Efektivitas Edukasi Gizi Pada Pengetahuan Terkait Anemia dan Kadar Hemoglobin Remaja Putri Usia 12-19 Tahun: Tinjauan Sistematis dan Meta Analisis. Amerta Nutrition, 7(3), 478–486. https://doi.org/10.20473/amnt.v7i3.2023.478-486
Fente, B. M., Asnake, A. A., Negussie, Y. M., Asmare, Z. A., Asebe, H. A., Seifu, B. L., Melkam, M., & Bezie, M. M. (2025). Estimating the impact of maternal anemia on low-birth-weight in Sub-Saharan African countries: Propensity score matching analysis. BMC Pregnancy and Childbirth, 25, 783. https://doi.org/10.1186/s12884-025-07923-3
Fitriani, D., Ma’rifatullah, F. R., Nurliah, N., Hernawati, H., Sari, Y. P., Ananda, A. S., Hapzah, H., Najdah, N., Yudianti, Y., Arief, E., Hasyim, M., & Nurbaya, N. (2024). Edukasi Gizi Seimbang pada Siswa SMA di Sulawesi Barat. Jurnal Pengabdian Dan Pengembangan Masyarakat Indonesia, 3(2), 76–82. https://doi.org/10.56303/jppmi.v3i2.272
Kaur, N., Agarwal, A., & Sabharwal, M. (2022). Food fortification strategies to deliver nutrients for the management of iron deficiency anaemia. Current Research in Food Science, 5, 2094–2107. https://doi.org/10.1016/j.crfs.2022.10.020
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Buku Saku Pencegahan Anemia Pada Ibu Hamil dan Remaja Putri. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Koerniawati, R. D., Siregar, M. H., & Sartika, R. S. (2021). Hubungan Pengetahuan tentang Anemia dengan Asupan Zat Besi pada Ibu Hamil di Cadasari, Pandeglang. Jurnal Gizi Kerja Dan Produktivitas, 2(2), 61–68. https://doi.org/10.62870/jgkp.v2i2.13158
Kumari, R., Bharti, R. K., Singh, K., Sinha, A., Kumar, S., Saran, A., & Kumar, U. (2017). Prevalence of Iron Deficiency and Iron Deficiency Anaemia in Adolescent Girls in a Tertiary Care Hospital. Journal of Clinical and Diagnostic Research : JCDR, 11(8), BC04–BC06. https://doi.org/10.7860/JCDR/2017/26163.10325
Mayasari, N., Devita, H., & Utami, A. (2022). The Relationship of Knowledge About Anemia with Anemia Satus in Adolescent Women in SMA N 07 Padang. JURNAL IBU DAN ANAK, 10(2), 82–87. https://doi.org/10.36929/jia.v10i2.593
Nurbaya, Najdah, N., Irwan, Z., & Saleh, M. (2023). Peningkatan Pengetahuan Gizi dan Anemia pada Remaja melalui Pelatihan Pembuatan Media Promosi. Jurnal Pengabdian Dan Pengembangan Masyarakat Indonesia, 2(1), 28–33. https://doi.org/10.56303/jppmi.v2i1.123
Suprapti, E., Hadju, V., Ibrahim, E., Indriasari, R., Erika, K. A., & Balqis, B. (2025). Anemia: Etiology, Pathophysiology, Impact, and Prevention: A Review. Iranian Journal of Public Health, 54(3), 509–520. https://doi.org/10.18502/ijph.v54i3.18244
Taufiqurrahman, T., Hafid, F., Mujayanto, M., Sumasto, H., Nuswantari, A., & Arifah, J. N. (2025). Peningkatan Pengetahuan Pencegahan Anemia Melalui Edukasi Interaktif bagi Remaja Putri di SMP Negeri 2 Balerejo: Increasing Knowledge of Anemia Prevention Through Interactive Education for Young Women at SMP Negeri 2 Balerejo. Jurnal Pengabdian Dan Pengembangan Masyarakat Indonesia, 4(2), 407–414. https://doi.org/10.56303/jppmi.v4i2.910
Tirtawati, G. A., Kusmiyati, K., Lontaan, A., Memah, H., Nuratni, N. K., Rahmadani, S., & Nurhamidah, N. (2023). Edukasi Kesehatan Tentang Manfaat Buah Naga Dan Anemia Serta Pemeriksaan Hemoglobin Pada Ibu Hamil Di Desa Kalasey Dua, Mandolang, Minahasa. Jurnal Pengabdian Dan Pengembangan Masyarakat Indonesia, 2(2), 118–121. https://doi.org/10.56303/jppmi.v2i2.164
Yanisah, B. F., & Widati, S. (2023). Is Health Education On Anemia Increasing Iron Supplementation Consumption In Adolescent Girls? : A Systematic Review. Jurnal Promkes: The Indonesian Journal of Health Promotion and Health Education, 11(1SI), 46–51. https://doi.org/10.20473/jpk.V11.I1SI.2023.46-51
Zakiah, S., Toaha, A., Abri, N., & Wahyutri, E. (2023). The Effect of Nutrition Education on Knowledge, Attitudes, and Iron Intake in Adolescent Girls. Journal of Health and Nutrition Research, 2(3), 131–139. https://doi.org/10.56303/jhnresearch.v2i3.174