e-ISSN: 2830-2567 | Beranda Jurnal
1 Jurusan Gizi, Poltekkes Kemenkes Pontianak, Indonesia
Program pemberdayaan ibu untuk mencegah malnutrisi anak melalui pemanfaatan pangan lokal dan praktik responsive feeding dilaksanakan di Desa Rasau Jaya II, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku ibu dalam pemberian makan balita yang tepat serta mendorong pemanfaatan pangan lokal sebagai sumber gizi. Metode pelaksanaan meliputi identifikasi bahan pangan lokal, uji coba resep, edukasi gizi, praktik langsung responsive feeding, dan evaluasi menggunakan observasi perilaku ibu serta metode Comstock untuk mengukur sisa makanan. Sasaran pada kegiatan ini adalah ibu dengan balita berjumlah 36. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada perilaku pemberian makan ibu, di mana ibu yang sangat responsif meningkat dari 11% menjadi 75%. Sebagian besar balita (62%) mampu menghabiskan porsi makanannya, menunjukkan penerimaan baik terhadap pangan lokal. Kegiatan ini juga memperkuat kapasitas kader posyandu dalam edukasi dan pendampingan ibu balita. Program ini terbukti efektif meningkatkan praktik pemberian makan yang positif dan dapat direplikasi sebagai model intervensi gizi berbasis masyarakat di tingkat desa.
The Mother Empowerment Program to prevent child malnutrition through the utilization of local food and responsive feeding practices was implemented in Rasau Jaya II Village, Kubu Raya Regency, West Kalimantan. This program aimed to improve mothers’ knowledge, skills, and behavior in proper child feeding while promoting the use of local food as a nutritional source. The implementation methods included identifying local food ingredients, recipe testing, nutrition education, hands-on responsive feeding practice, and evaluation through maternal feeding behavior observation and the Comstock method to measure food leftovers. The target of this activity is mothers with toddlers totaling 36. The results showed a significant improvement in mothers’ feeding behavior, with highly responsive mothers increasing from 11% to 75%. Most children (62%) finished their meals, indicating good acceptance of local foods. The program also strengthened the capacity of posyandu cadres in conducting nutrition education and supporting mothers. This community-based intervention proved effective in enhancing positive feeding practices and can serve as a replicable model for nutrition improvement at the village level.
Keywords: Mother empowerment, child malnutrition, local food, responsive feeding, nutrition education
• Program pemberdayaan ibu melalui praktik responsive feeding efektif meningkatkan perilaku positif dalam pemberian makan balita.
• Pemanfaatan pangan lokal seperti pakis, ubi, ikan gabus, ayam kampung, dan pepaya terbukti diterima dengan baik oleh anak dan berpotensi memperkuat ketahanan pangan keluarga.
• Edukasi berbasis praktik langsung lebih efektif dibandingkan penyuluhan satu arah dalam meningkatkan keterampilan ibu.
• Keterlibatan kader posyandu memperkuat keberlanjutan program dan menjadi agen perubahan perilaku gizi di masyarakat.
• Model intervensi berbasis masyarakat ini dapat direplikasi di desa lain sebagai upaya berkelanjutan untuk menurunkan prevalensi stunting
Malnutrisi pada balita, termasuk stunting (pendek), wasting (kurus), dan underweight (berat badan kurang), adalah masalah kesehatan masyarakat global yang serius. Secara global, kekurangan gizi menyumbang 45% kematian pada anak di bawah lima tahun dan secara langsung memengaruhi pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan kualitas hidup anak di masa depan (Azka Zaheer et al., 2023; Ramadhania et al., 2025)
Indonesia telah menunjukkan keberhasilan dalam percepatan penurunan stunting, di mana prevalensinya menurun dari 21,5% (2023) menjadi 19,8% (2024), melampaui target nasional. Namun, prevalensi stunting Indonesia masih termasuk salah satu yang tertinggi di kawasan ASEAN (Christiantoko, 2025). Selain itu, meskipun kasus wasting (kurus) menurun, angka anak dengan underweight (berat badan kurang) justru meningkat dari 15,9% (2023) menjadi 16,8% (2024). Peningkatan underweight ini patut menjadi perhatian karena berisiko tinggi menyebabkan gagal tumbuh lainnya, termasuk stunting (Ery et al., 2024).
Penyebab malnutrisi sangat kompleks, melibatkan faktor-faktor mulai dari status sosial-ekonomi yang rendah, infeksi, kebiasaan diet yang kurang protein, hingga masalah sanitasi dan kebersihan (Wijayanto, 2023 ; Arintasari & Puteri, 2022). WHO membagi penyebab stunting dalam empat kategori besar: faktor keluarga/rumah tangga, makanan tambahan yang tidak adekuat, menyusui, dan infeksi (WHO, 2013).
Dalam rangka mengatasi kompleksitas ini, intervensi yang berfokus pada peningkatan kapasitas ibu menjadi krusial. Salah satu upaya yang efektif adalah program pemberdayaan ibu melalui pemanfaatan pangan lokal dan edukasi praktik Responsive Feeding. Kegiatan ini diharapkan bisa meningkatkan pengetahuan dan pengalaman ibu dalam memberikan makan pada anak dengan praktik Responsive Feeding dan pemanfaatan pangan lokal. Responsive Feeding menekankan pada kemampuan pengasuh untuk memberi makan anak sesuai usia, merespons isyarat lapar/kenyang anak, dan memberikan makanan dalam interaksi yang positif (Tane et al., 2023). Sementara upaya pengenalan pangan lokal sejak dini penting sebagai sarana menambah literasi rasa, tekstur dan aroma pada anak (Inten & Permatasari, 2019).
Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Rasau Jaya II, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, dengan dua alasan. Alasan pertama adalah tingginya prevalensi malnutrisi, dimana masih ditemukan stunting (25,2%), underweight (20,2%), dan obesitas (17,5%). Sementara alasan kedua adalah tingkat pengetahuan gizi ibu masih rendah (47,5% kategori kurang).
Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan kapasitas ibu dalam mendampingi anak ketika makan sehingga anak bisa makan dengan baik ditandai dengan hubungan yang sehat dalam respon terhadap makanan dan meminimalisasi sisa makanan.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Posyandu Pertiwi Desa Rasau Jaya II, Kecamatan Rasau Jaya Kabpaten Kubu Raya, Kalimantan Barat pada tanggal 12 September 2025. Sasaran kegiatan ini adalah balita dan ibu balita yang terdaftar di Posyandu Pertiwi, sebanyak 36 ibu dan balita. Rangkaian kegiatan ini dilaksanakan di rumah warga yang bisa menampung setidaknya 15 balita dan ibunya. Kegiatan yang dilakukan adalah menyediakan menu, menyuruh ibu balita memilih dan menyajikan makanan, ibu balita menyuapi anaknya. Sambil memberikan makanan, dilakukan edukasi tentang responsive feeding, diamati proses pemberian makan dan dievaluasi sisa makanan dengan metode comestock. Metode ini adalah untuk menilai sisa makanan secara visual. Pengamatan dilakukan pada hidangan sebelum makan dan setelah makan. Hasil ukurnya adalah persentase sisa makanan dengan katagori adalah: makanan tidak dimakan (sisa 100%), sisa 75 %, sisa 50%, sisa 25% dan sisa 0% (makanan habis). Metode estimasi visual (comestock) terbukti valid dan reliabel untuk memperkirakan asupan makanan pada pasien dengan berbagai tingkat gangguan makan (Amano & Nakamura, 2018)
Adapun tahap yang dilakukan dalam pengabdian masyarakat, adalah:
Persiapan
a. Rapat Persiapan. Rapat ini bertujuan untuk mensosialisasikan alur kegiatan, membahas pembagian tugas dan peran masing-masing anggota, serta menyiapkan segala kebutuhan teknis maupun administrasi pelaksanaan. Pada rapat ketua tim menyampaikan rencana kegiatan diawali dengan identifikasi bahan pangan lokal di Desa Rasau Jaya Umum.
b. Identifikasi Bahan Pangan Lokal. Identifikasi dilakukan melalui observasi di pasar tradisional serta mewawancara beberapa ibu rumah tangga. Bahan pangan yang telah diinventarisasi kemudian diseleksi sebagai kandidat resep, yang selanjutnya diuji coba di Laboratorium Gizi Poltekkes Kemenkes Pontianak.
c. Pembuatan Menu dan Uji Coba Resep. Uji coba ini mencakup penilaian cita rasa, dan resep akhir ditentukan melalui kesepakatan tim. Resep terpilih digunakan sebagai menu utama pada praktik responsive feeding di posyandu.
Perijinan dan Kordinasi
a. Pengurusan perizinan dan kordinasi kegiatan ke pemerintahan Desa Rasau Jaya.
b. Kordinasi dengan pihak puskesmas Rasau Jaya untuk menentukan lokasi pengabdian masyarakat
c. Kordinasi dengan metode Focus Group Discussion bersama kader yang bertujuan untuk menggali kesiapan dan potensi kader untuk terlibat pada kegiatan.
Pelaksanaan Kegiatan
1. Pelaksanaan dilakukan bersamaan dengan kegiatan Posyandu Pertiwi dimulai dari jam 09.00 – 11.30
2. Penyediaan bahan makanan dan pengolahan makanan dilakukan oleh kader dengan menu yang sudah disepakati dan dilakukan uji coba di laboratorium kuliner Jurusan Gizi Poltekkes Pontianak
3. Disediakan keran cuci tangan untuk memastikan higyene dan kebersihan tangan sebelum makan
4. Makanan disajikan secara prasmanan, dan saat ibu balita mengambil makanan, dilakukan pengawasan untuk melihat ketepatan pemorsian.
5. Jumlah peserta 36 balita yang datang secara bergantian dan dibuat kelompok kecil sesuai dengan waktu kedatangan
6. Konseling dilakukan saat orang tua menyuapi atau mendampingi balita makan
7. Pengamatan terhadap respon feeding dilakukan oleh mahasiswa dengan checklist penilaian responsive feeding. Pengamatan dilakukan dua kali, sebelum dan sesudah dilakukan konseling.
8. Pengukuran makan sisa dengan metode comstock
Evaluasi
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Desa Rasau Jaya dilaksanakan melalui beberapa tahapan terstruktur, dimulai dari persiapan tim, koordinasi dengan pemerintah desa, hingga pelaksanaan edukasi gizi dan praktik responsive feeding. Hasil kegiatan menunjukkan capaian yang positif, baik dari sisi peningkatan pengetahuan, keterampilan, maupun perubahan perilaku ibu balita.
Sebelum intervensi, hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar ibu (60%) masih tergolong kurang responsif dalam pemberian makan balita. Perilaku ini ditandai dengan kebiasaan memaksa anak, kurang memperhatikan sinyal lapar dan kenyang, serta minim interaksi positif saat makan. Kondisi tersebut sejalan dengan temuan (UNICEF 2021) yang menyebutkan bahwa praktik pemberian makan yang tidak responsif berkontribusi pada rendahnya asupan gizi anak dan risiko stunting.
Setelah dilakukan edukasi dan pendampingan, terjadi perubahan yang signifikan. Persentase ibu yang sangat responsif meningkat menjadi 70%, sedangkan yang responsif 20%, dan hanya 10% yang masih kurang responsif. Hal ini menunjukkan efektivitas intervensi dalam meningkatkan praktik pengasuhan makan. Pendekatan praktik langsung terbukti lebih efektif dibandingkan hanya penyuluhan satu arah, karena ibu dapat langsung mengamati, mencoba, dan mendapatkan umpan balik dari fasilitator (WHO 2003)
Selain aspek perilaku, kegiatan juga menilai daya terima makanan balita menggunakan metode Comstock. Hasilnya, 62% balita mampu menghabiskan porsi makanan berbasis pangan lokal, 25% menyisakan sedikit, sementara 15%–20% menyisakan cukup banyak. Fakta ini menunjukkan bahwa pangan lokal seperti pakis, ubi, ikan gabus, ayam kampung, dan pepaya dapat diterima anak jika diolah dengan tepat. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Hakim and Fitriani 2024) yang menyatakan bahwa diversifikasi pangan lokal berperan penting dalam peningkatan status gizi anak sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini dapat meningkatkan kapasitas kader posyandu yang berperan sebagai agen perubahan di masyarakat. Kader tidak hanya membantu dalam penyuluhan, tetapi juga ikut dalam praktik pengolahan pangan dan pendampingan ibu. Hal ini penting karena keberlanjutan program sangat bergantung pada peran kader dan mitra lokal. Dukungan pemerintah desa melalui penyediaan sarana dan fasilitasi sosialisasi turut memperkuat pelaksanaan kegiatan, sesuai dengan pendekatan multisektor yang direkomendasikan dalam Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Stunting (TNP2K) 2024)
Secara keseluruhan, kegiatan ini membuktikan bahwa intervensi berbasis masyarakat yang memadukan edukasi, praktik responsive feeding, dan pemanfaatan pangan lokal efektif dalam meningkatkan kualitas pengasuhan serta gizi anak. Dengan dukungan lintas sektor, program ini dapat menjadi model intervensi yang berkelanjutan dan berkontribusi nyata terhadap upaya penurunan prevalensi stunting di tingkat desa.
Hasil pengamatan disajikan dalam tabel 1 tentang evaluasi makanan sisa dan tabel 2 tentang praktek ibu dalam pemberian makan atau mendampingi balita makan. Dari tabel 1 diperoleh informasi bahwa masih ada 1 balita yang sisa makanya hingga 75 %. Atas konfirmasi ibunya, balita tersebut memang dua hari belakangan sedang mengalami sulit makan, dan makan hari ini adalah yang paling baik dari hari sebelumnya. Bisa jadi ini berhubungan dengan motivasi yang diberikan kepada ibu agar anaknya bisa makan dengan baik. Sebagaimana diketahui bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan ibu dengan perilaku makan pada balita (Mahmood et al., 2021).
Pada anak yang 50% tidak menghabiskan makan, diantaranya memang ada yang mengambilnya terlalu banyak. Penyajian memang penting untuk memastikan balita bisa merasa nyaman ketika makan. Anak yang makan bukan dari piring biasa makan akan mengalami masalah dengan sisa makanan. Sebagaimana disarankan bahwa sebaiknya anak makan menggunakan piring tersendiri untuk memastikan anak memakan semua makanan yang diberikan (Sukmawati & Sirajuddin, 2019). Sebagian yang lain adalah baru pulang dari sekolah (PAUD) dan setiap hari Jumat selalu diberikan makanan tambahan. Artinya anak baru saja makan di tempat dia sekolah. Menurut Bonnin (2006) dalam Febriyanti et al., (2024) menjelaskan bahwa dalam penerapan basic feeding rules orang tua harus mengatur apa, kapan dan di mana anaknya diberi makan. Sangat penting diperhatikan adalah isyarat rasa lapar dan kenyang mereka (Febriyanti et al., 2024).
Tabel 1 Penilaian Sisa Makanan Metode Comstock
Persen Sisa | Jumlah Balita | % |
0 % | 8 | 22,2 |
25 % | 22 | 61,1 |
50 % | 5 | 13,9 |
75 % | 1 | 2,8 |
100 % | 0 | 0,0 |
Jumlah | 36 | 100,0 |
Hasil pengamatan pada respon feeding setelah dilakukan pendampingan tim pengabdi saat balita makan terlihat ibu telah memberikan makan balitanya dengan baik dengan mempraktekkan responsif feeding. Pada saat makan ibu mengajak balitanya berbicara, memberikan perhatian penuh, menyuapi balitanya dengan sabar. Bagi balita yang sudah dapat makan sendiri ibu mendampingi makan balita dengan sabar. Hal ini menunjukkan sebagian ibu sudah baik dalam mempraktekkan responsive feeding saat memberi balita makan. Terlihat pada tabel 2, terjadi penurunan setelah konseling pada yang kurang responsif dari 8 balita menjadi 0 balita dan terjadi kenaikan pada yang sangat responsif, yaitu dari 4 balita menjadi 27 balita.
Tabel 2. Perilaku Ibu dalam Pemberian Makan Balita Sebelum dan Setelah Konseling
Kategori Responsif Feeding | Sebelum Konseling | Setelah Konseling | ||
Jumlah | % | Jumlah | % | |
Kurang Responsif/ kurang memberi perhatian lebih | 8 | 22,0 | 0 | 0,0 |
Responsif (memberi makan balita biasa saja) | 24 | 67,0 | 9 | 25,0 |
Sangat Responsif (memberi perhatian lebih) | 4 | 11,0 | 27 | 75,0 |
Jumlah | 36 | 100,0 | 36 | 100,0 |
Konseling yang dilakukan adalah memberikan pengetahuan dan pengalaman praktis dalam mendampingi makan pada balita. Seperti diketahui bahwa praktik pemberian makan yang diterapkan orang tua sangat berpengaruh dalam membentuk kebiasaan makan anak, serta dapat mempromosikan atau menghambat pola makan sehat (Vik et al., 2021). Oleh karena itu, membuat hubungan yang harmonis orang tua dengan anak selama waktu makan menjadi sangat penting. Ini adalah salah satu sarana efektif untuk memperbaiki pola makan yang bergizi dan perilaku makan yang adaptif pada anak-anak (Mahmood et al., 2021; Costa & Oliveira, 2023) . Pendapat lain dikatakan bahwa pola asuh orang tua memegang peranan krusial dalam pertumbuhan dan perkembangan psikologis anak, kemampuan bersosialisasi, kemandirian, serta penanganan perilaku sulit makan (Riswan & Yunitasari, 2020).
Pada akhirnya pentingnya pengetahuan ibu tentang pola makan anak menjadi kunci. Sebuah penelitian dilakukan di Gunung Kidul tentang pemberian makan pada anak yang menunjukkan bahwa pengetahuan pengasuh memberikan pengaruh terhadap proses makan pada anak (Ngaisyah & Avianty, 2020). Untuk itu intervensi berupa penyuluhan menu bergizi memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan perilaku menyuapi aktif pada ibu balita dari tahap awal ke tahap aktif (Safira et al., 2025)
Kegiatan ini juga berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader posyandu yang berperan penting sebagai penggerak perubahan perilaku di masyarakat. Para kader terlibat aktif dalam proses edukasi, pendampingan praktik, serta menjadi mitra strategis dalam menjaga keberlanjutan program. Melalui kegiatan ini, kader memperoleh pengalaman langsung dalam mengenalkan praktik responsive feeding kepada ibu-ibu binaan di posyandu, serta mampu mengidentifikasi potensi lokal yang bisa dioptimalkan dalam mendukung pemenuhan gizi anak di wilayahnya. Secara keseluruhan, kegiatan PkM ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan kapasitas ibu/pengasuh balita dalam menyiapkan makanan yang sehat dan bergizi serta menerapkan praktik pemberian makan yang lebih responsif. Peningkatan perilaku ini diharapkan dapat mendukung perbaikan status gizi anak secara berkelanjutan dan berkontribusi dalam upaya pencegahan stunting di tingkat desa
Hasil kegiatan menunjukkan capaian yang positif, baik dari sisi peningkatan pengetahuan, keterampilan, maupun perubahan perilaku ibu balita. Kegiatan ini juga mampu meningkatkan kesadaran keberagaman makanan lokal bisa diolah dan diterima oleh balita dengan pendekatan response feeding. Perlu ada modifikasi kegiatan menjadi lebih baik, yaitu dengan memilih hari yang tepat dan jumlah peserta dibatasi pada balita yang mempunyai masalah pertumbuhan. Pembatasan akan membuat kegiatan menjadi lebih efektif juga lebih solutif.
/
Pengabdian kepada masyarakat ini didanai oleh Politeknik Kesehatan Pontianak melaui DIPA Anggaran tahun 2025.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Kepala Puskesmas Rasau Jaya, Kepala Desa Rasau Jaya II dan kader Posyandu Pertiwi di Desa Rasau Jaya II.
Para penulis menyatakan tidak ada konflik kepentingan.
Amano, N., & Nakamura, T. (2018). Accuracy of The Visual Estimation Method as A Predictor of Food Intake in Alzheimer’s Patients Provided with Different Types of Food. Clinical Nutrition ESPEN, 23, 122–128. https://doi.org/10.1016/j.clnesp.2017.11.003
Arintasari, F., & Puteri, I. R. P. (2022). Analisis Stunting 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dengan Perilaku Responsive Feeding dan Pemberian Therapy Massage Eating Difficulties untuk Menunjang Tumbuh Kembang. The Shine Cahaya Dunia Ners, 7(01). https://doi.org/10.35720/tscners.v7i01.340
Azka Zaheer, Qurrat-ul-Ain, Bushra Akhtar, Ali Sharif, & Dawood Naseer. (2023). Malnutrition in Children of Growing Age and the Associated Health Concerns. International Journal of Agriculture and Biosciences, 2, 153–161. https://doi.org/10.47278/book.oht/2023.55
Christiantoko. (2025). Indonesia Peringkat ke-3 Stunting Terburuk di ASEAN. https://nextindonesia.id/Update/2025/05/28/132/Indonesia-Peringkat-ke-3-Stunting-Terburuk-di-ASEAN#:~:text=Indonesia Peringkat ke-3 Stunting Terburuk di ASEAN - NEXT Indonesia Center
Costa, A., & Oliveira, A. (2023). Parental Feeding Practices and Children’s Eating Behaviours: An Overview of Their Complex Relationship. Healthcare, 11(3), 400. https://doi.org/10.3390/healthcare11030400
Ery, S. M., Puri, A. L., Nurhalimah, H. E., Ayu, N., Tamariska, M., Raihanah, & 5, Y. J. (2024). Studi Literatur: Keadaan Dan Penanganan Stunting Di Indonesia. IKRAITH-HUMANIORA, 8(2). https://doi.org/https://doi.org/10.37817/ikraith-humaniora.v8i2
Febriyanti, D., Mumpuni, R. Y., & Raharjo, P. (2024). Penerapan Basic Feeding Rules Berhubungan Dengan Status Gizi Anak Usia 1-3 Tahun Di Wilayah Puskesmas Janti Kecamatan Sukun. Nursing News : Jurnal Ilmiah Keperawatan, 8(2), 103–115. https://doi.org/10.33366/nn.v8i2.3051
Inten, D. N., & Permatasari, A. N. (2019). Literasi Kesehatan pada Anak Usia Dini melalui Kegiatan Eating Clean. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(2), 366. https://doi.org/10.31004/obsesi.v3i2.188
Mahmood, L., Flores-Barrantes, P., Moreno, L. A., Manios, Y., & Gonzalez-Gil, E. M. (2021). The Influence of Parental Dietary Behaviors and Practices on Children’s Eating Habits. Nutrients, 13(4), 1138. https://doi.org/10.3390/nu13041138
Ngaisyah, R. D., & Avianty, S. (2020). The Implementation of Complimentary Food on Stunted Children. Muhammadiyah Medical Journal, 1(1), 1. https://doi.org/10.24853/mmj.1.1.1-9
Ramadhania, S., Endah Mulyani, & Eka Srirahayu Ariestiningsih. (2025). Evaluation of Local Supplemental Food Program for Undernourished Toddlers. JURNAL KESMAS DAN GIZI (JKG), 7(2), 402–406. https://doi.org/10.35451/jkg.v7i2.2701
Riswan, R., & Yunitasari, E. (2020). Hubungan antara pengasuhan orangtua dengan masalah makan pada anak usia prasekolah. Majalah Kesehatan Indonesia, 1(1), 21–24. https://doi.org/10.47679/makein.011.42000005
Safira, N. N., Budiastutik, I., Marlenywati, & Trisnawati, E. (2025). Edukasi Menu Bergizi Terhadap Perilaku Menyuapi Aktif Ibu Balita. Avicenna: Jurnal Ilmiah, 19(3), 156–157. https://doi.org/10.36085/avicenna.v19i3.7321
Sukmawati, & Sirajuddin. (2019). Modul untuk Ibu Balita. Poltekkes Makasar. https://e-modul.poltekkes-mks.ac.id/file/modul/gizi/perawatan-anak-balita.pdf
Tane, R., Zuliawati, & Silalahi, N. (2023). Penerapan Online Responsive Feeding Checklist dan Peer Support Grup Ibu untuk Mencegah Stunting pada Anak Balita di Wilayah Puskesmas Tebing Syah Bandar. Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat, 6(12), 167–186.
Vik, F. N., Grasaas, E., Polspoel, M. E. M., Røed, M., Hillesund, E. R., & Øverby, N. C. (2021). Parental phone use during mealtimes with toddlers and the associations with feeding practices and shared family meals: a cross-sectional study. BMC Public Health, 21(1), 756. https://doi.org/10.1186/s12889-021-10757-1
WHO. (2013). Childhood Stunting: Context, Causes and Consequences. WHO.
Wijayanto, S. (2023). Faktor Resiko Malnutrisi Energi Protein pada Anak. Medika Alkhairaat : Jurnal Penelitian Kedokteran Dan Kesehatan, 5(3). https://doi.org/10.31970/ma.v5i3.127